Opini  

Opini: Perang Jadi Hiburan di Era TikTok, Nyawa Kehilangan Makna

Perang di Era TikTok: Dari Medan Fisik ke Ruang Algoritmik

Di tengah konflik yang terus berlangsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, perang kini tidak lagi hanya terjadi di medan fisik. Perang kini juga berlangsung di ruang algoritmik, di mana informasi dan narasi disebarkan melalui platform digital seperti TikTok.

TikTok, salah satu platform paling populer bagi generasi sekarang, telah menjadi arena baru untuk propaganda. Di sana, pesan-pesan tidak lagi disampaikan dalam bentuk pidato resmi negara, melainkan melalui video pendek, musik dramatis, dan narasi emosional yang dirancang untuk menarik simpati. Ini menunjukkan transformasi dari propaganda klasik ke bentuk yang lebih halus, personal, dan sulit dikenali.

Dalam era ini, setiap pengguna TikTok menerima versi perang yang berbeda, sesuai dengan preferensi emosional mereka. Menurut Marshall McLuhan, medium TikTok tidak hanya menyampaikan pesan perang, tetapi juga membentuk cara perang itu dipersepsikan: cepat, visual, dan penuh emosi. Akibatnya, perang tidak lagi dipahami sebagai tragedi kemanusiaan yang kompleks, tetapi sebagai narasi sederhana tentang “pihak benar” dan “pihak salah”.

Konten-konten yang beredar di TikTok menunjukkan pola yang sama. Di satu sisi, ada video yang menunjukkan kehancuran di suatu wilayah, sering disertai dengan musik sedih dan teks naratif yang menggugah empati, seolah-olah mengajak penonton untuk berpihak. Di sisi lain, video dari kubu yang berbeda menampilkan kemenangan militer, kekuatan senjata, atau keberanian tentara dengan musik heroik yang membangkitkan kebanggaan. Dua realitas yang berbeda ini hidup berdampingan di platform yang sama, tetapi jarang saling bertemu karena dibatasi logika algoritma.

Fenomena ini mencerminkan apa yang Jean Baudrillard sebut sebagai hiperealitas, yaitu ketika representasi tidak lagi mencerminkan realitas yang sesungguhnya tetapi justru menggantikannya. Perang yang beredar dalam potongan video di TikTok bukanlah perang yang utuh, melainkan fragmen-fragmen emosional yang dirancang dan disebarkan dengan tujuan tertentu, yaitu memenangkan persepsi publik.

Selain itu, propaganda yang ditampilkan di TikTok tidak selalu berasal dari negara atau institusi resmi. Ia sering diproduksi oleh individu, konten kreator, akun anonim, bahkan pengguna biasa yang secara sadar atau tidak menjadi bagian dalam mesin propaganda digital. Dalam logika ini, setiap pengguna berpotensi menjadi “agen propaganda” yang mendukung narasi tertentu melalui like, share, dan komentar.

Dalam situasi ini, propaganda menjadi semakin berbahaya karena ia tidak terlihat seperti propaganda. Algoritma memainkan peran sentral dalam proses ini. TikTok tidak menilai kebenaran konten, tetapi tingkat keterlibatan atas video yang disebarkan. Konten yang memicu kemarahan, kesedihan, atau kebanggaan lebih mungkin tersebar luas dan menjadi viral. Dalam konteks perang, emosi-emosi tersebut menjadi bahan bakar utama propaganda.

Neil Postman pernah mengingatkan bahwa ketika informasi dikemas sebagai hiburan, makna kebenaran seringkali dikorbankan demi daya tarik. Akibatnya, publik tidak hanya disuguhi informasi, tetapi juga diarahkan untuk merasakan sesuatu, dan dari perasaan itulah posisi politik terbentuk.

Namun, di balik semua itu, ada realitas yang jauh lebih sunyi yaitu hilangnya makna nyawa manusia. Dalam derasnya arus konten, korban perang seringkali direduksi menjadi angka statistik atau objek visual. Video korban luka, reruntuhan bangunan, atau tangisan keluarga menjadi bagian dari narasi yang dikonsumsi secara cepat dan kemudian dilupakan saat tren berganti. Inilah paradoks paling tragis dari era digital di mana penderitaan manusia menjadi konten.

Dalam perspektif ekologi media, situasi ini menunjukkan bahwa lingkungan simbolik kita telah mengalami transformasi secara radikal. Kita tidak mengalami perang secara langsung, tetapi melalui representasi yang telah dimediasi, disunting, dan dioptimalkan oleh algoritma. Empati kitapun turut mengalami perubahan: ia menjadi cepat, masif, tetapi dangkal. Kita bisa merasa sedih dalam hitungan detik, tetapi kita juga bisa melupakannya dalam hitungan detik berikutnya.

Lebih berbahaya lagi, propaganda berbasis internet ini menimbulkan polarisasi yang tajam. Hal ini dikarenakan setiap pengguna terjebak dalam “filter bubble”, di mana mereka hanya melihat narasi yang mendukung keyakinannya. Akibatnya, konflik yang terjadi di belahan dunia lain turut memperdalam perpecahan di ruang digital lokal. Perdebatan tidak lagi berbasis fakta, tetapi pada identitas dan emosi. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi korban kedua setelah nyawa manusia.

Namun, penting untuk diingat bahwa teknologi bukanlah takdir. Kritik terhadap determinisme teknologi menegaskan bahwa manusia tetap memiliki agensi. Masalahnya, kemampuan kritis tersebut seringkali tertinggal dibanding kecepatan produksi konten. Oleh karena itu, yang kita butuhkan bukan hanya literasi digital, tetapi kesadaran etis.

Publik perlu menyadari bahwa setiap konten yang mereka konsumsi dan sebarkan memiliki konsekuensi moral. Membagikan video yang belum terverifikasi tidak hanya menyebabkan kesalahan informasi, tetapi juga berpotensi memperkuat propaganda yang mereduksi penderitaan manusia menjadi alat politik.

Pada akhirnya, perang di era TikTok tidak hanya tentang siapa yang menang di medan tempur, tetapi siapa yang menang dalam membentuk persepsi. Dan dalam perebutan persepsi itu, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasaar: apakah kita masih dapat melihat manusia di balik layar, ataukah kita lebih sepenuhnya terjebak dalam hiperealitas yang menjadikan perang sebagai tontonan?


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *