Perbedaan Hari Raya dalam Dunia Islam: Tantangan dan Peluang untuk Kesatuan Global
Di tengah perayaan Idul Fitri 1447 H, terdapat dinamika yang menarik di Indonesia. Meski sempat muncul ketegangan seperti pernyataan “Haram” terkait pengumuman hari raya selain otoritas pemerintah, serta pembatalan izin penyelenggaraan shalat Idul Fitri di beberapa titik, secara umum perbedaan dalam penentuan hari raya ini relatif masih kondusif. Tidak ada gesekan berarti antara komunitas Muslim di berbagai daerah.
Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia kembali menghadapi pertanyaan serupa: kapan awal Ramadhan, kapan Idul Fitri, dan kapan Idul Adha? Di satu wilayah regional bisa saja berbeda, bahkan dalam satu negara pun tidak jarang terjadi perbedaan. Fenomena ini sering dianggap sebagai hal biasa, namun dalam dunia yang semakin terhubung secara global, pertanyaan lebih mendasar muncul: sampai kapan umat Islam akan hidup tanpa sistem waktu yang menyatukan mereka?
Inilah relevansi dari gagasan kalender hijriyah global. Dalam kehidupan modern, kalender bukan hanya alat ibadah, tetapi juga instrumen peradaban. Ia mengatur ritme sosial, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan internasional. Bayangkan jika umat Islam yang jumlahnya lebih dari 2 miliar jiwa tidak memiliki satu kalender yang seragam. Idul Fitri bisa jatuh di hari yang berbeda, bahkan di negara-negara yang bertetangga. Ini bukan sekadar soal simbolik, tetapi juga menyangkut koordinasi global umat.
Dalam konteks ini, gagasan kalender hijriyah global bukan lagi sekadar wacana akademik, tetapi kebutuhan nyata. Upaya menuju ke sana sebenarnya sudah dilakukan. Konferensi internasional di Istanbul pada 2016 yang diprakarsai oleh ‘Diyanet’ Turkiye menghasilkan konsep kalender global berbasis hisab astronomi dengan prinsip “satu hari satu dunia”. Model ini juga mendapatkan dukungan dari organisasi seperti Muhammadiyah di Indonesia.
Secara ilmiah, sistem ini sangat kuat. Dengan kemajuan astronomi modern, posisi bulan dapat dihitung dengan presisi tinggi. Tidak ada lagi ketidakpastian dalam menentukan awal bulan. Lalu, jika secara ilmiah memungkinkan, mengapa belum terwujud?
Masalah Bukan Ilmu, Tapi Otoritas
Hambatan utama kalender hijriyah global bukanlah pada sains, melainkan pada otoritas. Dalam tradisi Islam, penetapan awal bulan tidak hanya persoalan teknis, tetapi juga terkait dengan otoritas keagamaan dan politik. Setiap negara memiliki mekanisme sendiri, dan dalam banyak kasus, penetapan hari raya menjadi simbol kedaulatan. Tidak ada negara yang dengan mudah bersedia menyerahkan otoritas ini kepada sistem global.
Di sinilah problem mendasarnya: umat Islam memiliki satu agama, tetapi tidak memiliki satu otoritas global yang diakui bersama. Akibatnya, setiap upaya penyatuan kalender selalu terbentur pada kepentingan nasional dan perbedaan mazhab.
Perbedaan Fikih yang Tak Sederhana
Selain faktor politik, ada juga persoalan fikih yang tidak kalah kompleks. Sebagian ulama berpegang pada rukyat (pengamatan langsung hilal) sebagai dasar utama. Sementara yang lain menerima hisab sebagai metode yang sah. Lebih jauh lagi, ada perbedaan tentang apakah rukyat harus berlaku lokal atau bisa berlaku global. Perbedaan ini telah berlangsung sejak masa klasik dan tidak pernah benar-benar diselesaikan secara final.
Karena itu, kalender global yang berbasis hisab sering dipandang oleh sebagian kalangan sebagai terlalu “rasional” dan kurang mencerminkan praktik tradisional. Namun di sisi lain, mempertahankan pendekatan lokal di era globalisasi juga menghadirkan problem baru: ketidaksinkronan yang semakin sulit dijustifikasi secara praktis.
Jalan Tengah yang Mungkin
Apakah kalender hijriyah global mustahil? Tidak. Tetapi ia tidak bisa diwujudkan secara instan. Yang lebih realistis adalah pendekatan bertahap.
- Pertama, membangun kesepakatan pada level regional. Misalnya, negara-negara Asia Tenggara melalui kerja sama kriteria bersama. Ini lebih mudah dibanding langsung menyatukan seluruh dunia.
- Kedua, menyatukan standar kriteria astronomi. Perbedaan tidak harus dihapus, tetapi dipersempit melalui parameter yang disepakati bersama.
- Ketiga, membangun kepercayaan antarnegara Muslim. Tanpa trust, tidak mungkin ada kesepakatan global.
Dengan kata lain, kalender global bukan hanya proyek ilmiah, tetapi proyek peradaban. Dan ini harus diselesaikan di tingkat kepala negara dan pemerintahan, presiden, perdana menteri dan raja atau sultan yang berkuasa di dunia Islam.
Persatuan yang Lebih dari Simbol
Sebagian orang menganggap perbedaan hari raya sebagai hal sepele. “Yang penting kan ibadahnya,” begitu sering dikatakan. Pernyataan ini benar, tetapi tidak cukup. Karena dalam realitas sosial, simbol memiliki makna yang besar. Idul Fitri bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga perayaan kolektif umat. Ketika umat merayakannya pada hari yang berbeda, ada pesan simbolik bahwa kesatuan itu belum sepenuhnya terwujud.
Kalender hijriyah global bukan sekadar soal tanggal, tetapi soal bagaimana umat Islam memandang dirinya sebagai satu kesatuan.
Antara Idealisme dan Keberanian
Pada akhirnya, persoalan kalender hijriyah global bukan tentang apakah ia mungkin atau tidak. Ia adalah soal keberanian: Keberanian untuk melampaui ego mazhab, baik ego tekstualitas turos mazhab maupun ego politik mazhab di tiap kawasan. Keberanian untuk berbagi otoritas. Dan keberanian untuk membayangkan umat Islam sebagai satu kesatuan global, bukan sekadar kumpulan negara dan kelompok.
Selama umat masih lebih nyaman dengan otoritas masing-masing daripada mencari titik temu bersama, kalender hijriyah global akan tetap menjadi wacana. Bukan karena ia tidak mungkin, tetapi karena kita belum benar-benar menginginkannya.











