Mikson Yapanto dan Suwawa Sepakat Berdamai, Ini Alasannya

Perdamaian Antara Anggota DPRD dan Penambang di Gorontalo

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto, akhirnya menarik laporan yang ia ajukan ke Polda Gorontalo setelah sepakat berdamai dengan para penambang. Perdamaian ini terjadi setelah istri-istri para tersangka menemui Mikson di DPW Nasdem Gorontalo sekitar seminggu lalu.

Peran Istri Penambang dalam Proses Perdamaian

Kris Wartabone, yang mewakili para penambang, menyampaikan terima kasih kepada Mikson atas tindakan damai yang diambil. Ia menekankan bahwa peran besar para istri penambang berhasil mendamaikan kedua pihak. Menurut Kris, para istri itu datang dengan membawa anak-anak, sehingga membuat Mikson luluh. Ia mengaku pernah mengalami musibah, sehingga baginya memaafkan adalah hal yang perlu dilakukan.

“Saya tahu perasaan mereka. Mungkin para tersangka di dalam cuek saja, tetapi keluarga mereka di luar yang harus kita pikirkan,” ujarnya.

Awal Insiden

Insiden bermula dari polemik sidak tambang ilegal di Bone Bolango yang dilakukan Mikson sebagai anggota Pansus Pertambangan DPRD. Mikson menjelaskan insiden yang dialaminya di Kantor DPD Nasdem Provinsi Gorontalo, Jumat (28/11/2025). Ia mengaku mendapat perlakuan kekerasan dari sekelompok orang terkait masalah tambang di Kabupaten Bone Bolango.

Menurut Mikson, janjian melalui chat untuk bertemu berlangsung seperti biasa. Namun, setelah bertemu, situasi berubah menegangkan. Ia mengaku terkejut dengan perlakuan mereka. “Saya kaget juga, sempat syok saya, kok jadi begini?” ungkapnya.

Mikson menyebut bahwa ada kontak fisik yang ia alami hingga mengenai bagian leher. Namun, menurutnya, video yang beredar di publik tidak menunjukkan kejadian secara utuh. Setelah ketegangan itu, kedua pihak sepakat masuk ke sebuah kafe untuk membahas persoalan secara baik-baik.

Tujuan Sidak Tambang

Di sana, Mikson menegaskan bahwa niatnya selama ini adalah murni menjalankan tugas dan amanah masyarakat. “Cuma mungkin kalau merasa tersinggung ya, itu kan versi kalian, tapi versi lain belum tentu,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa langkah yang ia ambil terkait aktivitas tambang di Bone Bolango merupakan bagian dari instruksi presiden mengenai penindakan tambang ilegal. Menurutnya, dua bulan lalu warga, aktivis, dan LSM datang ke DPRD Provinsi Gorontalo dan mendesaknya melakukan sidak tambang di Bone Bolango.

Mereka mengeluhkan aktivitas tambang yang diduga menggunakan zat kimia berbahaya dan berlokasi dekat Sungai Bone. Aktivitas tambang itu juga mengganggu masyarakat karena proses tromol yang terus berbunyi siang dan malam.

Sebagai anggota Pansus Pertambangan DPRD Provinsi Gorontalo, ia akhirnya turun langsung melakukan sidak tanpa pemberitahuan resmi agar data yang diperoleh benar-benar faktual. “Kalau saya turun resmi mesti ada pemberitahuan, dan itu bukan sidak namanya,” tegasnya.

Lokasi sidak berada di Kecamatan Suwawa Timur dan Suwawa Tengah. Di lapangan, ia mendapat data yang sesuai dengan keluhan warga. Data itu nantinya akan menjadi bahan inventarisasi di Pansus Pertambangan.

Penyangkalan dari Para Penambang

Sementara itu, sejumlah penambang di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, membantah tudingan bahwa mereka melakukan penganiayaan terhadap anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Mikson Yapanto. Mereka menegaskan insiden pada Kamis (27/11/2025) hanya berupa tarik-menarik dan tidak ada pemukulan seperti narasi yang berkembang.

Penambang Suwawa, Iskandar Alaina, mengatakan bahwa pertemuan dengan Mikson berawal dari keinginan penambang meminta penjelasan soal pernyataan di media sosial yang mereka anggap menyudutkan. “Kami hanya mau klarifikasi karena pernyataannya terasa berat sebelah. Jadi kami ajak bicara baik-baik supaya jelas,” kata Iskandar.

Ia menjelaskan bahwa pertemuan pertama berlangsung di Warkop Amal, sebelum Mikson mengajak mereka pindah ke Kantor DPW Nasdem. “Beliau sendiri yang minta kita pindah ke kantor supaya lebih tenang. Kami ikut saja karena mau selesaikan baik-baik,” ujarnya.

Menurut Iskandar, tensi mulai naik ketika perdebatan semakin tajam. Namun ia menegaskan tidak ada aksi pemukulan dan situasi hanya sempat memanas. “Yang ada cuma tarik-menarik karena suasananya panas. Tidak ada baku pukul seperti yang diviralkan,” kata Iskandar.

Iskandar juga menyayangkan framing yang berkembang di media sosial. Menurutnya, penambang sering digambarkan negatif tanpa melihat fakta bahwa mereka juga berkontribusi pada lingkungan sekitar. “Kami sering dipojokkan. Padahal waktu jembatan Tulabolo Suwawa Timur rusak, penambang yang turun memperbaiki dengan biaya sendiri. Itu jarang disebut,” jelasnya.

Kesimpulan

Setelah insiden tersebut, Mikson melaporkan kasus ini ke Polda Gorontalo tadi malam. Ia menyebut mendapat dukungan penuh dari Fraksi dan juga petinggi Partai Nasdem Gorontalo. Sementara itu, para penambang memastikan tetap siap mengikuti proses hukum. “Kalau beliau melapor, kami hadapi. Yang penting fakta disampaikan apa adanya,” ujarnya.

Dari kronologi penambangan, video yang beredar tidak sesuai fakta di lapangan. Dari pernyataan mereka, awalnya para penambang berada di Warkop Amal bertemu sesama penambang. Namun, terdapat salah satu orang yang memberikan saran agar berdiskusi langsung dengan Mikson Yapanto di Kantor DPW Nasdem. Ia menyebutkan bahwa dalam video sebenarnya mereka menarik Mikson di luar, kemudian terjadi pembicaraan secara kekeluargaan di dalam ruangan.




Denis

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *