Membaca Politik Kesejahteraan dari Pinggiran Nusa Tenggara Timur
Dalam masyarakat modern, politik tidak lagi terbatas pada ruang kekuasaan formal seperti negara, parlemen atau partai politik. Politik kini meresap ke dalam hampir seluruh dimensi kehidupan manusia: relasi ekonomi, kebijakan sosial, bahkan praktik keseharian masyarakat. Apa yang dimakan, bantuan apa yang diterima, hingga keputusan memilih dalam pemilu, semuanya berada dalam jalinan relasi kekuasaan yang kompleks.
Fenomena ini tampak jelas di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah provinsi yang secara geografis berada di pinggiran republik, jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta. Namun justru dari pinggiran ini kita dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana negara hadir melalui program bantuan sosial (bansos). Negara mungkin tampak jauh secara politik, tetapi kehadirannya sangat terasa dalam bentuk distribusi bantuan: Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sembako, bantuan langsung tunai hingga berbagai subsidi sosial lainnya.
Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah bantuan sosial masih dapat dipahami sebagai instrumen kesejahteraan publik, ataukah telah bergeser menjadi instrumen politik yang memelihara ketergantungan masyarakat? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan dalam konteks demokrasi elektoral Indonesia yang semakin kompetitif. Bantuan sosial sering kali hadir tidak hanya sebagai kebijakan kesejahteraan, tetapi juga sebagai bahasa politik yang membentuk relasi antara negara dan warga.
Negara, Bansos, dan Logika Kekuasaan
Bantuan sosial tidak dipahami sekadar sebagai kebijakan administratif, tetapi sebagai praktik politik yang sarat relasi kuasa. Distribusi bantuan tidak pernah sepenuhnya netral. Pemikiran Karl Marx memberikan kerangka awal untuk memahami persoalan ini. Marx menegaskan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri netral karena selalu berada dalam relasi sosial yang dibentuk oleh kekuasaan. Dalam konteks ini, bantuan sosial tidak dapat dilepaskan dari struktur ekonomi-politik yang melingkupinya. Ia bukan sekadar tindakan karitatif negara, melainkan bagian dari mekanisme reproduksi kekuasaan dalam masyarakat.
Sementara itu, Antonio Gramsci membantu menjelaskan bagaimana dominasi politik bekerja tidak selalu melalui paksaan, tetapi melalui konsensus sosial. Masyarakat dapat menerima sebuah kebijakan sebagai sesuatu yang “wajar”, bahkan ketika kebijakan tersebut sebenarnya tidak mengubah struktur ketidakadilan yang ada. Hegemoni bekerja ketika masyarakat melihat bantuan sebagai kemurahan hati negara, bukan sebagai hak warga negara.
Di sisi lain, Michel Foucault menawarkan konsep biopolitik untuk memahami bagaimana negara mengelola kehidupan warganya. Dalam perspektif Foucault, kekuasaan modern tidak lagi bekerja hanya melalui represi, tetapi melalui pengaturan kehidupan: kesehatan, kesejahteraan, dan populasi. Bantuan sosial dalam kerangka ini dapat menjadi instrumen biopolitik: negara mengatur kehidupan masyarakat melalui distribusi bantuan, namun tidak selalu memberdayakan mereka untuk keluar dari struktur ketergantungan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa relasi pertukaran dalam masyarakat sering kali tidak berlangsung secara setara. Bantuan dapat menciptakan utang moral yang tidak selalu disadari oleh penerimanya. Dalam konteks politik elektoral, utang moral ini dapat berubah menjadi dukungan politik. Dengan demikian, bantuan sosial bukan hanya kebijakan kesejahteraan, tetapi juga bagian dari arsitektur relasi kekuasaan dalam masyarakat.
NTT: Pinggiran yang Bergantung
Realitas empiris di NTT memperkuat analisis tersebut. Tingkat kemiskinan di provinsi ini masih berada di kisaran 25 persen, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Sebagian besar wilayah NTT masih menghadapi persoalan struktural seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya akses pendidikan dan kesehatan, serta minimnya industri produktif.
Secara fiskal, ketergantungan NTT terhadap pemerintah pusat juga sangat besar. Sekitar 80 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berasal dari transfer pemerintah pusat. Hal ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi daerah belum cukup kuat untuk menopang dirinya sendiri. Di sisi lain, distribusi bantuan sosial di NTT sangat besar. Pada tahun 2025, sekitar 500.000 warga menerima Program Keluarga Harapan (PKH), sementara lebih dari 1,2 juta orang menerima bantuan sembako. Triliunan rupiah dana bansos mengalir ke provinsi ini setiap tahun.
Secara kuantitatif, angka tersebut menunjukkan komitmen negara terhadap kesejahteraan masyarakat. Namun secara struktural, muncul pertanyaan penting: apakah aliran dana tersebut benar-benar mengubah kondisi ekonomi masyarakat? Faktanya, sebagian besar bantuan sosial berhenti pada konsumsi jangka pendek. Bantuan tersebut membantu masyarakat bertahan hidup, tetapi jarang mengubah struktur ekonomi mereka secara fundamental. Akibatnya, masyarakat tetap berada dalam lingkaran kemiskinan yang sama dari tahun ke tahun.
Demokrasi Elektoral dan Bisnis Bansos
Di tengah kondisi ekonomi yang rapuh, tingkat partisipasi politik masyarakat NTT justru sangat tinggi. Angka partisipasi pemilih mencapai sekitar 80 persen, jauh di atas rata-rata banyak daerah lain di Indonesia. Tingginya partisipasi ini sebenarnya menunjukkan potensi demokratis yang besar. Namun dalam praktiknya, kondisi tersebut juga membuka ruang bagi politisasi bantuan sosial.
Ketika bantuan sosial hadir menjelang kontestasi politik, relasi antara warga dan negara dapat direduksi menjadi relasi transaksional. Bantuan tidak lagi dipahami sebagai hak warga negara, melainkan sebagai pemberian yang harus dibalas melalui dukungan politik. Dalam situasi seperti ini, demokrasi kehilangan kedalaman moralnya. Pemilu tidak lagi menjadi arena deliberasi rasional mengenai masa depan bersama, melainkan berubah menjadi pasar politik tempat berbagai kepentingan saling bertukar.
Negara hadir secara minimalis melalui distribusi bantuan, sementara berbagai kepentingan ekonomi tumbuh dan berkelindan di dalam arena politik. Bansos pun berpotensi menjadi bagian dari “bisnis politik kesejahteraan”, di mana kesejahteraan masyarakat diperlakukan sebagai komoditas elektoral.
Bansos sebagai Teknologi Depolitisasi
Persoalan utama bansos di NTT sebenarnya bukan terletak pada niat baik negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa bantuan sosial membantu banyak keluarga miskin bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit. Namun persoalan mendasarnya adalah absennya transformasi struktural. Ketika bansos tidak diarahkan pada penguatan kapasitas produktif masyarakat, ia berisiko menjadi instrumen depolitisasi.
Masyarakat dibuat sibuk dengan perjuangan sehari-hari untuk bertahan hidup, sementara kesadaran kritis terhadap struktur ketidakadilan melemah. Dalam perspektif Foucault, inilah salah satu bentuk teknologi kekuasaan modern. Kekuasaan tidak lagi bekerja dengan menindas secara langsung, tetapi dengan mengelola kehidupan sedemikian rupa sehingga masyarakat tetap berada dalam batas-batas tertentu. Masyarakat menerima bantuan, tetapi tidak memperoleh alat untuk membebaskan diri dari ketergantungan.
Di sinilah letak paradoks pembangunan dari pinggiran: negara hadir dengan sangat nyata melalui bantuan sosial, tetapi ketidakhadiran negara justru terasa dalam transformasi ekonomi jangka panjang.
Percabangan Anamnetik Pahlawan
Dalam refleksi yang lebih dalam, situasi ini mengingatkan kita pada apa yang dapat disebut sebagai percabangan anamnetik pahlawan. Ingatan kolektif tentang para pahlawan nasional selalu mengandung pesan tentang keberanian, pengorbanan, dan pembebasan dari ketidakadilan. Namun ingatan tersebut sering kali berhenti pada simbol dan peringatan seremonial.
Anamnesis—sebagai proses mengingat secara kritis—seharusnya tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menuntut keberanian untuk membaca realitas masa kini. Jika para pahlawan dahulu berjuang melawan kolonialisme politik, maka tantangan generasi sekarang adalah menghadapi bentuk-bentuk kolonialisme baru: ketimpangan ekonomi, ketergantungan struktural, dan manipulasi politik kesejahteraan.
Mengingat para pahlawan berarti melanjutkan semangat pembebasan mereka dalam konteks zaman yang berbeda.
Menuju Pembangunan yang Membebaskan
Jika pembangunan dari pinggiran benar-benar ingin diwujudkan, maka bantuan sosial harus dipahami sebagai jembatan menuju kemandirian, bukan sebagai sistem ketergantungan yang permanen. Bansos harus diarahkan untuk memperkuat kapasitas produktif masyarakat melalui investasi jangka panjang dalam pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal. Tanpa transformasi ini, bantuan sosial hanya akan menjadi mekanisme stabilisasi sosial yang mempertahankan status quo.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi sering kali kekurangan keberanian politik untuk melakukan perubahan struktural. Pertanyaan yang harus diajukan hari ini adalah: ke mana arah pembangunan bangsa ini? Apakah negara akan terus mempertahankan model kesejahteraan yang bersifat karitatif dan jangka pendek, ataukah berani membangun sistem ekonomi yang benar-benar memberdayakan masyarakat?
Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya menentukan masa depan NTT sebagai wilayah pinggiran, tetapi juga menentukan arah moral demokrasi Indonesia. Karena pada akhirnya, pembangunan yang sejati bukanlah pembangunan yang membuat rakyat bergantung, melainkan pembangunan yang membebaskan manusia untuk berdiri dengan martabatnya sendiri.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












