JAKARTA — Program waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) telah memasuki tahap tender. Saat ini, terdapat 24 perusahaan internasional yang berpartisipasi dalam proses tersebut. Perusahaan-perusahaan yang lolos menjadi peserta tender diwajibkan untuk membentuk konsorsium.
Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa konsorsium yang dibentuk oleh peserta tender diharapkan dapat memberikan transfer teknologi kepada perusahaan lokal maupun pemerintah daerah (pemda). Untuk tahap pertama, Danantara Indonesia memfokuskan pengembangan program WtE di empat kota, yaitu Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
“Tender ini menunjukkan bahwa Danantara selalu memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang transparan dan berbasis mitigasi risiko,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (16/02/2026).
Dari sejumlah perusahaan yang menjadi peserta tender WtE, tiga di antaranya berasal dari Prancis, China, dan Jepang. Berikut profil singkat mengenai ketiga perusahaan tersebut:
Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd (Prancis)
Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd didirikan di Singapura pada 13 Desember 1997. Perusahaan ini merupakan bagian dari grup multinasional Veolia asal Prancis yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi. Di skala global, mereka hadir di 50 negara dengan jutaan pelanggan di seluruh dunia.
Di Indonesia, Veolia hadir melalui entitas bisnis bernama PT Veolia Services Indonesia. Perusahaan ini mendirikan pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25.000 ton per tahun di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pabrik ini memproduksi PET food grade yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Lewat kerja sama dengan PT Tirta Investama (Danone-AQUA), PT Veolia Services Indonesia tercatat menangani solusi untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. Keduanya membentuk pabrik daur ulang botol plastik PET pada akhir Juni 2021. Pabrik ini diresmikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama CEO Veolia Southeast Asia Sven Beraud-Sudreau dan Presiden Direktur Danone-AQUA Connie Ang.
China Conch Venture Holding Limited (China)
China Conch Venture Holding Limited adalah perusahaan yang berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, China. Perusahaan yang berfokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur tersebut berdiri sejak 2013.
China Conch Venture Holding Limited telah terdaftar di Bursa Efek Hong Kong dengan kode saham 0586. Selain itu, perusahaan ini berafiliasi cukup erat dengan Grup Anhui Conch Group Co., Ltd., salah satu grup usaha ternama di China dalam industri material seperti bahan bangunan, semen, dan konstruksi.
Ada lima bidang usaha utama yang digeluti China Conch, yakni WtE atau proyek limbah energi, jasa logistik pelabuhan (port logistics services), material bangunan baru (new building materials), energi terbarukan dan bidang investasi dan aset strategis.
China Conch Venture Holding Limited menjadikan WtE sebagai segmen utama bisnis yang dijalankan. Lini bisnis ini mencakup solusi insinerasi limbah atau pembakaran limbah untuk mengubahnya menjadi energi, pengolahan limbah padat untuk menghasilkan energi panas dan listrik, dan produksi serta penjualan peralatan pembangkit energi sisa panas.
Perusahaan ini diketahui pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan di Indonesia. Salah satunya dengan PT Conch South Kalimantan Cement (PT CSKC) yang juga bernaung di bawah Anhui Conch Group Co., Ltd. PT CSKC pernah mendapatkan anugerah sebagai ‘Wajib Pajak Besar’ dan memiliki kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal dan pemerintah di Kalimantan Selatan.
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang)
Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) adalah pemain lama dalam proyek lingkungan dan energi bersih di dunia. Jejak perusahaan sudah dikenal di Singapura untuk program WtE di Tuas South. Proyek senilai 750 juta dolar Singapura yang dikenal dengan TuasOne Waste-to-Energy Plant Project tersebut adalah salah satu contoh bagi sejumlah tempat yang memulai program pengolahan sampah menjadi energi, termasuk di Indonesia.
Di China, MHIECE mengembangkan proyek Lao Gang fase kedua di Shanghai yang merupakan salah satu proyek WtE terbesar di dunia senilai 11 miliar yen. Di Shanghai, MHIECE mengolah 6.000 ton sampah setiap hari untuk menghasilkan listrik berkapasitas 144 megawatt (MW).
Sementara di Jepang, MHIECE tercatat menandatangani kontrak baru pada 2025 untuk peningkatan efisiensi energi listrik di pusat insinerasi limbah padat di kota kelahirannya, Kanazawa dan Miyazaki. Adapun energi listrik yang dihasilkan dari pengolahan 250 ton sampah per hari di Kanazawa mencapai 3 MW.
Mesin produksi MHIECE juga telah dipakai di Indonesia untuk mengolah 100 ton sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) bersama dengan PLN Nusantara Power yang berjalan sejak 2019. Energi listrik yang dihasilkan adalah 750 kilowatt per jam (kWh) untuk penerangan di sekitar tempat pembuangan.
Adapun pengolahan sampah yang dilakukan MHIECE di lebih dari 300 pabrik di seluruh dunia menggunakan mesin pembakaran atau insinerator tingkat tinggi yang mampu membakar lumpur limbah dengan berbagai berat.












