Sejarah yang Nyaris Mengubah Jalannya Dunia
Seratus tahun lalu, sebuah peristiwa kecil tetapi berdampak besar terjadi di Kota Roma. Violet Gibson, seorang perempuan dari keluarga kaya dan berpengaruh, mencoba mengubah jalannya sejarah dengan menembak Benito Mussolini, diktator fasis Italia. Meski peluru hanya menggores hidung sang pemimpin, upaya ini menjadi salah satu usaha pembunuhan terdekat terhadap Il Duce.
Violet, yang kemudian dipenjara di Italia sebelum dideportasi ke Inggris, dianggap sebagai satu-satunya pelaku yang hampir berhasil membunuh Mussolini. Menurut Philippa Gibson, keponakan buyutnya, Violet memiliki latar belakang keluarga yang sangat kaya dan berpengaruh. Ayahnya adalah Baron Ashbourne, seorang bangsawan Anglo-Irlandia yang pernah menjabat sebagai Lord Chancellor of Ireland—posisi hukum tertinggi di negara itu pada masa itu.
Kehidupan Violet Gibson yang Penuh Kontras
Menurut Philippa, Violet memiliki masa kecil yang khas bagi seseorang dengan status dan usia seperti itu. Namun, ia kemudian memilih jalan yang berbeda dengan keluarganya, berpindah keyakinan menjadi Katolik dan menjalani kehidupan sebagai sosialis. Keluarga tidak senang dengan pilihan ini, namun mereka memiliki pendekatan yang lebih lunak terhadap Violet karena beberapa alasan, termasuk masalah kesehatan mentalnya.
Violet akhirnya pergi ke Italia, belajar bahasa, dan melakukan banyak pekerjaan yang menjanjikan. Namun, ia juga mengalami periode gangguan mental yang parah. Ia mengalami gangguan jiwa setelah kematian mendadak tunangannya; dipenjara karena serangan dengan pisau; dan pernah mencoba mengakhiri hidupnya.

Motivasi Politik dan Agama
Philippa menjelaskan bahwa Violet melihat fasisme Mussolini berkembang dengan kekejaman dan kekerasan yang luar biasa. Salah satu insiden yang mendorongnya adalah pembunuhan pemimpin sosialis Giacomo Matteotti oleh massa fasis. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Violet memutuskan untuk bertindak.
“Jadi, sebagian karena motivasi politik dan sebagian karena motivasi iman—mengorbankan dirinya demi sebuah tujuan penting,” ujar Philippa.
Pada 7 April 1926, tiga tahun setelah Mussolini berkuasa, Violet Gibson melakukan upaya pembunuhan terhadapnya. Saat itu usianya baru 50 tahun, tetapi dia tampak jauh lebih tua dan tidak ada yang memperhatikan seorang nenek kecil yang mengeluarkan pistol begitu dekat dengannya. Jarak mereka hanya beberapa meter, tetapi rupanya Mussolini menolehkan kepala dan peluru itu hanya menggores hidungnya.

Dampak dan Persepsi
Setelah serangan itu, pemerintah Inggris dan keluarga Violet menulis surat kepada Mussolini. Mereka berterima kasih dan bersyukur setelah dia selamat dari aksi penembakan itu. Dalam surat tersebut, mereka memberitahu tentang ketidakstabilan mental Violet.
Mussolini juga menyoroti hal itu karena dia tidak ingin terlihat bahwa seorang lawan politik bisa sedekat itu dengannya. Ada beberapa upaya pembunuhan terhadapnya, dan dia berhasil selamat dari semuanya. Semua itu membentuk persepsi bahwa dia tak terkalahkan, dilindungi oleh Tuhan, memiliki misi, dan itulah tujuan keberadaannya.

Warisan Violet Gibson
Kehidupan Violet Gibson telah menginspirasi berbagai karya, termasuk lagu, buku, drama panggung, dokumenter radio, serta film yang dirilis pada 2021 berjudul Violet Gibson: the Irish woman who shot Mussolini. Pada 2022, sebuah plakat untuk mengenang Violet diresmikan di Dublin.
Meskipun mengagumi bibi buyutnya, Philippa tidak mendukung kekerasan politik. “Saya jelas tidak akan mendukung bentuk kekerasan politik apa pun, itu bukan jawabannya,” ujarnya. “Namun saya merasa keyakinan mendalam Violet lah yang mendorongnya melakukan itu. Jadi, saya mengagumi keberaniannya, kesediaannya untuk menyerahkan diri demi apa yang dia yakini, tetapi saya tidak akan membenarkan upaya pembunuhan politik dalam bentuk apa pun.”
Upaya Pembunuhan Lain Terhadap Mussolini
Dari empat upaya pembunuhan terhadap Il Duce, Violet Gibson adalah yang paling mendekati keberhasilan. Setiap upaya ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dan kekuasaan Mussolini pada masa itu. Namun, meski gagal, upaya ini juga menunjukkan bahwa musuh-musuhnya tidak pernah berhenti mencoba.
Setelah tumbangnya fasisme, banyak orang mulai mengevaluasi kembali arsitektur fasis di Eropa. Berbagai tempat dan tokoh yang terkait dengan era ini juga menjadi bahan diskusi dan penelitian.
Banyak kisah-kisah menarik terkait masa lalu politik dunia, termasuk kisah antara hidup dan mati para gadis pencicip makanan Adolf Hitler, serta perjuangan bawah tanah perempuan Italia melawan Nazi. Semua ini menjadi bagian dari warisan sejarah yang masih relevan hingga saat ini.












