Budaya  

Warga Jaton Reksonegoro Mengaduk Jenang Lebaran Selama 8 Jam

Tradisi Mengaduk Jenang di Desa Reksonegoro, Gorontalo

Di sebuah desa yang terletak tidak jauh dari Bandara Djalaluddin di Gorontalo, masyarakat masih mempertahankan tradisi unik yang berlangsung setiap tahun. Tradisi ini menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran Ketupat, yang tidak hanya sekadar momen kebersamaan tetapi juga simbol identitas budaya yang kuat.

Tradisi yang dikenal dengan nama Bakdo Kupat atau Lebaran Ketupat selalu diawali dengan pembuatan jenang. Jenang adalah hidangan khas yang biasanya disajikan bersama ketupat dan lauk lainnya. Namun, proses pembuatannya sangat rumit dan memakan waktu lama. Di Desa Reksonegoro, jenang dibuat dalam kuali besar dengan diameter satu meter. Proses pengadukan dilakukan secara bersama-sama oleh warga, baik laki-laki maupun perempuan, hingga anak-anak turut ambil bagian.

Proses pengadukan jenang dimulai sejak pagi hari. Warga berkumpul di halaman belakang rumah, sementara api kayu bakar mengepul dari tungku besar. Suara kayu pengaduk yang beradu dengan dasar kuali menciptakan ritme yang khas. Selama delapan jam, adukan harus terus dijaga agar tidak gosong. Jika lengah sedikit saja, bagian bawah jenang bisa mengeras dan merusak rasa.

“Harus terus diaduk, tidak boleh berhenti. Biasanya gantian,” ujar Yulia Bobihu, salah satu warga yang ikut dalam proses pembuatan jenang. Bagi warga Desa Reksonegoro, proses ini bukanlah beban, melainkan momen kebersamaan yang penuh makna.

Mengaduk jenang dikenal dengan istilah “bagado” dalam bahasa Jaton. Proses ini dijalani dengan penuh kesabaran dan kekompakan. Mereka bergantian memegang pengaduk kayu panjang, sambil sesekali bercanda untuk mengusir lelah. Aroma manis gula merah yang berpadu dengan santan semakin kuat seiring waktu. Warna jenang perlahan berubah menjadi lebih pekat, menandakan adonan mulai matang.

“Kami celupkan piring plastik ke dalam jenang. Kalau masih menempel, artinya belum matang,” katanya. Menjelang sore, tekstur jenang mengental sempurna. Pengadukan pun semakin berat, namun semangat warga justru semakin terasa. Ini menjadi penanda bahwa hidangan khas Lebaran Ketupat hampir siap disajikan.

Jenang yang telah matang kemudian didinginkan semalaman sebelum dipotong. “Biasanya kami diamkan semalaman. Besoknya baru dipotong kecil-kecil lalu digulung dengan daun woka,” ujarnya. Jenang dalam balutan woka berwarna kuning itu kemudian dibagikan kepada warga. Hidangan ini menjadi pelengkap ketupat dan berbagai lauk saat hari puncak perayaan.

Lokasi Desa Reksonegoro

Desa Reksonegoro terletak di Kecamatan Tibawa, Gorontalo. Meskipun secara geografis tidak terlalu mencolok di peta, desa ini tampak membentang di antara hamparan hijau lahan pertanian. Permukiman warga mengikuti jalur-jalur jalan kecil, yang membuat desa ini terlihat tenang dan agraris.

Letak desa ini tidak jauh dari jalur utama Trans Sulawesi dan berada di sekitar kawasan Bandara Djalaluddin. Oleh karena itu, warga kerap menyebutnya sebagai “desa belakang bandara”. Sesekali, suara pesawat yang melintas menjadi latar yang kontras dengan suasana desa yang tenang dan agraris.

Reksonegoro dikelilingi oleh desa-desa lain di Kecamatan Tibawa, membentuk kawasan yang hidup dari pertanian dan aktivitas sederhana sehari-hari. Lanskap kebun yang luas menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang interaksi warga. Meski secara geografis cukup strategis, ritme kehidupan di desa ini tetap berjalan pelan.

Tradisi yang Tetap Dipertahankan

Di tengah arus modernisasi, tradisi mengaduk jenang selama berjam-jam ini tetap dipertahankan. Bagi masyarakat Desa Reksonegoro, jenang bukan sekadar makanan, melainkan identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi. Proses pembuatan jenang tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan akan hidangan, tetapi juga menjadi bentuk perayaan kebersamaan dan kekompakan.

Dalam tradisi ini, setiap langkah memiliki makna. Dari pengadukan yang memakan waktu lama hingga pembagian jenang yang dilakukan secara merata, semua proses dilakukan dengan penuh rasa hormat terhadap warisan budaya yang sudah ada sejak lama. Dengan demikian, jenang menjadi simbol kebersamaan dan identitas yang tak pernah pudar.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *