Kunjungan Pemimpin Suku Dayak ke Sekretariat Film “Dayak”
Pemimpin tertinggi Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) dari Suku Dayak Kanayatn, Agustinus Jilah atau yang dikenal sebagai Panglima Jilah, melakukan kunjungan ke Sekretariat Tim Produksi Film Dayak Kolosal (TPFDK) di Balikpapan. Kunjungan ini bertujuan untuk membahas rencana besar pembuatan film kolosal berjudul “Dayak”.
Kunjungan tersebut mendapat sambutan hangat dengan tarian khas Dayak serta beberapa peserta yang menggunakan ornamen maupun pakaian khas suku Dayak. Dalam kesempatan itu, Panglima Jilah menyatakan dukungan penuh terhadap proyek film ini. Ia bahkan membuka ruang bagi tim untuk bergerak aktif menemui tokoh-tokoh adat dan masyarakat Dayak demi menyatukan visi dalam penggarapan film.
“Saya dukung penuh. Saya mensupport teman-teman untuk bisa jalan ke sana kemari berdiskusi dengan para tokoh, dan bagaimana kita menyatukan Dayak ini lewat perfilman ini,” ujarnya.
Film “Dayak” akan mengangkat dinamika suku Dayak Pulau Kalimantan sebelum kemerdekaan, tepatnya pada abad ke 5 hingga abad 18 yang penuh dinamika. Mulai dari mempertahankan wilayah dan budayanya dari kelompok luar yang datang ke Kalimantan pada masa itu, konflik antar sub suku yang masih menganut hukum rimba, hingga rapat damai Tumbang Anoi pada 1894 lalu.
Film ini akan memadukan aksi laga, cinta terlarang, hingga unsur mistis seperti mandau terbang dan ilmu gaib suku Dayak. Panglima Jilah yang juga menjabat sebagai Eksekutif Produser film tersebut menekankan bahwa film kolosal ini bukan sekadar proyek hiburan, melainkan bentuk nyata untuk mengangkat nama besar suku Dayak.
Sehingga, film ini direncanakan akan melibatkan masyarakat Dayak secara luas, demi memperkuat identitas dan kebanggaan budayanya. Untuk itu, proses diskusi dengan berbagai tokoh adat masih terus dilakukan untuk menemukan konsep yang tepat.
Di sisi lain, Panglima Jilah juga memberikan pesan pada generasi muda untuk tetap mempertahankan budaya dan identitasnya.
“Film ini betul-betul untuk mengangkat nama Dayak itu sendiri, bukan untuk kepentingan pribadi. Untuk generasi muda, jangan tinggalkan identitas. Kamu boleh maju, boleh ganteng, boleh tinggal dimanapun. Tapi jati dirimu jangan pernah hilang,” jelasnya.
Proses Produksi dan Target Waktu
Penanggung Jawab Produksi, Abriantinus menjelaskan bahwa film ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya dokumentasi sejarah Dayak dalam bentuk literasi maupun audiovisual. Terlebih selama ini, menurutnya, sejarah peradaban Dayak lebih banyak disampaikan secara lisan.
“Melalui film ini, kita ingin menghadirkan unsur edukasi sekaligus pelestarian sejarah peradaban Dayak, termasuk dalam interaksi berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya menargetkan film ini dapat rampung dalam waktu satu tahun, meski tetap mempertimbangkan berbagai dinamika di lapangan.
Peluang bagi Talent Lokal
Film ini membuka peluang besar bagi talenta lokal melalui pembukaan audisi dan casting untuk mencari pemerannya. Pendaftaran audisi tersebut dibuka mulai 1 April hingga 1 Juni 2026 mendatang. Sementara itu, proses audisi dan casting akan berlangsung pada 3 Juni hingga 8 Agustus 2026, dengan lokasi seleksi tersebar di lima provinsi Kalimantan.
Abriantinus juga mengatakan bahwa proses audisi ini bertujuan mencari talenta yang tidak hanya memiliki kemampuan akting, melainkan juga memahami budaya Dayak. Di samping itu, peserta terpilih akan mendapatkan pembekalan agar mampu memerankan karakter dengan baik.
“Kriterianya, memang mesti orang yang pintar dalam berakting. Nantinya juga akan ada edukasi terkait budaya dayak,” pungkasnya.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”










