Guru PAI yang Mengubah Pendidikan di Era Globalisasi

Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Bangsa

Guru pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam hajat hidup dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini terkait dengan ideologi Pancasila yang pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Oleh karena itu, aspek pendidikan ketuhanan menjadi hal yang sangat fundamental dalam membangun manusia Indonesia.

Indonesia memiliki enam agama yang diakui, yakni Islam sebagai mayoritas, kemudian Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Setiap agama memiliki pendidikan khusus serta guru masing-masing agama. Hal ini menjelaskan bahwa agama merupakan fondasi utama dalam pendidikan untuk membentuk karakter manusia sesuai tujuan pendidikan nasional.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuannya adalah agar potensi peserta didik berkembang menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dari semua poin tersebut, nilai karakter berada pada poin utama lalu diikuti dengan keterampilan yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis. Artinya, pendidikan nasional menghendaki bahwa manusia Indonesia tidak hanya berilmu pengetahuan, namun juga berakhlak baik.

Beberapa pepatah mengatakan, ilmu tanpa akhlak adalah bagaikan pohon tanpa buah. Dia akan tumbuh subur, namun tidak akan menghasilkan buah yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Atau seperti ungkapan lain, ilmu tanpa akhlak akan pincang, akhlak tanpa ilmu akan buta. Artinya, orang berilmu pengetahuan luas akan berbahaya jika tidak memiliki dasar akhlak yang baik, karena ilmu bisa digunakan untuk kejahatan. Namun jika ilmu disertai akhlak yang baik, ia akan sangat bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Lalu, apa hubungannya dengan arus globalisasi pendidikan di Indonesia? Bentuk globalisasi pendidikan adalah masuknya pengaruh dunia ke sistem pendidikan Indonesia. Bisa berupa teknologi, budaya, standar pendidikan maupun kurikulum. Makin maju zaman, era globalisasi makin nyata, termasuk dalam dunia pendidikan.

Akses informasi yang semakin cepat membuat kita bisa mengetahui kemajuan di belahan negara lain. Misalnya dalam tolok ukur pendidikan yang mendunia, seperti PISA. Hal ini membuat kita berusaha mengejar nilai PISA agar tidak kalah dengan negara lain, karena menjadi standar kualitas pendidikan dunia. Kemudian kita juga memiliki nilai AKM, hal ini juga menjadi agenda tahunan sekolah untuk berusaha bagaimana agar nilai AKM tidak jatuh.

Selain itu, bentuk globalisasi pendidikan lainnya di Indonesia adalah munculnya banyak lembaga pendidikan yang mengadopsi kurikulum luar negeri. Sekolah-sekolah internasional. Lalu ada juga dalam bentuk teknologi seperti Google dan berbagai platform pendidikan yang sedang berkembang.

Semua itu adalah arus globalisasi pendidikan yang menggerus di Indonesia. Semuanya bisa menjadi berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif. Dampak positifnya seperti mutu meningkat, daya saing meningkat, akses ilmu luas, dan kolaborasi yang global. Dampak negatifnya seperti westernisasi nilai, kesenjangan digital antara sekolah perkotaan dan daerah tertinggal, serta komersialisasi pendidikan.

Bagaimana kita sebagai guru pendidikan agama Islam (PAI) menyikapi agar tetap bisa mencapai tujuan pendidikan nasional? Dalam tujuan pendidikan nasional tadi jelas mengedepankan manusia yang berakhlak. Namun dengan arus globalisasi pendidikan, kita tetap harus berusaha di saat sekolah mengejar nilai-nilai untuk memenuhi standar nasional, bahkan internasional.

Manusia Indonesia memang harus menjadi manusia yang berakhlak baik dan berilmu pengetahuan yang luas. Hal ini menjadi tantangan serius bagi kita guru PAI. Jika hanya mengikuti pola, maka pembelajaran PAI akan tertinggal. Ketika mapel lain sibuk dengan pembahasan rumus baru, metode baru, pendekatan baru, maka guru PAI juga harus membahas itu semua agar tidak ketinggalan.

Guru PAI bisa menjadikan globalisasi pendidikan itu sebagai sarana untuk pembelajaran. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi. Namun, hal itu tidak cukup untuk menghasilkan manusia yang berakhlak baik. Perlu ada upaya ekstra agar PAI makin meresap dalam ingatan dan menjadi kebiasaan peserta didik, yaitu dengan memanfaatkan hidden curriculum atau budaya sekolah.

Guru PAI harus mendesain bagaimana budaya sekolah untuk diterapkan di sekolah agar menjadi kebiasaan sehari-hari, seperti beribadah harian, bersikap sopan santun, kejujuran, dan mulai belajar berkata baik dalam sehari-hari.

Apalagi bagi guru PAI di sekolah-sekolah negeri, yang pembelajaran PAI-nya hanya seminggu sekali. Maka perlu membuat program khusus unggulan pendidikan agama Islam untuk diterapkan dalam keseharian, seperti penerapan sunah-sunah Rasulullah Saw. Misalnya senyum dan salam, bicara yang baik, jujur, dahulukan kanan, rendah hati, pemaaf.

Program lain yang bisa dilaksanakan seperti salat Duha, salat Zuhur berjemaah, membaca doa, hafalan ayat-ayat pilihan, hafalan doa pilihan, menjaga kebersihan, adab makan minum, menghormati orang tua dan guru. Semuanya harus dilakukan dengan konsisten dan dijadikan budaya sekolah sehingga dengan jam pelajaran mapel PAI yang ada, tujuan pendidikan nasional untuk membentuk manusia Indonesia yang berakhlak baik bisa tetap tercapai.

Ulfa Nurul Imani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *