Banjir Rob di Brebes Masih Mengganggu Kehidupan Warga
Banjir rob yang terjadi di Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah selama sepekan terakhir masih menggenangi sejumlah desa. Air yang masuk ke pemukiman warga membuat aktivitas masyarakat terganggu, termasuk proses belajar mengajar di sekolah-sekolah setempat.
Mobil patroli kepolisian turut berperan dalam membantu para pelajar menembus jalan yang tergenang air. Kapolsek Losari AKP Sodikin menyampaikan bahwa banjir rob menyebabkan beberapa akses jalan terendam air dengan ketinggian mencapai 30-50 cm. Hal ini menyulitkan para siswa dalam berangkat dan pulang dari sekolah.
“Anggota kami terjunkan untuk membantu para pelajar berangkat ke sekolah menggunakan mobil patroli, agar tidak terlambat menuju sekolah,” ujar Kapolsek. Ia juga menambahkan bahwa petugas sudah siaga sejak pukul 6.15 WIB untuk membantu masyarakat.
Tidak hanya pelajar, banyak warga juga ikut menggunakan kendaraan patroli saat akan beraktivitas. Tingginya air rob selama sepekan terakhir membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Namun, layanan antar-jemput menggunakan mobil patroli tetap diberikan hingga banjir surut.
“Ini wujud Polri hadir untuk masyarakat. Kami siap sedia dalam kondisi apapun untuk memberikan rasa aman dan nyaman,” pungkasnya.
Warga Harus Pasrah Hadapi Banjir Rob
Bagi sejumlah warga di pesisir pantura Brebes, Jawa Tengah, banjir rob adalah hal yang tak bisa dihindari. Setiap kali air pasang laut masuk ke pemukiman warga, mereka hanya bisa pasrah dan harus bersahabat dengan air laut.
Kendaraan yang menerjang banjir jelas akan berkarat dan mudah rusak. Banyak warga yang sering mengajukan aspirasi kepada pemerintah desa, DPR, bahkan ke pemerintah kabupaten, namun belum ada penanganan yang kongkret.
Di Desa Prapag Lor, misalnya, banjir rob telah menggenangi pemukiman sejak sepekan terakhir. Dari total 2.100 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut, hampir semuanya terdampak banjir. Kepala Desa Prapag Lor, Fakhruddin Andes Raka, menyampaikan bahwa banjir rob mulai terjadi sejak sepekan terakhir, dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 50 sentimeter.
Akibatnya, tidak hanya rumah warga yang terendam, tetapi sejumlah fasilitas umum juga ikut terdampak, termasuk sekolah. Siswa terpaksa menggunakan perahu untuk berangkat ke sekolah karena jalan yang tergenang.
“Banjir kali ini bahkan meluas hingga pertigaan Sambar, perbatasan Desa Prapag Lor dan Desa Prapag Kidul,” kata Kades.
Upaya Penanganan dari Pihak Terkait
Meski kondisi banjir rob cukup parah, Kepala SMP Negeri 03 Losari, Tri Budi Hermanto, memastikan para siswa tetap berangkat ke sekolah untuk mengikuti tes. “Siswa tetap masuk sekolah karena sedang mengikuti tes,” katanya.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, Wibowo Budi Santoso, menjelaskan bahwa tiga desa di Kecamatan Losari terdampak banjir rob, yaitu Prapag Kidul, Prapag Lor, dan Karangdempel. Dia merinci jumlah rumah yang terdampak di masing-masing desa.
“Desa Prapag Lor jumlah rumah terdampak 1035 rumah atau 1233 KK. Desa Prapag Kidul jumlah rumah terdampak 1612 rumah atau 1963 KK. Kemudian Desa Karangdempel rumah terdampak, 700 rumah atau 833 KK,” ujarnya.
Budi menyebut, perlu ada upaya peninggian jalan agar tidak terendam saat rob. Selain itu, saluran air di lingkungan pesisir perlu dilakukan normalisasi.
“Dibutuhkan normalisasi saluran air sungai dan tambak, serta penanganan peningkatan dan peninggian jalan untuk memperlancar perekonomian dan aktifitas warga,” pungkasnya.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












