Pengalaman Tidak Menyenangkan Saat Mendaftar Layanan Rawat Jalan
Saat sedang berseluncur di media sosial, saya menemukan sebuah komentar yang menarik perhatian. Komentar tersebut berasal dari seorang warganet yang mengungkapkan pengalamannya tidak menyenangkan terkait pelayanan di sebuah rumah sakit. Berbeda dengan video yang sempat viral tentang pasien yang dipulangkan malam-malam dari rumah sakit swasta, pengalaman ibu ini terjadi saat ia ingin mendaftar layanan rawat jalan.
Dalam tangkapan layar yang disertakan dalam komentarnya, ibu tersebut menanyakan apakah dokter spesialis anak, dokter X, berpraktek pada hari tertentu. Petugas administrasi menjawab bahwa dokter X memang ada jadwal praktek, namun menambahkan bahwa hari itu hanya melayani anak-anak yang sehat. Hal ini membuat sang ibu merasa gelisah karena anaknya sedang mengalami batuk, pilek, dan demam.
Ibu tersebut kemudian membalas dengan pertanyaan: “Bagaimana kalau anak saya batuk, pilek, dan panas? Apa tidak boleh mendaftar?” Jawaban petugas administrasi yang diberikan adalah, “Kalau begitu disembuhkan dulu Bu.” Tentu saja jawaban ini membuat kebingungan dan rasa tidak puas.
Masalah Komunikasi yang Mengganggu Pelayanan
Pengalaman ini menunjukkan adanya kesalahan dalam komunikasi antara petugas administrasi dan pasien. Sebagai seorang dokter spesialis anak, saya tahu bahwa masalah utamanya adalah kurangnya kemampuan komunikasi yang baik dan logis dari petugas administrasi. Solusi yang dapat dilakukan adalah melatih petugas administrasi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang jelas, logis, dan ramah.
Jika jadwal praktek dokter X pada hari itu hanya untuk klinik vaksinasi, maka hal tersebut wajar. Karena vaksinasi biasanya hanya diberikan kepada anak yang sehat, maka petugas harus memberi penjelasan yang jelas agar pasien tidak salah paham. Namun, penting bagi petugas untuk memberi informasi yang lengkap dan membantu.
Alasan Adanya Jadwal Khusus untuk Klinik Vaksinasi
Klinik vaksinasi biasanya memiliki jadwal khusus karena beberapa alasan. Pertama, anak yang sakit tidak boleh divaksin karena risiko penularan penyakit. Kedua, ada vaksin yang menggunakan kemasan multi dosis (MDV) yang memerlukan penanganan khusus. Contohnya adalah vaksin BCG, polio tetes, influenza, dan beberapa jenis vaksin COVID-19 serta PCV.
Untuk vaksin MDV, pasien dikumpulkan hingga mendekati jumlah dosis yang tersedia agar tidak ada vaksin yang terbuang percuma. Oleh karena itu, jadwal khusus untuk klinik vaksinasi diperlukan agar proses vaksinasi berjalan lancar dan aman.
Penjelasan yang Lebih Jelas dan Ramah
Seandainya pesan yang disampaikan oleh petugas administrasi lebih jelas dan ramah, maka kekecewaan ibu tersebut bisa dihindari. Contoh pesan yang lebih baik adalah:
“Hari ini dokter X ada praktek klinik vaksinasi pukul sekian sampai sekian. Berhubung vaksinasi hanya boleh dilakukan pada anak sehat, harap pastikan anak benar-benar sehat sebelum mendaftar. Untuk anak yang saat ini sedang sakit, dapat mendaftar untuk konsultasi hari ini dengan dokter spesialis anak kami yang lain yaitu dokter Y (praktek pukul sekian sampai sekian), Z (praktek pukul sekian sampai sekian), atau pada jadwal praktek dokter X besok (pukul sekian sampai sekian).”
Dengan penjelasan seperti ini, pasien akan lebih paham dan merasa didengarkan. Selain itu, rumah sakit juga bisa memberikan pelayanan yang lebih baik dengan memastikan setiap petugas memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan logis.
Kesimpulan
Pengalaman ibu tersebut menjadi pelajaran penting tentang pentingnya komunikasi yang baik dalam pelayanan kesehatan. Dengan meningkatkan kemampuan komunikasi petugas administrasi, kita bisa menghindari kesalahpahaman dan memberikan pelayanan yang lebih profesional dan ramah. Semoga penjelasan ini bisa membantu dan tidak ada lagi yang merasa baper. Namun, yang terpenting adalah semua pihak, termasuk petugas, harus terus belajar dan berkembang dalam hal komunikasi.












