Impian yang Tidak Terwujud, Namun Tetap Berharga
Setiap penulis memiliki impian sederhana: hadir dalam sebuah perayaan yang mempertemukan para pemilik kata, kalimat, dan cerita. Bagi saya, impian itu bernama Kompasianival—acara tahunan yang bukan hanya merayakan kreativitas, tetapi juga mempertemukan orang-orang yang percaya bahwa tulisan bisa membawa perubahan.
Tahun 2025 harusnya menjadi kali pertama saya hadir, setelah bergabung di KOKOBER (Komunitas Berbagi). Namun, rencana manusia terkadang kalah dari rencana Tuhan. Sejak beberapa bulan sebelumnya, saya dan istri sudah menyiapkan kehadiran kami di Kompasianival 2025 yang bertema Cerdas Digital, Mandiri Finansial. Sebagai pemula yang belum punya hak memilih, apalagi dipilih, keinginan saya untuk hadir justru semakin besar. Saya ingin belajar langsung dari para senior, mendengar kisah perjalanan para penulis hebat, dan merasakan langsung atmosfer perayaan terbesar Kompasianer.
Ketika masa pendaftaran dibuka awal November, tepat 7 November saya langsung mendaftar—bahkan mengajak istri. Bagi saya, perjalanan menulis bukan sekadar aktivitas pribadi; ini perjalanan hidup yang ingin saya bagikan dengannya. Kami menyusun langkah demi langkah: berangkat dari Lampung Jumat sore (28/11) naik Damri, tiba pagi hari, lalu Sabtu siang berangkat ke Live House Area, M Bloc Space Jakarta. Kami merencanakan pulang Minggu siang agar saya bisa kembali bekerja pada Senin.
Rencana lengkap sudah tersusun: jadwal, pakaian, apa yang ingin dipelajari, siapa saja yang ingin saya jumpai. Saya bahkan membayangkan suasana acara—ramai, meriah, penuh tawa dan cerita. Namun pada hari keberangkatan, dunia berkata lain.
Ketika Semua Rencana Mendadak Berhenti
Jumat siang, sepulang kerja, tubuh saya mulai terasa tidak enak. Awalnya hanya pegal biasa. Namun dalam beberapa jam, kondisi saya memburuk: demam tinggi, perut melilit, tubuh menggigil, kepala berat. Istri saya panik, sementara saya hanya bisa menahan rasa sakit. Pada akhirnya, dengan suara lemah saya berkata, “Kayaknya kita nggak bisa berangkat…”
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada demam yang saya alami. Tas yang sudah dipacking rapi tiba-tiba kehilangan arti. Semua rencana yang disusun berminggu-minggu seketika runtuh. Ketika seharusnya kami berada dalam perjalanan menuju Jakarta, saya justru terbaring lemas, mencoba menurunkan panas.
Pada saat itu saya sadar bahwa manusia memang hanya bisa merencanakan. Tuhan memutuskan.
Mengikuti Kompasianival dari Jarak yang Tak Terjangkau
Meski tidak bisa hadir secara langsung, saya tak ingin ketinggalan suasana Kompasianival. Lewat grup KOKOBER, teman-teman yang hadir membagikan foto, video singkat, dan cerita tentang bagaimana acara berlangsung. Dari layar HP, saya melihat antrean registrasi, panggung yang hidup, hingga senyum para peserta. Ada tawa, ada kebersamaan, ada energi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Perasaan saya campur aduk. Ada bahagia melihat teman-teman menikmati acara, tapi juga ada rasa kehilangan karena saya tidak berada di sana. Namun justru dari jarak itulah saya mendapatkan banyak pelajaran.
Refleksi Makna Tema: Cerdas Digital, Mandiri Finansial
Melihat dari jauh, justru saya lebih bisa memahami makna tema tahun ini: Cerdas Digital, Mandiri Finansial. Di era serba cepat, kemampuan mengelola dunia digital—termasuk menulis—bukan lagi sekadar hobi. Ia adalah keterampilan penting yang dapat membuka peluang, menambah pengetahuan, dan bahkan memberi pemasukan tambahan.
Para pemenang Awards 2025 adalah bukti hidup bahwa konsistensi dalam berkarya dapat mengubah hidup. Mereka bukan hanya menulis; mereka membangun pengaruh, jaringan, dan komunitas. Mereka mandiri secara pemikiran dan perlahan mandiri secara finansial melalui digital. Bagi saya sebagai pemula, ini adalah pelajaran besar yang justru terasa lebih kuat karena saya mengamatinya dari kejauhan.
Pelajaran dari Para Pemenang
Di dalam KOKOBER, ada banyak tokoh inspiratif yang menjadi pemenang tahun ini. Saya bangga melihat nama-nama berikut mendapatkan penghargaan:
- Pelestari: Bapak Jandris
- SkyBest in Passion: Bapak Raja L Lubis
- Best in Fiction: Bapak Muhammad Iqbal
- Best in Opinion: Bapak Billy Steven Katilij
- Best in Storytelling: Ibu Ire Rosana Ulail
- People’s Choice: Bapak Billy Steven Katilij
- Best Community: Pulpen Komunitas (pecinta cerpen)
- Kompasianer of the Year: Bapak Fery Widiatmoko (Efwe)
Selain itu ada pula nama-nama besar yang masuk nominasi dan menjadi inspirasi bagi banyak Kompasianer. Mereka adalah contoh nyata bahwa perjalanan menulis bukan soal cepat atau lambat, tetapi soal konsistensi, ketulusan, dan keberanian untuk terus berbagi.
Melihat mereka berdiri menerima penghargaan, meskipun hanya lewat foto—membuat hati saya hangat. Seolah saya melihat jalan yang harus ditempuh jika ingin berkembang: menulis, berbagi, belajar, dan terus melangkah.
Pelajaran dari Ketidakhadiran
Tidak hadir di sebuah acara sebesar Kompasianival tentu menyesakkan. Namun justru dalam ketidakhadiran itu saya menemukan ruang renungan. Saya bertanya pada diri sendiri:
“Apa sebenarnya yang saya cari dari perayaan ini?”
“Apakah sekadar hadir, atau ada nilai yang lebih besar?”
Jawabannya datang perlahan: Kompasianival bukan hanya acara, tetapi sebuah ruang bertumbuh. Ia bukan sekadar panggung; ia adalah tempat untuk belajar melihat lebih jauh tentang dunia menulis, tentang digital, dan tentang diri sendiri.
Ketidakhadiran saya mengajarkan bahwa kehadiran tidak harus selalu berbentuk fisik. Dari jarak, saya tetap belajar. Dari ketidakhadiran, saya tetap hadir sebagai pembelajar.
Refleksi Universal: Tentang Rencana yang Gagal
Banyak dari kita pasti pernah mengalami momen ketika rencana matang tiba-tiba harus dibatalkan. Ada rasa kecewa, ada rasa kehilangan. Tetapi kadang, justru dari kegagalan rencana itu kita menemukan pelajaran paling berharga.
Saya belajar bahwa kesehatan tidak bisa dinegosiasikan. Saya belajar bahwa setiap acara penting, tetapi tidak ada yang lebih penting dari tubuh yang butuh istirahat. Saya juga belajar bahwa mengejar perayaan tidak boleh mengalahkan kewarasan dan keselamatan.
Namun yang paling penting, saya belajar bahwa rencana yang gagal tidak selalu berarti kegagalan. Kadang, ia hanya menunda perjalanan agar kita bisa lebih siap ketika waktu yang tepat tiba.
Apresiasi untuk Para Kompasianer dan Panitia
Saya ingin memberikan penghormatan kepada seluruh panitia, pembicara, moderator, komunitas, peserta, dan para pemenang. Kompasianival 2025 berjalan dengan meriah dan meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir maupun yang tidak hadir. Meski saya pemula, saya tetap merasa menjadi bagian dari energi besar itu. Melalui cerita, foto, dan video yang dibagikan teman-teman KOKOBER, saya merasa ikut berada di tengah keramaian, meski fisik saya berdiam di kamar.
Harapan untuk Kompasianival 2026
Kegagalan hadir tahun ini justru menumbuhkan tekad baru: tahun depan saya harus hadir. Saya ingin datang bukan hanya sebagai peserta pasif, tetapi sebagai penulis yang lebih percaya diri, lebih matang, dan lebih konsisten. Tahun depan, saya ingin menyapa teman-teman, bertemu para senior yang selama ini hanya saya baca tulisannya, mengikuti talkshow, menyimak sesi edukatif, dan membawa pulang pelajaran yang lebih banyak.
Dan siapa tahu, suatu hari—entah kapan—saya bisa masuk nominasi. Tidak harus menang; dinominasikan pun sudah menjadi kehormatan luar biasa.
Penutup: Tidak Hadir, Tetapi Tidak Absen
Kompasianival 2025 sudah usai. Saya mungkin tidak hadir secara fisik, tetapi saya tidak absen dari semangatnya. Dari cerita dan gambar yang saya terima, saya tetap merasa berada di antara para penulis yang merayakan kreativitas mereka. Saya mungkin tidak melangkah ke M Bloc tahun ini, tetapi saya melangkah lebih jauh dalam hal kesadaran, kerendahan hati, dan motivasi.
Tahun depan, semoga saya hadir sebagai penulis yang lebih siap. Dan siapa tahu, perjalanan kecil ini justru menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Sampai jumpa di Kompasianival 2026—tanpa drama demam mendadak. Semoga.












