Bisnis  

PT Kimia Alam Subur Tawarkan Pengelolaan 500 Ton Sampah Harian di Samarinda Tanpa Beban APBD

Penyambutan Pemkot Samarinda terhadap Rencana Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

Pemerintah Kota Samarinda baru-baru ini menerima audiensi dari PT Kimia Alam Subur mengenai rencana pengelolaan sampah ramah lingkungan menggunakan metode Pirolisis Berbasis Produk (Waste to Product). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Walikota Lantai 2 pada Rabu (21/1/2026) dihadiri oleh jajaran OPD teknis, termasuk Kepala PUPR, Kepala Perkim, Plt. Kepala DLH, Kabag Hukum, Kabag Kerja Sama, serta Tim Walikota Akselerasi Pembangunan (TWAP).

Direktur PT Kimia Alam Subur, Erawan Widisono, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan prinsipal teknologi Co-Energy yang telah melakukan riset selama 20 tahun. Meski teknologi ini masih baru di Indonesia, ia menyatakan bahwa konsep tersebut telah terbukti di luar negeri.

“Konsep kami adalah waste to product. Teknologi pirolisis ini akan menghasilkan tiga jenis produk utama yaitu cairan petrokimia yang bisa menjadi bahan bakar, biochar (karbon aktif) untuk rekonstruksi tanah seperti lahan gambut, serta syngas yang digunakan kembali sebagai energi pembakaran reaktor,” ujar Erawan usai pertemuan di Balai Kota Samarinda, Rabu, (21/1/2025).

Salah satu poin penting dalam proposal tersebut adalah skema pembiayaan yang sepenuhnya berasal dari investor. PT Kimia Alam Subur menegaskan bahwa tidak akan membebani APBD Kota Samarinda sedikitpun dalam pembangunan maupun operasionalnya.

“Semuanya murni biaya dari investor. Kami (PT. Kimia Alam Subur) tidak membebani satu rupiah pun APBD Pemkot Samarinda. Harapan kami adalah kerja sama minimal selama 20 tahun dan kalau bisa dapat diperpanjang,” tegasnya.

Rencananya, satu unit reaktor yang akan dibangun memiliki kapasitas proses sebesar 25 ton per jam, atau mampu mengolah hingga 500 ton sampah per hari. Luas lahan yang dibutuhkan pun tergolong efisien, yakni hanya sekitar 2 hektar.

Walikota Samarinda menyambut baik tawaran ini, namun meminta detail proposal yang lebih mendalam untuk dikaji pada pertemuan berikutnya, terutama mengenai konsep kerja sama jangka panjang yang paling tepat bagi kedua belah pihak.

“Semoga ini bisa segera diimplementasikan dan dibangun di Samarinda sebagai solusi permanen pengelolaan sampah kota,” tutup Erawan.

Catatan Penting dari Pihak Dinas Lingkungan Hidup

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso, menjelaskan bahwa Walikota pada prinsipnya menyambut baik niat PT Kimia Alam Subur. Namun, ada beberapa catatan penting yang harus dipenuhi investor dengan nilai investasi sekitar US$ 40 juta atau sekitar Rp 680 miliar tersebut.

“Pak Wali (Andi Harun) menyambut baik, tapi ada beberapa catatan yang nanti harus dijelaskan kembali oleh pihak PT Kimia Alam Subur. Sangat detail sekali karena menyangkut kerja sama itu kan banyak kaitannya,” ujarnya.

Salah satu fokus utama Walikota Samarinda adalah aspek lingkungan dan keamanan. Suwarso menyebutkan bahwa PT Kimia Alam Subur belum menjelaskan secara rinci mengenai standar emisi yang akan digunakan, apakah lebih rendah dari insinerator, serta simulasi diversi emisi.

“Pak Wali mintanya lebih detail kembali, termasuk SOP kalau terjadi kedaruratan apa, kemudian tata cara pengelolaan limbah cairnya bagaimana. Tadi hanya dijelaskan di besarannya saja,” katanya.

Pihak PT Kimia Alam Subur berjanji akan menghadirkan mitra prinsipal teknologinya, Co-Energy dari Arab Saudi, untuk memberikan paparan teknis yang lebih mendalam pada pertemuan selanjutnya.

Persyaratan Kerja Sama yang Masih Dibahas

Disinggung terkait pola kerja sama, disepakati bahwa Pemkot Samarinda tidak akan mengeluarkan anggaran (tipping fee) dan hanya berkewajiban menyiapkan lahan 2 hektar serta suplai sampah 500 ton per hari. Namun, Suwarso mengungkapkan bahwa Walikota menyoroti porsi keuntungan daerah yang dinilai masih terlalu kecil.

“Dari trading carbon atau hasil produk, pemerintah kota akan diberikan 2,5 persen. Tadi Pak Wali sempat menanggapi kalau bentuk kerja sama seperti itu sangat kecil sekali,” jelasnya.

Ia juga bilang bentuk kerja sama yang lebih proporsional masih perlu dibahas ulang.

Keinginan Walikota Samarinda dalam Pengelolaan Sampah

Walikota Samarinda, menurut Suwarso, menginginkan agar semua sampah bisa terkelola tuntas tanpa residu.

“Kalau Pak Wali itu inginnya, kalau bisa diolah semuanya diolah semuanya. Tapi kan tidak bisa. Yang bisa dimasukkan ke dalam dalam reaktor ini kan yang organik. Yang anorganik seperti kaca, plastik itu enggak bisa. Berarti perlu pola baru lagi. Makanya Pak Wali minta dijelaskan secara detail, kita ketemu lagi nanti,” pungkasnya.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *