Daerah  

Pantai Larangan Tegal Dipenuhi Kayu Banjir Bandang Guci

Banjir Bandang Guci Tegal Mengakibatkan Banyak Dampak

Beberapa momen banjir yang terjadi di Sumatera beberapa waktu lalu kini mulai terlihat dalam peristiwa banjir bandang yang melanda Guci Tegal pada Sabtu (24/1/2026). Salah satu contohnya adalah gelondongan kayu yang menumpuk di pantai pada Minggu (25/1/2026).

Potret yang mirip dengan kejadian di pantai di Padang Sumatera Barat beberapa waktu lalu itu kini terlihat di Pantai Larangan, Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pantai tersebut dipenuhi oleh gelondongan kayu berbagai jenis. Warga sekitar datang berbondong-bondong untuk mengangkut kayu tersebut dan membawanya pulang atau menjualnya.

Mereka menduga, potongan kayu berbagai ukuran dan jenis tersebut merupakan sisa-sisa dari banjir bandang yang terjadi di lereng Gunung Slamet. Kayu-kayu ini diduga terbawa arus Sungai Gung usai banjir bandang yang melanda kawasan Objek Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Tegal, pada Sabtu (24/1/2025).

Pantai Larangan berada persis di sebelah timur muara Sungai Gung. Gelondongan kayu tersebut keluar dari muara Sungai Gung di hilir yang tersambung ke hulu di kawasan Guci, lereng Gunung Slamet. Menurut pantauan Kompas.com, banyak warga datang untuk mengangkut kayu menggunakan gerobak dari bibir pantai. Ada yang sengaja mengambil untuk dijual, ada pula yang mengaku mengambilnya sebagai bahan bakar.

Warga setempat, Ali Sodikin, mengaku sengaja mengambil kayu untuk bahan bakar tungku memasak usaha katering makanan. “Infonya dari Guci terbawa arus. Rencana diambil buat kayu bakar. Kayunya ada meranti, cemara, ada mahoni, sengon, dan lainnya,” kata Ali ditemui di lokasi, Minggu.

Sementara Ali meyakini kayu berasal dari kawasan Guci, lantaran keluar dari muara Sungai Gung di Pantai Larangan. Sehari sebelumnya, banjir bandang terjadi di Sungai Gung kawasan Objek Wisata Guci. “Ada musibah, tapi di Larangan membawa berkah. Selain kayu, ada warga yang dapat pipa PVC dijual ada yang laku sampai Rp 1 juta,” pungkas Ali.

Warga setempat lainnya, Warim, mengatakan gelondongan kayu datang sejak Sabtu (25/1/2025) malam. “Datangnya mulai dari semalam. Dari Guci dan daerah lain yang kena banjir bandang di atas,” kata Warim. Warim menyebut, sebelum mendapat kiriman kayu, ada berbagai jenis ikan air tawar yang juga terdampar di kawasan pantai. “Kemarin banyak ikan nila, mati tapi masih segar. Kemudian potongan pipa dari saluran air di Guci,” kata Warim.

Diberitakan sebelumnya, banjir bandang di lereng Gunung Slamet tepatnya di kawasan obyek wisata Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mengakibatkan kerusakan sangat parah, Sabtu (24/1/2026). Tiga taman wisata (TWA) mengalami rusak parah akibat luapan Sungai Gung Guci, yaitu TWA Pancuran 13, Pancuran 5, dan Kolam Air Panas Barokah.

Tidak hanya itu, tiga jembatan vital juga putus total, yaitu Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5. Tak hanya banjir bandang, longsor di sejumlah titik juga terjadi setelah hujan deras intensitas tinggi yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) pagi.

Air bah berwarna coklat pekat mengalir deras dari hulu Gunung Slamet membawa material lumpur, pasir, hingga ranting-ranting kayu. Aliran banjir memutus tiga jembatan vital di kawasan wisata Guci: Jembatan Jedor, Jembatan Kaligung di Pancuran 13, dan jembatan gantung di Pancuran 5. Ketiganya merupakan akses utama penghubung antarobyek wisata dan menuju ke Desa Guci.

Menurut Taufik, warga RT 04, RW 02 Desa Guci, debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat (23/1/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang kawasan wisata. “Awalnya hanya hujan deras. Namun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” kata Taufik kepada wartawan, Sabtu.

Taufik menyebut, puncaknya terjadi pada Sabtu, pukul 02.00 WIB dini hari. Tinggi air dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter, membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus bercampur lumpur dan pasir. “Air naik sangat cepat. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” lanjut Taufik.

Tak hanya memutus akses utama menuju Pancuran 13 dan Pancuran 5, banjir bandang juga menyebabkan kerusakan parah fasilitas wisata. Pancuran 13 Guci hancur dan tertimbun lumpur, satu unit alat berat beko rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai porak-poranda. Bencana juga disertai longsor di bukit atas Desa Guci.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *