Budaya  

Mengungkap kisah filatelis Purwakarta yang bertahan berpuluh tahun

Kehidupan Seorang Filatelis Purwakarta yang Menjaga Tradisi Melalui Perangko

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, di mana surat elektronik dan pesan instan telah menggantikan peran surat fisik, ada sebuah hobi yang tetap bertahan, yaitu filateli. Salah satu tokoh yang menjaga tradisi ini adalah Bambang Reka Mulyana (54), seorang filatelis asal Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Bambang memulai petualangan filatelinya sejak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1986. Saat itu, korespondensi atau surat-menyurat adalah jembatan utama untuk menjalin komunikasi jarak jauh. Ia gemar mengirim surat ke berbagai kedutaan besar perwakilan negara asing di Jakarta. Kedutaan Besar Jerman menjadi yang pertama ia hubungi, dan tak lama kemudian, balasan berupa majalah tentang Jerman tiba, memicu semangatnya untuk terus menjelajahi dunia melalui surat.

Dari situlah, Bambang mulai mengirim surat ke kedutaan besar negara lain, seperti Jepang dan Belanda, meminta informasi tentang negara tersebut, termasuk perangko bekas atau unik. Tak disangka, permintaannya selalu dikabulkan. Majalah dan perangko dari berbagai negara pun mulai memenuhi koleksinya. Inilah cikal bakal kecintaannya pada filateli.

Membangun Komunitas Filateli di Purwakarta

Semangat Bambang tak berhenti di situ. Saat masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia menyadari bahwa di Purwakarta belum ada wadah bagi para penghobi perangko. Berbekal pengalamannya mencari ilmu ke Perkumpulan Filateli Remaja Bandung (PBRB), ia memberanikan diri mendirikan Klub Filateli Purwakarta sekitar tahun 1988. Awalnya, sekitar 20-30 orang bergabung, menunjukkan bahwa banyak orang yang memiliki hobi serupa, tapi waktu itu belum memiliki komunitas. Sejak saat itu, Bambang aktif menjadi ketua klub dan terus menggerakkan kegiatan filateli di Purwakarta.

Bagi Bambang, filateli bukan hanya tentang mengumpulkan perangko. Ia menjelaskan bahwa filateli mencakup pengumpulan benda-benda lain yang berkaitan dengan pos, seperti sampul hari pertama (SHP) dan maksimum card. SHP itu sampul yang dicetak bersamaan dengan perangko baru, biasanya dengan tema yang sama. Sedangkan maksimum card adalah kartu pos yang menyertai perangko, juga dengan tema yang serasi.

Jenis-Jenis Perangko dan Nilai Pengetahuan

Perangko sendiri memiliki dua jenis, definitif dan non-definitif. Perangko definitif adalah perangko yang terus dicetak, seperti perangko bergambar tokoh nasional. Sedangkan perangko non-definitif dicetak untuk event-event tertentu, seperti PON atau MTQ, dan biasanya lebih langka dan juga berharga.

Salah satu aspek yang paling menarik dari filateli, menurut Bambang, adalah nilai pengetahuannya. Setiap perangko memiliki cerita, tema, dan sejarahnya sendiri. Misalnya, koleksi flora fauna miliknya menceritakan tentang berbagai jenis tumbuhan dan hewan di Indonesia, lengkap dengan informasi habitatnya. “Filateli itu sebetulnya ada sisi pengetahuannya. Termasuk sejarah itu ada di perangko, di filateli,” ujarnya.

Filateli sebagai Media Sosial Masa Lalu

Bambang juga mengenang masa-masa di mana perangko menjadi media sosial. Melalui surat-menyurat dengan sahabat pena dari berbagai daerah, ia belajar tentang budaya, bahasa, dan kehidupan di tempat lain. “Jadi koresponden itu bisa banyak dapat pengetahuan, karena kita dapat bertukar informasi juga sama yang lainnya,” kenangnya.

Menjadi filatelis juga mengajarkan kesabaran dan ketelitian. Bambang menjelaskan cara melepaskan perangko dari surat dengan benar. Mulai dari digunting, direndam dalam air, lalu diambil dengan pinset dan dibalik agar tidak menempel lagi. Proses ini harus telaten agar perangko tidak rusak dan tetap bernilai.

Prestasi dan Aktivitas di Dunia Filateli

Kecintaan Bambang pada filateli membawanya ke berbagai pameran dan lomba, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia pernah meraih medali di Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, bahkan koleksinya pernah dipamerkan di Singapura. Meskipun ia tidak selalu datang langsung, koleksinya selalu mewakili semangat dan dedikasinya.

Bambang juga aktif dalam kepengurusan filateli. Ia akan dilantik sebagai pengurus daerah di tingkat provinsi, menunjukkan eksistensi filateli yang masih kuat. Setiap tahun, ada Pameran Filateli Nasional (Panfila) yang berpindah-pindah kota, menjadi ajang bursa, lelang, dan pertemuan para filatelis dari seluruh Indonesia.

Nilai Investasi dan Harapan untuk Generasi Muda

Meskipun penggunaan surat fisik menurun, perangko tetap dicetak dan memiliki nilai. Bagi Bambang, perangko kini lebih banyak dikoleksi dan menjadi investasi. Perangko langka dan tua bisa bernilai jutaan rupiah. Ia sendiri memiliki koleksi perangko “Bumi Jati Luhur” dari tahun 1969, yang merupakan perangko Purwakarta bergambar satelit. Bambang juga pernah memiliki sampul perangko batu akik yang langka, dengan batu akik asli tertempel di sampulnya, yang ditawar hingga jutaan rupiah. Ia juga menyebutkan perangko OWF (Orangutan Wildlife Fund) yang bergambar kera sebagai salah satu yang paling langka dan dicari, dengan harga mencapai puluhan juta rupiah untuk satu seri.

Melihat regenerasi filatelis yang kurang di era digital, Bambang berharap generasi muda dapat bergabung dengan komunitas filateli. Ia melihat filateli sebagai kegiatan positif yang dapat menjauhkan remaja dari kenakalan, menambah wawasan, melatih disiplin, dan bahkan menjadi investasi masa depan. “Daripada kegiatan-kegiatan (negatif) nah inilah. Bermanfaat,” ucap Bambang sambil menunjukan koleksi perangko yang ia punya.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *