Peran Apoteker dalam Pencegahan Stunting di NTT
Stunting, sebuah kondisi yang menyebabkan anak tumbuh lebih pendek dari seharusnya akibat kekurangan gizi jangka panjang, kini menjadi isu penting di berbagai daerah Indonesia. Masalah ini biasanya dimulai sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan atau 1000 HPK, fase paling kritis untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Jika asupan gizi, layanan kesehatan, atau pola pengasuhan tidak memadai pada tahap ini, dampaknya bisa bertahan hingga masa dewasa.
Stunting bukan hanya tentang tinggi badan yang kurang optimal. Anak dengan kondisi ini cenderung lebih rentan sakit, kemampuan belajar menurun, dan produktivitas di masa depan terganggu. Oleh karena itu, pencegahan stunting menjadi agenda utama di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan akses gizi dan layanan kesehatan terbatas.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), upaya pencegahan stunting menghadapi tantangan beragam. Faktor-faktor lokal seperti kondisi geografis, jarak antar desa, cuaca ekstrem, dan transportasi yang tidak menentu turut memengaruhi efektivitas intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada kemampuan sistem kesehatan untuk menjangkau masyarakat di lokasi terpencil.
Fluktuasi Prevalensi Stunting di NTT
Data SSGI mencatat fluktuasi prevalensi stunting di NTT dari 2018 hingga 2024. Pada 2018, angka ini sebesar 42,6 persen, naik menjadi 43,8 persen pada 2019, lalu menurun ke 40 persen pada 2020 dan 37,8 persen pada 2021. Pada 2022, angka turun lagi ke 35,3 persen, namun kembali naik ke 37,9 persen pada 2023 dan berada di 37 persen pada 2024.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting selama lima tahun terakhir belum berhasil membentuk penurunan yang konsisten. Data e-PPGBM juga menunjukkan tren penurunan sejak 2018, namun pada 2024 justru kembali naik dari 15,2 persen menjadi 16,9 persen. Target pada 2025 adalah prevalensi stunting NTT sebesar 33,1 persen, sementara target nasional berada di 18,8 persen. Namun dengan SSGI 2024 masih di angka 37 persen, tantangan masih nyata.
Peran Apoteker dalam Intervensi Gizi
Salah satu celah yang terlihat dalam upaya pencegahan stunting adalah ketidakjelasan peran apoteker dalam sistem kesehatan. Sesungguhnya, apoteker memegang peran strategis di Puskesmas. Data Profil Kesehatan NTT tahun 2024 mencatat jumlah apoteker yang bekerja di Puskesmas sebanyak 316 orang, tersebar di berbagai kabupaten. Namun, data ini tidak merinci distribusi per Puskesmas.
Posisi apoteker berada tepat di simpul pergerakan obat dan suplemen yang bersentuhan langsung dengan balita, remaja putri, pasangan usia subur, dan ibu hamil. Mereka memastikan mutu tablet tambah darah, memantau ketersediaan obat cacing, serta mengawasi distribusi mikronutrien tambah darah, zinc, vitamin C, dan suplemen lain yang digunakan dalam program gizi.
Mereka juga membaca pola penggunaan obat yang memberi petunjuk awal tentang kondisi gizi, mulai dari kepatuhan konsumsi, keluhan efek samping, hingga tanda-tanda anemia. Namun, dalam beberapa pedoman operasional, kontribusi ini belum tercantum secara jelas dan tegas. Akibatnya, peran apoteker sering kali masih berjalan dari balik panggung.
Tantangan dan Peluang di Lapangan
Profil Kesehatan NTT tahun 2024 juga menunjukkan bahwa NTT memiliki lebih dari 440 Puskesmas yang tersebar dari lembah, bukit, hingga pulau-pulau kecil. Namun jumlah apoteker masih belum sebanding dengan kebutuhan layanan dasar. Kondisi ini membuat banyak Puskesmas harus bekerja dengan tim yang terbatas.
Di lapangan, apoteker mengambil peran luas: memastikan remaja putri, calon pengantin, atau calon ibu dan ibu hamil benar-benar mengonsumsi tablet tambah darah; memastikan ketersediaan obat cacing dan penggunaannya pada balita; ikut dalam pemeriksaan status anemia pada remaja putri; menjamin ketersediaan imunisasi serta cakupan imunisasi; dan membantu materi edukasi posyandu seperti edukasi tentang pentingnya ASI eksklusif dan MP-ASI.
Penelitian yang dilakukan Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa kompetensi apoteker sangat relevan dengan pencegahan stunting. Mereka terbiasa menilai keamanan suplementasi, memantau kepatuhan, dan memastikan rantai pasok tetap terjaga. Hal ini sangat penting di wilayah dengan topografi unik seperti NTT.
Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa apoteker jarang dilibatkan dalam penyusunan rencana program gizi atau tim percepatan penurunan stunting. Pelatihan pun lebih banyak menyasar profesi lain. Apoteker bekerja, tetapi ruang gerak belum didefinisikan dengan jelas.
Kesimpulan
Kondisi geografis NTT yang menantang menuntut optimalisasi peran semua profesi di bidang kesehatan. Ketika apoteker diberi posisi yang jelas, pelayanan bisa lebih akurat: distribusi suplemen terpantau, edukasi lebih seragam, dan penggunaan obat lebih aman. Tanpa struktur yang mendukung, potensi itu tidak bisa muncul secara merata.
Gambaran dari lapangan ini menegaskan bahwa pencegahan stunting bukan hanya urusan program, melainkan bagaimana setiap profesi kesehatan diberi ruang untuk berkarya. Apoteker mungkin tidak selalu tampil di depan, tetapi mereka menjadi penghubung penting dalam rantai intervensi. Mereka memastikan suplemen tidak hanya tersedia tetapi benar-benar digunakan. Mereka menjaga mutu, memantau risiko, dan mengisi celah kecil yang sering menentukan keberhasilan sistem.
Di tengah upaya besar menurunkan prevalensi stunting, apoteker puskesmas berjalan sebagai garda sunyi. Dan barangkali sudah saatnya kesunyian itu berubah menjadi pengakuan. Penguatan peran mereka tidak cukup hanya dengan menambah jumlah apoteker. Poin yang lebih penting adalah memastikan peran mereka benar-benar diakui di dalam sistem, karena setiap langkah dalam pelayanan gizi, mulai dari memastikan suplemen tersimpan dengan benar hingga memantau kepatuhan minum tablet tambah darah, ikut menentukan masa depan seorang anak.












