Buku Madilog: Karya yang Tidak Pernah Usang
Buku Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog) karya Tan Malaka tidak akan pernah mati. Adagium ini tepat menggambarkan sebuah mahakarya yang diterbitkan pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Meskipun sudah berusia lama, buku ini masih mendapat tempat strategis di toko buku Gramedia, termasuk di Gramedia Panakukkang Makassar.
Buku dengan sampul merah dan 560 halaman tersebut ditempatkan di deretan rak buku Best Seller, mudah ditemukan oleh konsumen. Meskipun karya lawas, Madilog telah mengalami cetakan baru. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan dalam buku ini tetap relevan di era kekinian.
Gagasan yang Masih Relevan
Gagasan yang terkandung dalam Madilog menjadi referensi dalam rentang waktu yang panjang. Di antara puluhan ribu buku baru yang terbit setiap pergantian generasi, Madilog tetap memegang peran penting. Keberadaannya layak diapresiasi sebagai karya original yang menjadi referensi dunia literasi di tanah air.
Bagi generasi kekinian yang hidup di era digitalisasi, mungkin akan tertarik untuk mengoleksi dan membaca Madilog. Karena butuh pengetahuan lebih untuk memahami isi buku tersebut. Isi buku yang berorientasi pada logika mustika, filsafat, ilmu alam, science dialektika, logika, dan pandangan madilog, sebagaimana tercantum dalam daftar isi.
Bagi yang pertama kali melihat dan membaca Madilog, mungkin akan merasa bosan dan tidak tertarik. Ini wajar mengingat gaya tulisan yang ilmiah, serta konteks penulisan saat itu. Saat itu, peristiwa dianggap sebagai takdir yang harus diterima sebagai realitas kehidupan. Termasuk praktek penjajahan oleh kolonialisme sebagai takdir yang menimpa bangsa Indonesia.
Logika Mistika yang Harus Dihancurkan
Menurut Tan Malaka, logika mistika ini adalah kesesatan pikir yang harus dihilangkan dari paradigma masyarakat Indonesia. Penjajahan bukanlah takdir, tapi praktek nyata kolonialisme untuk menguras kekayaan alam Indonesia. Neo-kolonialisme juga berlangsung di era kekinian lewat dominasi ekonomi oleh pemodal besar.
Logika mistika menurut Tan Malaka dalam Madilog berangkat dari kesesatan pikir. Sehingga tidak melihat peristiwa (materialisme) sebagai realitas, dalam pendekatan rasional dan logis. Kesesatan pikir ini membuat Indonesia sulit maju dan berpotensi mundur. Oleh karena itu, kesesatan berpikir harus dirubah dengan pendekatan Madilog agar menghadirkan pikiran yang lebih terbuka dan maju.
Kesesatan Pikir di Era Digital
Kesesatan pikir di era digitalisasi justru semakin menjadi. Bukan hanya dilingkup masyarakat awam, namun juga di tingkat elit politik dan penguasa serta kaum intelektual. Lihat saja setiap masalah yang mencuat bukannya dicari solusi, namun justru menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Perdebatan (dialektika) yang seharusnya menghadirkan perubahan justru menjadi kontra produksi dan tidak memberikan edukasi di ruang publik.
Perdebatan ini dilanggengkan sebagai olahan politik para elit atau publik figur. Apa yang ditulis oleh Tan Malaka dalam Madilog soal sesat pikir, justru semakin tak terbendung disaat kita sudah memasuki era digital. Era dimana Indonesia semakin maju karena kemajuan teknologi. Namun yang terjadi sebaliknya, sesama anak bangsa saling terpolarisasi karena post truth.
Post truth menyebabkan masyarakat menerima informasi dengan pendekatan perasaan, bukan secara rasional. Sehingga sesuatu yang sesat dianggap benar karena terus diulang-ulang. Apa yang ditulis oleh Tan Malaka, terjadi hingga hari ini.
Madilog Sebagai Metode Analisis
Artikel ini bukan dimaksudkan untuk mengulas (resensi) buku Madilog. Namun lebih pada melihat Madilog sebagai metode analisis dalam mengatasi berbagai masalah (problem solving) yang terjadi di masa kini. Metode analisis yang relevan dengan beragam problematika yang melingkupi berbagai multi dimensi kehidupan di bangsa ini.
Metode analisis yang dimaksud yakni, menggabungkan pendekatan materialisme, dialektika, dan logika dalam memahami realitas (problematika) sosial, sekaligus pemecahan (solusi) masalah. Materialisme fokus pada komponen materi sebagai dasar dari kehidupan sosial. Bahwa komponen materi berupa ekonomi dan infrastruktur, adalah dasar dari semua fenomena sosial yang dibutuhkan manusia.
Dialektika melihat perubahan sebagai hasil dari kontradiksi dan konflik. Adapun Logika menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan rasional dalam pemecahan masalah. Sejatinya komponen materialisme dianggap menjadi penentu kedaulatan nasional. Bahkan berkolerasi terhadap keberadaan multi dimensi kehidupan bangsa.
Namun distribusi ekonomi yang dilakukan lewat pengelolaan sumber daya alam, belum sepenuhnya memberikan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat. Bahkan cenderung menghamparkan kesenjangan yang mencolok. Pun dengan infrastruktur yang harusnya menjadi kebutuhan dasar masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, juga menghadirkan kesenjangan antara wilayah pedalaman dan perkotaan dengan fasilitasnya yang moderen.
Solusi Berbasis Logika
Distribusi ekonomi dan infrastruktur merata dan adil yang harusnya menjadi penentu kedaulatan bangsa, justru menjadi problem krusial, ketika implementasinya oleh penentu kebijakan tidak sesuai kenyataan. Problematika yang berkepanjangan menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Dialektika yang harusnya berbuah perubahan, tidak terwujud, karena solusi penanganan tidak berbasis logika keadilan.
Pada akhirnya tanpa solusi kongkrit, masyarakat pedalaman melihat kemiskinan dan keterisolasian sebagai takdir yang harus diterima. Bahwa kesenjangan merupakan realitas yang entah sampai kapan tertangani dan oleh siapa yang dapat menangani. Paradigma (sesat pikir) penerimaan atas takdir yang bermuara pada sikap apriori ini, harus diubah.
Bahwa tanggung jawab mewujudkan keadilan, ada pada pemerintah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat lewat pemberdayaan. Bahwa kesenjangan dan ketidakadilan bisa diatasi, jika saja pemerintah mau berpihak terhadap masyarakat pedalaman yang tertertinggal dan terisolir. Lewat kebijakan, program dan anggaran yang memadai.
Selama keberpihakan tersebut tidak tersentuh, maka sama dengan terus melanggengkan kesenjangan. Maka pemerintah bukan saja mengabaikan amanat konstitusi, namun juga sesat terhadap produk kebijakanan maupun anggaran, karena tidak berbasis keadilan.
Diinilah menjadikan Madilog sebagai pisau analisis yang relevan terhadap penanganan berbagai problem bangsa ini. Terutama oleh pemangku kebijakan dengan dasar rasionalitas yang cemerlang. Lewat Madilog, pemangku kebijakan dapat mengurai setiap materi yang menjadi problem krusial. Mengurai dialektika sebagai potensi perubahan, serta mengurai logika sebagai solusi berupa matriks yang rasional, adil dan tepat sasaran.
Maka jika Madilog masih mendapat di rak utama toko buku Gramedia, tidak lain karena gagasan dalam buku tersebut masih dibutuhkan hingga saat ini.










