Daerah  

Sodikin Terpaksa Jual Sertifikat Tanah untuk Baju Lebaran Anak, Libur Melaut Karena Cuaca

Kesedihan Nelayan Akibat Cuaca Ekstrem

Kebahagiaan saat Lebaran tidak bisa dirasakan oleh para nelayan di Semarang. Mereka terpaksa menggadaikan sertifikat tanah demi bisa merayakan hari raya Idul Fitri. Hal ini disebabkan oleh cuaca ekstrem yang membuat mereka tidak bisa melaut.

Cuaca ekstrem, khususnya musim baratan, berlangsung sejak Januari 2026. Kondisi ini menyebabkan para nelayan harus menghentikan aktivitas melaut mereka. Salah satu nelayan dari Tambaklorok, Semarang Utara, Sodikin (55) mengatakan bahwa ia terpaksa menggadaikan sertifikat tanah untuk membeli baju baru bagi anak-anaknya.

“Anak-anak nangis minta baju baru, ya terpaksa melakukan itu, penting anak tidak menangis,” ujarnya. Hasil uang dari gadai tersebut digunakan sebagai modal untuk tidak melaut selama beberapa hari. Ia merencanakan libur melaut hingga 10 hari karena cuaca laut masih tidak ramah.

Selain itu, pergi melaut saat Lebaran juga terasa percuma karena Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pasar banyak yang libur. “Misal maksa melaut jual ikannya bingung ke mana,” katanya. Baginya, selama Lebaran wajib untuk tidak melaut sebagai bentuk menghormati hari raya Idulfitri. “Ya kami rayakan hari raya dulu sambil perbaiki alat tangkap sehingga lebih siap melaut saat cuaca nanti sudah cerah,” jelasnya.

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Mitra Bahari Tambaklorok, Semarang Utara, Mashur (52) menjelaskan bahwa jumlah nelayan di pesisir Tambaklorok mencapai 700 hingga 800 orang. Selama lebaran, mereka memilih meliburkan diri dengan memarkirkan 600 perahunya di dermaga Tambaklorok, Banjir Kanal Mati, dan Sungai Kalibanger.

“Ya kami memilih libur setidaknya satu minggu karena Lebaran dan cuaca juga masih belum bersahabat,” katanya. Ia menyebut, cuaca di laut belum terlalu ramah bagi nelayan sejak Januari lalu. Cuaca sempat membaik pada dua minggu terakhir. Namun, beberapa kali tiba-tiba cuaca kembali buruk.

“Ya dalam dua minggu terakhir saya melaut bisa dihitung jari, sehari berangkat, liburnya bisa empat hari,” jelas nelayan kerang hijau itu. Atas kondisi itu, Mashur memutar otak agar bisa mencukupi kebutuhan Lebaran. Ia pun sempat menjadi kuli bangunan.

Ia mengharapkan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dari tengkulak ikan. “Ya tidak banyak (nilai THR), tapi berharap untuk bisa mencukupi kebutuhan lain,” tuturnya.

Pemudik Harus Menyisihkan Uang Sedikit demi Sedikit

Selain nelayan, sejumlah pemudik juga harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan demi bisa pulang kampung saat Lebaran 2026. Hal itu dirasakan Karsini (51), warga Ancol, Jakarta Utara, yang mudik ke Purwokerto bersama keluarga melalui Terminal Bus Tanjung Priok.

Karsini mengatakan, dengan penghasilan yang terbatas, ia dan keluarganya harus menabung jauh-jauh hari agar dapat membeli tiket bus untuk pulang ke kampung halaman. “Kalau mahal ya kesulitan, pastilah namanya kita kan orang kerjanya pemasukan kecil ya. Nyisih-nyisihin duit buat beli tiket, kalau ada lebih ya tabung dikit-dikit,” kata Karsini saat ditemui di Terminal Tanjung Priok, Minggu (15/3/2026) malam.

Ia berangkat mudik bersama suami dan tiga cucunya. Total ada lima orang dalam rombongan keluarga tersebut yang berangkat menuju Purwokerto, Jawa Tengah. Menurut Karsini, harga tiket bus pada masa arus mudik tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan hari biasa. Untuk perjalanan ke Purwokerto, ia menyebut harga tiket berkisar antara Rp 310 ribu hingga Rp 320 ribu per orang dengan menaiki bus Sinar Jaya.

“Lumayan mahal sih ya sekarang soalnya sudah dekat mau Lebaran. Biasanya sekitar Rp 250 ribuan,” ujarnya. Meski demikian, Karsini tetap memilih berangkat lebih awal sebelum puncak arus mudik Lebaran. Ia menilai jika berangkat mendekati hari raya, kondisi terminal maupun jalanan akan jauh lebih padat.

“Kalau mendekati Lebaran biasanya padat banget, jadi lebih baik berangkat sekarang saja. Kebetulan sekolah anak-anak juga sudah libur,” kata dia. Rencananya, Karsini dan keluarganya akan berada di kampung halaman selama kurang lebih dua minggu. Ia harus kembali ke Jakarta sebelum cucunya kembali masuk sekolah pada akhir Maret.

Selain bersilaturahmi dengan keluarga besar, Karsini juga sudah menyiapkan sedikit uang untuk dibagikan kepada keponakan-keponakannya saat Lebaran nanti. “Walaupun sedikit-sedikit ya demi ponakan, biasanya begitu kalau Lebaran,” pungkasnya.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *