Kolaborasi Manusia dan Mesin dalam Terjemahan Prosa



Dalam dunia terjemahan, karya sastra prosa sering kali diibaratkan sebagai sebuah bangunan narasi. Jika kita membandingkannya dengan konstruksi bangunan, Google Translate bisa dianggap sebagai pemasok bahan bangunan seperti semen, pasir, hebel atau bata ringan (AAC). Sementara itu, manusia penerjemah berperan sebagai arsitek dan desainer interior yang menyusun bahan-bahan tersebut agar terbentuklah rumah yang memiliki arsitektur indah dan nyaman bagi penghuninya.

Analogi ini sangat relevan karena bahasa tidak hanya sekadar deretan kata-kata. Di dalamnya terkandung struktur, estetika, dan rasa. Hal-hal inilah yang masih menjadi ranah kompetensi manusia penerjemah. Meskipun Google Translate membantu dalam mencairkan kendala bahasa, keberadaan manusia penerjemah tetap menjadi kebutuhan mutlak untuk materi terjemahan yang memerlukan akurasi tinggi. Kesalahan kecil dalam penerjemahan bisa menyebabkan risiko fatal, baik dalam dokumen medis, hukum, atau karya sastra.

Pergeseran Karakterisasi

Ketidaktepatan dalam penerjemahan kata dengan akurasi tinggi dapat mengakibatkan pergeseran karakterisasi. Pembentukan karakter dalam karya sastra prosa melalui dialog dan pilihan kata. Jika penerjemahan tidak tepat, maka akan terjadi pergeseran makna karakter. Misalnya, kata “ambitious” dalam bahasa Inggris memiliki konotasi positif, namun dalam bahasa Indonesia cenderung dikaitkan dengan ambisi berlebihan dan sikap negatif.

Contoh lain adalah penggunaan pronomina “you” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, pilihan antara “kau”, “kamu”, atau “Anda” akan memengaruhi nuansa hubungan antar tokoh. Penggunaan “Anda” dalam situasi yang seharusnya menggunakan “kau” bisa membuat dialog terasa formal dan dingin, sehingga menghilangkan kesan alami dari karya sastra.

Metafora dan Simbolisme

Google Translate masih kurang fasih dalam menerjemahkan metafora, simbolisme, idiom, dan personifikasi. Contohnya, frasa “break a leg” yang artinya “semoga sukses” sering diterjemahkan secara harfiah menjadi “patahkan satu kaki”, yang tidak sesuai dengan konteks.

Metafora frasa verba seperti “call on” dan “flip out” juga sering diartikan secara literal, sehingga hasil terjemahan kurang tepat. Misalnya, “call on” diterjemahkan sebagai “menelepon” padahal maknanya lebih dekat dengan “mengunjungi”.

Selain itu, simbolisme budaya seperti “the cold winter of her heart began to thaw” sering diterjemahkan secara literal, sehingga keindahan maknanya hilang. Manusia penerjemah memiliki peran penting dalam mengolah makna tersebut agar lebih natural dan estetis.

Adaptasi Budaya dan Humor

Penerjemahan karya sastra juga memerlukan adaptasi budaya dan humor. Contohnya, lelucon seperti “Why did the scarecrow win an award?” yang dalam bahasa Indonesia perlu disesuaikan agar tetap lucu. Manusia penerjemah bisa menggantinya dengan humor lokal yang lebih sesuai.

Adaptasi referensi budaya populer seperti “He’s as famous as Elvis in this town” juga perlu disesuaikan agar audiens target dapat memahami konteksnya. Misalnya, mengganti Elvis dengan Iwan Fals agar lebih familiar.

Kolaborasi Manusia dan Mesin

Meskipun Google Translate sudah cukup akurat, karya sastra tetap membutuhkan sentuhan manusia penerjemah. Proses Machine Translation Post-Editing (MTPE) memungkinkan kolaborasi antara mesin dan manusia. Contohnya, dalam terjemahan puisi:

Google Translate:

“Matahari terbenam di bawah cakrawala, melukis langit dengan warna ungu memar dan emas yang terbakar. Itu adalah ucapan selamat tinggal yang sunyi untuk hari yang tidak akan pernah kembali.”

Hasil Kolaborasi:

“Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyapu langit dengan semburat ungu pekat dan pijar keemasan. Sebuah salam perpisahan senyap bagi hari yang takkan pernah kembali.”

Manusia penerjemah melakukan modulasi diksi, lokalisasi rasa, dan perbaikan ritme agar terjemahan lebih alami dan estetis.















Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *