Di Tengah Hujan, Anak-Anak NTT Bercahaya Harapan

Perayaan Hari Kesadaran Autisme di NTT

Di halaman UPTD Taman Budaya Gerson Poyk, Kupang, hujan turun cukup deras pada sore hari Jumat (10/4/2026). Namun, cuaca yang basah tidak mengurangi semangat puluhan anak dengan spektrum autisme yang tampil penuh percaya diri di atas panggung. Mereka menunjukkan bakat mereka melalui berbagai penampilan seperti menyanyi, menari, membaca puisi, memainkan musik, dan menyampaikan pesan sederhana.

Pada hari itu, di hadapan orang tua, guru, dan tamu undangan, para anak menunjukkan bahwa mereka mampu, berbakat, dan layak mendapatkan ruang untuk berkembang. Momen ini terasa lebih hangat ketika Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, hadir langsung dan disambut antusias oleh anak-anak. Beberapa dari mereka bahkan berlari kecil mendekat, tersenyum, seolah ingin menunjukkan kebanggaan atas karya yang baru saja ditampilkan.

“Anak-anak ini istimewa. Mereka punya kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Ini adalah berkat,” ujar Johni. Ia menekankan bahwa peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia bukan hanya sekadar seremoni, tetapi juga menjadi ruang harapan bagi banyak orang tua. Di antara kerumunan, tampak seorang ibu yang tak kuasa menahan haru saat anaknya berhasil menyelesaikan penampilan membaca puisi.

Baginya, itu bukan sekadar tampil di panggung, melainkan perjalanan panjang dari proses menerima, memahami, hingga mendampingi. Ketua Komunitas Autis NTT, Adriana Bunakala, menegaskan bahwa anak-anak dengan autisme bukanlah “masalah” yang harus diperbaiki, melainkan individu dengan cara berpikir berbeda yang perlu dipahami.

“Mereka hanya butuh dukungan, kasih sayang, dan ruang. Dengan itu, mereka bisa berkembang dan hidup bahagia,” kata Adriana. Di atas panggung, satu per satu anak tampil tanpa beban. Ada yang masih canggung, ada yang percaya diri, bahkan ada yang mengundang tawa dan tepuk tangan meriah. Namun semua memiliki satu kesamaan yakni keberanian untuk mengekspresikan diri.

Dalam sambutannya, Johni juga membagikan kisah inspiratif Michael Phelps, legenda renang dunia yang pernah mengalami ADHD di masa kecilnya. Kisah itu menjadi jembatan harapan bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari kekuatan. “Tidak ada yang mustahil. Dengan disiplin dan kerja keras, kalian bisa menjadi hebat,” pesannya kepada anak-anak yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

Pemerintah Provinsi NTT, kata Johni, berkomitmen memperluas akses pendidikan inklusif, layanan kesehatan, serta membuka lebih banyak ruang partisipasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Namun ia menegaskan, membangun lingkungan yang inklusif bukan hanya tugas pemerintah. “Semuanya dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita harus hadir untuk mereka,” katanya.

Di balik panggung, orang tua saling berbagi cerita tentang tantangan, stigma, hingga perjuangan menerima kondisi anak. Kini, perlahan, penerimaan itu tumbuh. Komunitas menjadi tempat saling menguatkan, dan acara seperti ini menjadi bukti bahwa perubahan sedang berjalan. Hujan pun perlahan reda. Namun energi yang tersisa di tempat itu terasa lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi simbol bahwa di tengah segala keterbatasan, anak-anak istimewa ini terus menemukan cara untuk bersinar, dengan cara mereka sendiri.




Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *