Pagi Ojol, Sore Satpam: Perjuangan Iwan Menuju Gelar Doktor Anaknya

Kehidupan Iwan Budi, Seorang Pekerja Keras di Kota Surabaya



Di tengah kemegahan puluhan gedung pencakar langit di Surabaya, terdapat banyak orang yang bekerja keras dari pagi hingga malam untuk bertahan hidup dengan segala keterbatasan ekonomi. Salah satunya adalah Iwan Budi (53), seorang pria yang harus menjalani dua pekerjaan sekaligus demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Iwan bekerja sebagai satpam dan juga driver ojek online (ojol). “Biasanya pagi ngojek, sorenya baru kerja (satpam). Tapi, kalau shift saya pagi, ya berarti sorenya baru ngojek,” ujarnya saat ditemui di kantor tempatnya bekerja, Minggu (4/1/2026).

Dulu, kehidupannya tidak seperti ini. Iwan pernah merasakan gaji di atas UMK (Upah Minimum Kota), kantor yang nyaman, serta seragam dan sepatu mengkilap sebagai karyawan bank. Namun, karena tekanan pekerjaan yang semakin berat, pada 2016 ia memutuskan untuk mengundurkan diri.

Sejak saat itu, seluruh kehidupannya berubah. Usia yang tak lagi muda membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Ditambah lagi, Iwan harus menghadapi kenyataan ibunya mengidap komplikasi dan harus menjalankan beberapa operasi. Akibatnya, ia harus segera mencari pekerjaan.

Akhirnya, Iwan memutuskan untuk memulai bekerja sebagai driver ojol. “Waktu itu, saya harus jaga ibu, jadi buat ngisi waktu luang sewaktu enggak jaga, saya Gojek. Akhirnya keterusan sampai sekarang,” katanya.

Iwan biasanya memulai harinya pada pukul 07.00 WIB dengan menunggangi kuda besi tuanya. Dia berkeliling di setiap sudut Kota Surabaya, membawa puluhan penumpang di tengah terpaan panas maupun hujan. Dalam sehari, Iwan mampu menghasilkan kisaran Rp 200.000 sampai Rp 300.000 dari jerih payahnya sebagai driver ojol.

Meskipun banyak menghabiskan waktu di jalanan, Iwan mengaku merasa lebih bahagia. Sebab, dia bisa mendapatkan banyak cerita dan pengalaman menarik dari setiap perjalanan. “Selain emang keadaan ekonomi yang memaksa, tapi bisa berinteraksi, ketemu sama orang itu seperti reward bagi saya,” ujarnya.

Namun, cobaan kembali menghampirinya pada 2020 saat Pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Saat itu, semua orang diwajibkan beraktivitas dari rumah sehingga pendapatan dari ojek online turun drastis. Akibatnya, Iwan harus mencari pekerjaan lain.

Akhirnya, ia mulai bekerja sebagai satpam di sebuah instansi di Surabaya sampai sekarang. Meskipun pendapatannya masih pas-pasan, gajinya dari bekerja sebagai satpam sangat membantu dalam menutupi kebutuhan keluarga dan membayar cicilan utang.

“Ya lumayanlah bisa ngelunasi utang saya yang dulu-dulu karena harus nanggung biaya operasi ibu,” katanya.

Kini, Iwan harus menjalani dua pekerjaan sekaligus. “Kadang kalau saya lagi istirahat makan siang tetap saya hidupin aplikasinya, barangkali dapat (orderan pelanggan ojek) dekat-dekat sini bisa saya ambil,” ujarnya.

Kehidupan Hemat dan Kesuksesan Anak-anak

Tak hanya itu, trik hidup hemat juga diterapkannya demi menekan biaya pengeluaran dan dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Sehari-harinya, bapak dua anak itu biasanya akan membawa bekal untuk makan siang dan memilih untuk tidak ikut menongkrong dengan rekan kerjanya.

“Malahan kalau dulu sewaktu saya masih ngojek saja, biasanya makan siang saya pulang, terus nanti berangkat lagi. Kalau sekarang kan di sini (tempat kerja) ada kopi atau teh gratis juga,” ungkapnya.

Berkat semangat kerja keras dan pantang menyerah ditambah hidup hemat, Iwan mampu menyekolahkan kedua putranya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan, putra tertuanya berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai mendapat gelar doktor.

“Kalau saya itu prinsipnya selama dia ada niat buat sekolah lagi, sekolah saja, rezeki buat anak itu pasti selalu ada saja,” ujarnya.

Saat ini, Iwan juga harus merawat istrinya yang sedang menderita diabetes dan stroke selama 10 tahun terakhir. Walaupun hidup dengan serba kekurangan, menurut Iwan, kegigihan dan etos kerja harus tetap ditunjukkan kepada anak-anaknya agar tidak mengalami nasib serupa seperti dirinya.

“Karena anak itu meniru dari apa yang dikerjakan orang tua dan saya mau nasib anak saya lebih baik dari saya,” pungkasnya.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *