Hancurkan Sistem Rudal THAAD Washington, Iran Klaim Tewaskan 500 Tentara AS

Eskalasi Konflik Timur Tengah yang Membahayakan

Kawasan Timur Tengah kini berada di ambang krisis terparah dalam sejarah. Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mencapai titik puncaknya, dengan serangan-serangan yang semakin ganas dan mematikan.

Dalam waktu kurang dari sepekan, Teheran mengumumkan sejumlah klaim yang mengejutkan: mulai dari kemampuan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara AS hingga menewaskan ratusan tentara Paman Sam. Gelombang serangan ini adalah balasan langsung dari Iran atas kegagalan kesepakatan nuklir yang akhirnya memicu serangan udara gabungan AS-Israel di Teheran, yang mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Sindiran Keras untuk Trump

Salah satu klaim paling mengejutkan datang dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. Melalui akun X-nya, Larijani menyatakan bahwa militer AS telah kehilangan sedikitnya 500 prajurit sejak terlibat dalam bantuan kepada Israel. Klaim ini digunakan oleh Larijani sebagai bentuk sindiran terhadap narasi politik Presiden AS Donald Trump yang selama ini menggaungkan slogan “Mengutamakan Amerika” (America First).

Menurut Larijani, AS justru mengorbankan nyawa tentaranya demi ambisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menulis:

“Tuan Trump, yang terpengaruh oleh tingkah konyol Netanyahu, telah menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tidak adil dengan Iran. Sekarang dia harus menghitung: dengan lebih dari 500 tentara Amerika tewas hanya dalam beberapa hari terakhir, apakah Amerika masih yang utama—atau Israel?”

Larijani juga menegaskan bahwa operasi besar-besaran ini belum akan berhenti sampai dendam atas kematian pemimpin tertinggi mereka terbalaskan secara tuntas. “Kisah ini berlanjut. Kemartiran Imam Khamenei akan menuntut harga yang mahal dari kalian. Insya Allah,” tegasnya.

AS Bantah Klaim 500 Tewas, Akui 4 Prajurit Gugur

Di sisi lain, Washington belum membenarkan klaim fantastis dari Teheran tersebut. Pihak AS mengonfirmasi bahwa enam tentaranya terkena serangan balasan Iran pada Sabtu (27/2/2026), dengan empat di antaranya gugur. Berdasarkan laporan Fox News, para tentara yang tewas tersebut mayoritas masih berusia di bawah 40 tahun.

Mereka adalah Kapten Cody A. Khork (35) dari Florida; Sersan Kelas 1 Noah L. Tietjens (42) dari Nebraska; Sersan Kelas 1 Nicole M. Amor (39) dari Minnesota; dan prajurit termuda, Sersan Declan J. Coady (20) dari Iowa.

Meskipun mulai berjatuhan korban jiwa, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Washington tidak akan mundur selangkah pun. “Kita akan menyelesaikan ini dengan syarat-syarat yang mengutamakan Amerika sesuai pilihan Presiden Trump, bukan orang lain, sebagaimana seharusnya,” kata Hegseth.

Tembus dan Hancurkan “Perisai” THAAD

Selain korban jiwa, Iran juga mengklaim kemenangan taktis yang luar biasa. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah menemukan celah dan berhasil menghancurkan kebanggaan militer AS: sistem rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). THAAD buatan Lockheed Martin dikenal sebagai satu-satunya sistem anti-balistik canggih AS yang mampu mencegat rudal baik di dalam maupun di luar atmosfer menggunakan energi kinetik benturan langsung (hit-to-kill). Sistem ini sengaja dikerahkan Washington untuk memayungi fasilitas militer AS dan Israel.

Namun, IRGC mengklaim sistem itu tak berkutik dalam peluncuran tahap ke-17 dari Operasi Janji Sejati 4. Dengan keberhasilan penghancuran lebih dari tujuh radar canggih, mata AS dan rezim Zionis yang merebut kekuasaan di kawasan itu telah dibutakan.

Berkat jebolnya perisai THAAD tersebut, rudal-rudal Iran dilaporkan sukses menghantam gedung kementerian Israel serta Bandara Ben Gurion, yang merupakan terminal udara tersibuk di negara tersebut. Sebagai bukti, IRGC menyoroti fakta bahwa sirene peringatan udara di permukiman Israel terus menyala tanpa henti selama 100 jam terakhir.

Ratusan Rudal dan Drone Ratakan Basis AS di Timur Tengah

Konflik ini tak lagi terpusat di Israel. IRGC bersumpah untuk terus meningkatkan intensitas serangan dan memperluas jangkauannya. Sejauh ini, ratusan rudal balistik dan drone kamikaze bermuatan bahan peledak telah diluncurkan ke target-target strategis di berbagai negara. Sasarannya mencakup pangkalan militer AS, fasilitas pengeboran minyak, hingga hotel yang berafiliasi dengan kepentingan AS dan Israel di Kuwait, Bahrain, Abu Dhabi, Yordania, dan Arab Saudi.

Puncak unjuk kekuatan maritim Iran juga terlihat saat mereka mengklaim sukses menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sebuah kapal perusak Amerika di perairan Samudra Hindia. Dengan Iran yang terlihat sama sekali tidak gentar, skala kehancuran dari perang yang mengoyak jantung Timur Tengah ini tampaknya masih akan terus membesar dalam beberapa hari ke depan.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *