Budaya  

Galeri Kapsul Waktu: Merawat Kenangan Masa Lalu dengan Benda Zaman Dulu

Pengalaman Mengumpulkan Kenangan Masa Lalu di Galeri Kapsul Waktu



Rumah kecil di Kelurahan Sungai Sapih, Kota Padang, Sumatra Barat, tampak biasa-biasa saja. Namun, di balik pintu yang terbuka, pengunjung akan menemukan sesuatu yang unik dan penuh makna. Di dalam rumah seluas 6×8 meter persegi, ribuan barang keperluan sehari-hari disusun rapi, mulai dari sampo, sabun, mainan, koran, uang kuno hingga komik. Namun, semua barang tersebut bukanlah untuk dijual atau digunakan. Semua barang itu adalah produk yang sudah kadaluarsa, berasal dari era 1980-an, 1990-an, hingga 2000-an.

“Setiap barang yang ada di sini adalah kenangan masa lalu. Barang-barang ini menghidupkan kembali kenangan masa lampau bagi sebagian orang,” kata Rivaldo Ferdian, pemilik Galeri Kapsul Waktu.

Awal Mula Hobi Mengumpulkan Barang Jadul

Rivaldo memulai perjalanannya dengan mengumpulkan barang jadul sejak beberapa tahun lalu. Ia juga yang merancang salah satu ruangan di rumahnya agar terlihat seperti warung kelontong pada era 1980-an. Tujuannya adalah untuk membuat konten dan menjaga keutuhan barang-barang yang ada di sana. “Kebanyakan barang yang ada di sini belum pernah dibuka sebelumnya,” ujarnya.

Perjalanan Rivaldo dalam mengumpulkan barang jadul tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus melewati berbagai tantangan dan rintangan untuk mendapatkan barang-barang yang dulu pernah dijual di toko-toko kecil. Pada awalnya, Rivaldo hanya mengumpulkan iklan-iklan jadul dari majalah-majalah lama yang ia temui di toko buku lama. Dari situ, ia menjadi penasaran dan mulai mencari barang-barang tersebut secara mandiri.

Perjalanan Menemukan Barang-Barang Bersejarah

Rivaldo mulai mengunjungi berbagai warung-warung kelontong di Kota Padang, terutama di daerah pinggiran yang diperkirakan masih menyimpan barang-barang lama. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia menemukan sebuah warung di Solok yang telah tutup selama bertahun-tahun. Pemilik warung tersebut menyimpan barang-barang tersebut sebagai kenangan atas anaknya yang sudah meninggal dunia.

“Menurut cerita bapak itu, warung tersebut tutup karena istrinya sakit dan ia tidak sempat lagi membuka warungnya. Saat saya sampai di sana, ternyata baru hari itu bapak itu membuka kembali warungnya,” katanya. Rivaldo akhirnya berhasil meyakinkan sang pemilik untuk menjual barang-barang di warung tersebut.



Dari pengalaman itu, Rivaldo mulai mengembangkan konten tentang barang-barang jadul di media sosial seperti Instagram dan YouTube. Awalnya, ia tidak berniat membuat konten, tetapi adiknya menyarankan hal itu. “Karena basic saya juga seniman, saya membuat itu sebagai bentuk karya saja,” ujarnya.

Tanggapan Positif dari Warganet

Konten-konten yang dibuat oleh Rivaldo mendapat respons positif dari warganet. Ribuan orang mulai mengikuti akun media sosialnya, dan perjalanan Rivaldo dalam mencari barang-barang jadul terus berlanjut. Bahkan, pada 2022, ia menerima pesan dari seorang pengikut di Kalimantan yang bersedia mengirimkan seluruh koleksinya tanpa biaya.

“Barang-barang yang dikirimkan itu sangat mengejutkan. Ada bedak yang dijual pada tahun 1890-an dan beberapa barang lain yang berusia ratusan tahun,” ujarnya. Selain itu, ratusan mainan yang terpajang di galeri juga merupakan barang masa kecil Rivaldo yang menyimpan banyak kenangan.

Hobi Sejak Kecil dan Perkembangan Galeri

Rivaldo mengaku memiliki hobi mengumpulkan barang jadul sejak kecil pada 1980-an. Awalnya, ia mengumpulkan gambar-gambar kartun yang dicetak pada kertas. Hobinya berkembang hingga ia merantau ke Pulau Jawa dan bekerja sebagai tenaga penjual produk. Di Yogyakarta, ia menemukan berbagai gambaran yang dibuat mulai dari tahun 1960-an hingga 1990-an.

“Di sana, akhirnya saya menemukan kembali gambaran yang sempat saya koleksi saat masih kecil,” ujarnya. Dari para kolektor gambaran itu, ia mendapatkan pesan yang akhirnya terwujud dalam Galeri Kapsul Waktu yang dirancang mirip dengan warung pada 1980-an.



Barang-barang di galeri tersebut sebagian besar hanya untuk koleksi dan berbagi memori masa lalu dengan para pengunjung. “Untuk koleksi seperti perangko, uang lama dan beberapa koleksi lainnya kalau ada yang mau beli saya jual. Tapi kalau untuk produk yang ada di warung dan koleksi mainan itu tidak saya jual,” katanya.

Konten dan Pendapatan

Rivaldo menjelaskan bahwa kebanyakan barang di galeri digunakan untuk konten di media sosialnya serta berbagi dengan kreator lainnya. Pendapatan utamanya berasal dari endors dan adsens di YouTube. “Alhamdulillah sampai saat ini masih cukup untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Galeri Kapsul Waktu tidak hanya berdiri untuk kepuasan dirinya sendiri. Tempat itu terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat dan mengenang masa lalu melalui berbagai barang. “Siapa saja yang ingin ke sini boleh saja. Tidak hanya yang di Sumatra Barat. Dari daerah lain juga banyak yang berkunjung ke sini untuk melihat koleksi di sini,” katanya.



Ada pengunjung yang terharu saat melihat barang-barang tertentu. Misalnya, pasangan yang datang pada 2024 lalu, salah satu pengunjung perempuan langsung menangis saat melihat produk bedak yang sering digunakan oleh orang tuanya. Produk itu membawa kenangan masa lalu saat sang ibu masih hidup.

Rivaldo juga pernah menerima permintaan dari warganet yang ingin mendapatkan sampo yang menjadi kenangan masa lalunya. Meski sulit, Rivaldo akhirnya mengirimkan sampo tersebut tanpa meminta bayaran.



Di Galeri Kapsul Waktu, sejumlah pengunjung mengapresiasi keberadaan tempat itu. Salah satu pengunjung, Dian Albert, mengatakan ia ke sini untuk melihat salah satu produk bedak yang sering ia gunakan saat masih kecil.



Dengan melihat dan mencium aroma dari bedak itu, ia bisa mengingat kembali masa kecilnya dan momen dimandikan oleh sang ibu. Galeri Kapsul Waktu tidak hanya menjadi tempat koleksi, tetapi juga menjadi tempat untuk merawat memori masa lalu.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *