Kisah Bocah 2 Tahun yang Selamat dari Longsor di Cisarua
Peristiwa longsor besar yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (24/1/2026), menyisakan kisah pilu sekaligus keajaiban. Seorang bocah berusia dua tahun bernama Arsya ditemukan dalam kondisi selamat oleh Tim SAR di atas genting rumah, meski puluhan bangunan di sekitarnya hancur tertimbun longsor.
Longsor terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dini hari setelah hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah Cisarua selama dua hari berturut-turut. Material longsor dari bukit di kaki Gunung Burangrang menyapu sedikitnya 30 rumah warga di RW 10 dan RW 11 Kampung Pasir Kuning. Akibat kejadian tersebut, sejumlah rumah rata dengan tanah dan warga terpaksa mengungsi.
Kondisi Arsya saat ini lemas dan beberapa kali muntah. Ia sempat dibawa ke Puskesmas Pasirlangu, tak jauh dari lokasi kejadian longsor. Yayah, saudara Arsya, mengaku tidak tahu bagaimana bocah itu bisa selamat dari longsor dahsyat yang menimbun puluhan rumah tersebut. Arsya saat ditemukan sedang berada di atas genting, sementara rumahnya dan keluarganya sendiri terkubur longsor. Saat ini, Arsya sudah dalam perawatan anggota keluarga lainnya.
Rumah Bertirai Ungu Masih Berdiri
Fenomena lain yang menarik perhatian adalah adanya satu rumah berukuran sekira 4 x 5 meter masih berdiri kokoh dan selamat dari terjangan longsor. Posisi rumah terlihat berada di tengah dan dikelilingi kebun sayur dan puing-puing bangunan rumah di sebelahnya yang sudah hancur diterjang tanah longsor.
Pada bagian jendela depan rumah tersebut tertempel dua stiker dari KPU Republik Indonesia dan KPUD Jabar. Tertulis dua nama pada stiker tersebut, ada nama Hadiansyah dan Wulan Oktaviani. Di sebelah kiri rumah yang masih utuh berserakan bambu bekas saung kebun bunga dan sayur, lemari, helm, dan barang lainnya. Sementara, di bagian depan, kanan, dan belakang rumah merupakan kebun sayur.
Kondisi rumah terpantau sepi, jendela masih tertutup menggunakan tirai berwarna ungu. Lantai terasnya dipenuhi lumpur. Pada Sabtu (24/1/2026) pukul 16.25 WIB, sejumlah warga menjadikan rumah tersebut sebagai tempat berteduh dari hujan sembari melihat ke arah proses evakuasi korban tertimpa tanah longsor. Sekira 50 meter dari rumah yang utuh tersebut, proses evakuasi dan pencarian korban terlihat jelas.
Alih Fungsi Lahan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat meninjau lokasi longsor menyoroti perubahan fungsi lahan di kawasan tersebut. Ia menduga alih fungsi lahan tersebut menjadi satu faktor penyebab terjadinya longsor di wilayah Cisarua. Menurut dia, area yang terkena longsor tersebut awalnya merupakan kawasan hutan dan pegunungan. Namun, kini telah beralih menjadi lahan pertanian.
“Lokasinya berubah asalnya areal hutan, pegunungan, semuanya jadi kebun. Semuanya jadi kebun sayur dan kebun bunga,” katanya. Setelah memantau lokasi longsor, Dedi pun memutuskan rumah-rumah warga perlu direlokasi karena berada di wilayah rawan bencana.
“Ya, ini kan sudah jelas ya. Jadi, setelah ini warga di sekitar sini segera direlokasi dan ini dihutankan karena potensi terjadi (longsor) lagi sangat tinggi dan di sekitar sini sudah mencemaskan kalau menurut saya ya. Saya tadi keliling sangat mencemaskan,” ujar Dedi Mulyadi.
Data Korban dan Penanganan
Berdasarkan data dari BNPB akibat bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat, tercatat delapan orang meninggal dunia dan 82 orang masih dalam proses pencarian. Untuk keluarga yang meninggal dunia, pemerintah akan memberikan santunan sebesar Rp 25 juta.












