JAKARTA — Di tengah volatilitas pasar modal yang masih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan arus keluar dana asing, sejumlah Manajer Investasi mulai menyesuaikan strategi pengelolaan portofolio reksa dana. Perubahan ini dilakukan untuk menghadapi tantangan yang terjadi di pasar modal Indonesia pada 2026.
Barkah, Chief Investment Officer PT KISI Asset Management (KIM), menyatakan bahwa meskipun pasar saham masih menghadapi tantangan, situasi tersebut tidak sepenuhnya suram. Ia memproyeksikan perlambatan yang terjadi bukanlah permanen, melainkan lebih bersifat siklus jangka menengah.
“Saat ini kami berusaha melakukan rebalancing portofolio reksa dana saham dengan pendekatan lebih selektif, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Beberapa sektor yang menjadi prioritas investasi antara lain sektor konsumsi, infrastruktur, energi terbarukan, serta perbankan berkapitalisasi besar. Barkah menyatakan bahwa kinerja reksa dana saham masih bisa melampaui indeks acuan, meskipun strategi yang digunakan lebih berhati-hati dan berbasis fundamental.
Pada produk reksa dana campuran, KIM cenderung meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko lebih rendah guna menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian global. Langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan pengelolaan risiko, sambil tetap membuka peluang dari saham atau sektor tertentu yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan.
Sementara itu, pada reksa dana pendapatan tetap (RDPT), strategi yang ditempuh bersifat lebih fleksibel. Manajer investasi tidak hanya menambah porsi obligasi tenor pendek untuk meredam volatilitas, tetapi juga tetap mempertahankan sebagian alokasi pada tenor menengah hingga panjang.
Menurut Barkah, strategi ini dilakukan untuk memanfaatkan peluang capital gain apabila tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Direktur Panin AM Rudiyanto menambahkan bahwa tekanan di pasar obligasi terutama datang dari kebijakan fiskal yang lebih agresif. Peningkatan belanja negara memunculkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran mendekati atau bahkan melampaui batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, ketegangan geopolitik global seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas yang dapat memberi tekanan tambahan terhadap stabilitas pasar keuangan.
Rudiyanto mencatat bahwa di pasar saham terjadi pergeseran aliran dana dari saham konglomerasi menuju saham berkapitalisasi besar (blue chip) serta emiten berbasis komoditas. Rotasi ini dinilai sejalan dengan ekspektasi perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Menurut Rudiyanto, jika laporan keuangan emiten menunjukkan perbaikan, maka potensi peningkatan kinerja pasar saham akan semakin terbuka.
Di tengah kondisi tersebut, kinerja produk reksa dana saham Panin AM hingga awal Maret 2026 masih tercatat mampu mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja ini ditopang oleh strategi investasi yang menitikberatkan pada saham berorientasi value serta sektor komoditas.
Selain itu, beberapa produk reksa dana juga mulai masuk ke saham dengan prospek cerita pertumbuhan (story) yang menarik, meskipun valuasinya relatif tinggi.
Pada produk reksa dana campuran, Panin AM mempertahankan pendekatan alokasi yang relatif stabil. Porsi saham dalam portofolio biasanya telah ditetapkan dalam rentang tertentu, misalnya 20%–30%, 30%–40%, atau 40%–50%, sehingga tidak mengalami perubahan ekstrem.
“Dalam pengelolaan reksa dana pendapatan tetap, kami cenderung memilih obligasi dengan tenor pendek, jika koreksi harga cukup besar, bisa masuk tenor panjang,” katanya.












