Isyana Sarasvati Dituduh Bergabung dengan Sekte Santanik, Adegan Mata Satu Jadi Sorotan

Isyana Sarasvati dan Kontroversi Video Musik “Abadhi”

Isyana Sarasvati kini tengah menjadi sorotan setelah merilis karya visual terbarunya yang bertajuk Abadhi. Video musik tersebut mendadak viral, bukan hanya karena kualitas musiknya, tetapi juga karena kemunculan sejumlah simbol misterius. Beberapa warganet menuduh Isyana ikut sekte satanik setelah mereka menyoroti adanya visual mata satu dalam beberapa adegan. Tudingan ini bermula dari potongan-potongan gambar video musik tersebut yang tersebar luas di media sosial.

Simbol mata satu tersebut kemudian dikaitkan dengan praktik okultisme atau kelompok rahasia yang sering menjadi bahan teori konspirasi. Spekulasi itu dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial, terutama di platform X (dulu Twitter). Bahkan, salah satu unggahan yang membahas isu tersebut dilaporkan telah dilihat lebih dari satu juta pengguna, memicu beragam reaksi dari publik.

Banyak warganet yang terkejut melihat konsep artistik yang ditampilkan Isyana kali ini. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan kepada penyanyi yang dikenal berani bereksperimen dengan berbagai genre musik tersebut.

Kontroversi ini muncul bertepatan dengan perilisan proyek musik terbaru Isyana yang menjadi bagian dari album kelimanya bertajuk “Eklektiko.”

Awal Mula Isu Satanik dari Video Musik “Abadhi”

Isu mengenai keterkaitan Isyana Sarasvati dengan sekte satanik mulai muncul setelah potongan adegan dalam video musik lagu “Abadhi” beredar luas di media sosial. Dalam beberapa bagian video tersebut, terlihat visual simbol mata satu yang kemudian menjadi bahan perdebatan di kalangan warganet.

Simbol mata satu sendiri sering dikaitkan oleh sebagian orang dengan berbagai teori konspirasi yang berhubungan dengan kelompok rahasia atau simbol tertentu yang dianggap memiliki makna tersembunyi. Namun dalam konteks seni dan budaya populer, simbol tersebut juga kerap digunakan sebagai elemen artistik atau metafora visual dalam karya musik, film, maupun seni rupa untuk menggambarkan konsep pengawasan, kesadaran, atau perspektif tertentu.

Meski demikian, sebagian pengguna media sosial langsung mengaitkan simbol tersebut dengan praktik satanisme, sehingga memunculkan berbagai spekulasi yang akhirnya menjadi viral.

Respons Isyana Sarasvati di Media Sosial

Menanggapi polemik yang berkembang luas di internet, Isyana Sarasvati akhirnya memberikan respons melalui akun Instagram pribadinya. Alih-alih memberikan penjelasan panjang, ia memilih menuliskan sepenggal lirik yang seolah menjadi refleksi atas berbagai spekulasi yang beredar mengenai dirinya.

Dalam unggahan tersebut, Isyana menulis, “Sometimes pure light, sometimes cruel tides, I am passing through,”. Ia kemudian menuliskan terjemahan dari kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia. “Terkadang cahaya murni, terkadang gelombang kejam, aku sedang melewatinya.”

Unggahan itu langsung menarik perhatian para penggemar dan pengguna media sosial lainnya. Banyak yang kemudian membanjiri kolom komentar dengan dukungan kepada Isyana Sarasvati. Sebagian penggemar menilai bahwa tudingan tersebut tidak berdasar dan terlalu jauh mengaitkan konsep visual artistik dengan isu yang sensitif.

Suami Isyana Ikut Buka Suara

Respons terhadap polemik tersebut juga datang dari suami Isyana Sarasvati, Rayhan Maditra Indrayanto. Melalui akun Threads miliknya, Rayhan menyampaikan pandangannya mengenai kontroversi yang tengah ramai diperbincangkan tersebut. Menurutnya, situasi seperti ini merupakan ujian yang kerap dihadapi oleh seorang musisi ketika karya yang dibuat dengan kejujuran justru dipahami secara berbeda oleh publik.

Ia menuliskan, “Ujian besar bagi seorang musisi ketika karya yang lahir dari kejujuran justru dimaknai dengan cara yang jauh berbeda.” Rayhan juga menyoroti fenomena cepatnya asumsi berkembang di media sosial tanpa upaya memahami konteks karya tersebut secara lebih mendalam. Ia menambahkan, “Sering kali asumsi datang lebih cepat daripada keinginan untuk memahami.”

Dalam pernyataannya, Rayhan juga berharap agar semua pihak dijauhkan dari berbagai bentuk fitnah, terlebih di bulan suci Ramadan. “Semoga Tuhan melindungi kita semua dari segala bentuk fitnah di bulan suci ini.”

Bagian dari Proyek Album “Eklektiko”

Kontroversi yang muncul ini terjadi di tengah perilisan proyek musik terbaru Isyana Sarasvati yang menjadi bagian dari album kelimanya yang bertajuk “Eklektiko.” Album ini merupakan proyek besar yang menampilkan eksplorasi musikal Isyana dengan konsep yang lebih luas dan kompleks dibanding karya-karyanya sebelumnya.

Proyek “Abadhi” sendiri disebut sebagai babak final atau Chapter 4 dari rangkaian konsep album tersebut. Sebelumnya, era musik baru Isyana telah dibuka dengan perilisan single “Babel” pada Februari 2026. Lagu tersebut mengusung genre symphonic metal, yaitu genre musik yang memadukan unsur musik metal dengan aransemen orkestra yang megah.

Symphonic metal biasanya menggabungkan instrumen band seperti gitar listrik dan drum dengan unsur orkestra klasik seperti biola, cello, dan paduan suara untuk menciptakan nuansa musik yang dramatis dan epik. Dalam proyek “Eklektiko,” Isyana juga menampilkan transformasi visual yang lebih edgy dan gothic.

Istilah edgy dalam dunia seni biasanya merujuk pada gaya visual atau konsep yang lebih berani, gelap, dan eksperimental. Sementara gothic adalah gaya artistik yang menonjolkan nuansa misterius, dramatis, dan estetika gelap yang sering digunakan dalam musik rock dan metal. Transformasi visual inilah yang kemudian memicu berbagai interpretasi di kalangan penonton.

Visual Proyek “Abadhi” dan Spekulasi Publik

Penggunaan simbol mata satu dalam visual proyek Abadhi sebenarnya telah muncul sejak awal perilisan materi promosi album tersebut. Visual tersebut dapat dilihat dalam video berjudul “Eklektiko: This is Abadhi” yang dirilis pada 2 Februari 2026 serta “Abadhi: The Final Chapter of Eklektiko (Official Teaser)” yang dirilis pada 5 Februari 2026.

Sejak saat itu, sejumlah pengguna media sosial mulai berspekulasi mengenai makna simbol tersebut. Namun bagi banyak penggemar Isyana, penggunaan simbol dan konsep visual tersebut dinilai sebagai bagian dari narasi artistik yang ingin disampaikan dalam proyek musiknya.

Dirilis Secara Independen melalui REDROSE Records

Proyek musik terbaru ini juga menandai langkah penting bagi Isyana Sarasvati dalam perjalanan kariernya di industri musik. Album Eklektiko dirilis secara independen melalui label miliknya sendiri, yaitu REDROSE Records. Langkah ini menunjukkan upaya Isyana untuk memiliki kendali penuh terhadap proses kreatif dalam produksi musiknya, mulai dari konsep artistik, produksi, hingga distribusi karya.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak musisi yang memilih jalur independen untuk memberikan kebebasan lebih besar dalam berekspresi tanpa harus terikat dengan kebijakan label besar.

Sosok Isyana Sarasvati

Isyana Sarasvati lahir di Bandung pada 2 Mei 1993. Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi pendidikan dan seni. Sang ayah, Sapta Dwikardana, merupakan seorang doktor sekaligus analis perilaku, sementara ibunya, Luana Marpanda, adalah seorang guru musik. Tak heran, sejak kecil Isyana telah akrab dengan melodi dan instrumen musik.

Tak hanya itu, kakaknya, Rara Sekar, juga dikenal sebagai musisi. Kombinasi ini membuat rumah keluarga Isyana terasa seperti orkestra kecil, tempat di mana musik bukan hanya hiburan, melainkan bagian dari keseharian.

Sejak usia dini, Isyana telah mengalami banyak hal yang memperkaya cara pandangnya. Ia sempat tinggal di Belgia ketika ayahnya melanjutkan studi. Pengalaman tinggal di luar negeri sejak kecil memberikan Isyana pemahaman lintas budaya yang kelak menjadi bekal penting dalam kariernya.

Setelah kembali ke Bandung pada usia tujuh tahun, Isyana mulai menunjukkan minat dan bakat luar biasa di bidang musik klasik. Ia aktif mengikuti berbagai kompetisi dan bahkan rela menjalani masa karantina demi persiapan pertunjukan.

Menariknya, Isyana tidak menyelesaikan pendidikan SMA seperti kebanyakan orang. Di usia remaja, ia justru mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Singapura saat masih duduk di bangku kelas dua SMA. Ia kemudian melanjutkan studi di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) dan berhasil meraih Diploma dalam bidang Music Performance pada 2013.

Tak berhenti di situ, ia kemudian menempuh studi lanjut di Royal College of Music, Inggris. Di sana, ia bukan hanya menyelesaikan pendidikan, tapi juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik, sebuah pencapaian yang menunjukkan kualitas dan konsistensinya sebagai musisi sejati.

Perjalanan musikal Isyana mengalami titik balik saat ia mulai mengeksplorasi dunia musik pop. Pada 2014, ia bergabung dengan Sony Music Indonesia dan merilis single perdananya, Keep Being You. Namun, namanya benar-benar melejit berkat lagu Tetap Dalam Jiwa yang dirilis setahun kemudian. Lagu ini sukses besar dan menjadikan Isyana sebagai salah satu ikon musik pop modern Indonesia.

Menjadi Produser untuk Diri Sendiri: Lahirnya REDROSE RECORDS

Isyana bukan hanya penyanyi dengan suara merdu dan lagu-lagu yang menawan, ia juga membuktikan diri sebagai sosok perempuan yang mandiri dan visioner. Pada Oktober 2020, ia mengambil langkah besar dengan mendirikan label musiknya sendiri, REDROSE RECORDS. Melalui label ini, Isyana mendapatkan kebebasan artistik untuk mengekspresikan karya-karya musik sesuai jiwanya, tanpa batasan industri.

Meski dikenal publik, Isyana tergolong sangat tertutup soal kehidupan pribadinya. Maka tak heran, ketika ia mengumumkan pertunangannya dengan Rayhan Maditra pada 29 Desember 2019, banyak yang terkejut. Rayhan, seorang dokter, ternyata telah menjadi pasangan Isyana selama lebih dari 10 tahun, hubungan yang jauh dari sorotan media.

Pasangan ini resmi menikah pada 2 Februari 2020 di Bandung. Meski berprofesi sebagai dokter, Rayhan juga tidak asing dengan dunia musik. Ia beberapa kali tampil bersama Isyana dalam video cover lagu di YouTube, memperlihatkan sinergi keduanya tak hanya dalam cinta, tapi juga dalam harmoni musikal.

Di luar semua pencapaian dan keseriusannya dalam bermusik, Isyana dikenal sebagai pribadi yang blak-blakan, jujur, dan humoris. Di berbagai kesempatan, baik saat wawancara maupun di panggung, ia kerap melontarkan komentar-komentar spontan yang mengundang tawa. Tak sedikit penggemarnya yang menyebut Isyana sebagai diam-diam komedian, karena sisi lucunya yang begitu alami.

Isyana Sarasvati adalah contoh nyata bagaimana bakat, kerja keras, dan keberanian untuk menempuh jalan berbeda bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Dari panggung musik klasik hingga panggung pop, dari ruang kuliah di Inggris hingga studio rekaman miliknya sendiri, perjalanannya adalah narasi inspiratif tentang konsistensi, orisinalitas, dan cinta sejati terhadap seni.

Profil Isyana Sarasvati

  • Nama Lengkap: Isyana Sarasvati
  • Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 2 Mei 1993
  • Pendidikan:
  • Diploma, Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura
  • Sarjana (B.Mus), Royal College of Music, Inggris
  • Profesi: Penyanyi, Penulis Lagu, Aktris
  • Orang Tua: Sapta Dwikardana & Luana Marpanda
  • Pasangan: dr. Rayhan Maditra Indrayanto
  • Saudara Kandung: Rara Sekar Larasati
Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *