Kepiluan yang Melanda Aceh
Bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir November 2025 mengguncang seluruh wilayah Aceh. Setelah hujan deras dan badai Tropical Depression (TP) Ex-Siklon Tropis Senyar melanda, beberapa daerah mengalami banjir bandang yang merusak berbagai infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan tower listrik. Beberapa desa bahkan dikabarkan hilang terbawa arus banjir. Di tempat-tempat lain, banjir genangan juga melanda yang menghancurkan fasilitas rumah tangga dan menciptakan lingkungan yang rentan terhadap serangan penyakit.
Anak-anak, perempuan, dan kaum lansia menjadi kelompok rentan yang sangat terdampak oleh musibah ini. Kerugian tidak terhitung mulai dari korban jiwa hingga kerusakan harta benda. Dalam tulisan ini, penulis ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merenungkan pertanyaan penting: “Afala Tatafakkarun?” (Apakah kita akan belajar dari kejadian ini?).
Pertama, Berdoa dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Pertama, mari kita semua berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan perlindungan-Nya. Momen ini bisa menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Boleh jadi musibah ini adalah teguran dari Allah kepada kita yang selama ini telah melupakan-Nya. Ayat Al-Qur’an, “Sungguh telah nampak kerusakan di bumi dan di laut akibat ulah manusia …” (QS. Ar Rum: 41), mengingatkan kita bahwa eksploitasi berlebihan terhadap alam telah mengubah hujan sebagai rahmat menjadi musibah banjir bandang. Temuan jasad gajah Sumatera bersama kayu gelondong adalah bukti nyata perusakan lingkungan oleh manusia.
Allah berfirman bahwa “Bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Semoga renungan bencana kali ini memperkuat keimanan kita kepada Allah. Sekarang semua pihak sedang bahu membahu menyelesaikan permasalahan ini. Oleh karena itu, dukungan doa dan kesabaran semua pihak sangat dibutuhkan. Penggalangan bantuan dapat diinisiasi untuk memberikan kontribusi nyata di lapangan. Kita membutuhkan ide dan aksi bersama, dan kita tidak membutuhkan caci maki pada saat ini. Mari kita semua berpikiran positif.
Kedua, Mengambil Tindakan Sesuai Kapasitas
Kedua, mari kita renungkan apa yang dapat kita lakukan sesuai kapasitas kita. Bencana banjir ini pada hakikatnya berdampak kepada seluruh masyarakat. Ada yang diuji dengan dampak langsung seperti kehilangan jiwa dan harta, dan ada yang rumahnya kebanjiran tergenang air. Sebagian yang lain tidak mengalami banjir namun terdampak oleh putusnya sarana listrik dan komunikasi. Banyak pedagang yang rugi karena lemari pendingin tidak berfungsi, banyak industri yang mogok karena mesin-mesin tidak dapat dioperasikan, dan seterusnya.
Harga barang
Kita berharap agar Gubernur dapat menyikapi hal ini dengan seruan kepada masyarakat pedagang, agar tidak mengambil keuntungan berlipat ganda di atas penderitaan saudara-saudara kita. Surat Edaran (SE) untuk memberikan harga yang wajar sangat diperlukan. Seruan Tgk. H. Faisal Ali (Abu Sibreh) sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh patut diapresiasikan dan ditindaklanjuti dengan SE Gubernur dan tindakan pengawasan di lapangan oleh aparatur negara. Pedagang diharamkan mempermainkan harga barang di tengah kesusahan yang dialami oleh masyarakat. Para ulama harus pro aktif menyampaikan seruan ini kepada masyarakat.
Bersih-Bersih dan Mitigasi Bencana
Kepada seluruh masyarakat, mari kita peduli kepada lingkungan sekitar. Salah satu penyebab banjir genangan adalah kebiasaan kita membuang sampah sembarangan dan menjadikan saluran air penuh dengan sampah. Mari kita bahu membahu bergotong royong membersihkan saluran-saluran di daerah tempat tinggal kita. Membersihkan secara tuntas, artinya sampah yang dikeluarkan dari saluran/got jangan dibiarkan menumpuk di pinggir jalan, namun harus dipastikan terangkat ke tempat pembuangan sampah (TPS).
Kebersihan sejati adalah membersihkan diri dan lingkungan kita dari sampah dan kotoran. Oleh karena itu kita perlu melakukan reformasi usaha bersih-bersih menjadi tuntas. Kita mengharapkan adanya unit pengolahan sampah terpadu yang dapat dibangun oleh pemerintah, sehingga sampah yang kita buang mempunyai tempat sasaran yang jelas dan diolah kembali. Reformasi kebersihan ini merupakan bentuk nyata kegiatan mitigasi bencana banjir di masa depan.
Selain itu kita memerlukan analisis ulang oleh ahli tata pemukiman untuk memastikan agar air tersalurkan dengan baik sampai ke sungai atau laut. Apabila situasi tidak memungkinkan, maka pembangunan embung/danau buatan untuk menampung air pada suatu kawasan dapat dijadikan solusi. Danau buatan ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk perikanan dan pariwisata.
Paradigma Baru dalam Penanggulangan Bencana
Sebenarnya setelah mega tsunami 2004, telah ada Hyogo Framework 2005-2015 yang bertujuan untuk mengurangi kerugian akibat bencana dengan strategi kebijakan pembangunan berkelanjutan (ramah dan aman untuk lingkungan) dan menciptakan ketahanan terhadap bencana. Selanjutnya Sendai Framework 2015-2030 telah disepakati dengan 4 prioritas tindakan untuk mencegah bencana baru dan mengurangi risiko bencana yang sudah ada, meliputi:
- Memahami risiko bencana
- Memperkuat tata kelola risiko bencana untuk mengelola risiko bencana
- Berinvestasi dalam pengurangan bencana untuk ketahanan
- Meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respons yang efektif, dan untuk “Membangun Kembali dengan Lebih Baik” dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.
Oleh karena itu, selain meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menjaga alam untuk keberlanjutan kehidupan anak cucu kita di masa depan, Pemerintah perlu menambahkan intervensi berupa penegakan peraturan-peraturan yang ada untuk menghapuskan illegal logging. Masyarakat dan non-government organization (NGO) dapat mengambil peran pengawasan, agar illegal logging dapat dihentikan di masa depan.
Selain itu, perlu penegakan larangan membangun rumah tempat tinggal di kawasan daerah aliran sungai (DAS). Edukasi dan provokasi ini harus dilakukan secara berkesinambungan agar bencana serupa tidak terjadi lagi di masa depan. Paradigma lama ketika bencana datang baru melakukan respons, harus diubah menjadi paradigma baru yaitu pencegahan dan kesiapsiagaan bencana. Semoga setelah rehab-rekon musibah tahun ini, Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat digerakkan secara sinergis dengan paradigma baru.
Menjaga Keseimbangan Selama Masa Sulit
Terakhir, sebagai warga masyarakat kita harus bersikap wajar selama masa sulit ini. Kita tidak boleh melakukan pembelian bahan makanan secara berlebihan yang akan menyebabkan kelangkaan produk di pasar. Kita juga perlu meningkatkan kemampuan mengolah makanan lokal yang tersedia di sekitar sebagai makanan alternatif pascabencana. Di samping itu, agenda acara hajatan juga dapat ditunda terlebih dahulu. Majelis Adat Aceh (MAA) dapat mengeluarkan SE terkait hal ini. Insya Allah, ketika kita bersatu padu, kita akan menjadi kuat menghadapi musibah ini, dan semoga badai segera berlalu. Amin ya rabbal ‘alamin.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












