Sarasehan Lintas Iman DPW BERANI PKB DIY Bangun Kerukunan Melalui Pemberdayaan

Perayaan Persaudaraan Lintas Iman di Yogyakarta

Acara sarasehan yang bertema “Merawat Kerukunan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat” digelar oleh Dewan Pengurus Wilayah Badan Persaudaraan Antar Iman Daerah Istimewa Yogyakarta (DPW BERANI DIY) dan Badan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Acara ini berlangsung di Hotel Ros In pada hari Sabtu, 20 Desember 2025. Di hadiri oleh puluhan tokoh agama, aktivis kemanusiaan, serta perwakilan organisasi keagamaan se-DIY.

Tujuan dari acara ini adalah untuk memperkuat persaudaraan antar-iman melalui pendekatan praktis seperti pemberdayaan ekonomi dan sosial, agar tercipta kerukunan yang berkelanjutan dalam masyarakat yang majemuk.

“Prosesi ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan anugerah untuk bangsa dan negara Indonesia,” ujar Ketua Panitia sekaligus Ketua BERANI DPW PKB DIY, Paulus Kristriyanto, dalam keterangan resminya, Senin (22/12/2025).

Para pemuka agama yang hadir memimpin doa antara lain Kiai Abdul Halim (Islam), I Wayan Suarsana (Hindu), Romo Sardi (Budha), Tao Chin Eka Putra (Khonghucu), Pdt. Himawan Putranto (Katolik), dan Pdt. Fendi Susanto (Kristen). Doa lintas iman menjadi pembuka acara yang menunjukkan semangat persatuan.

Diskusi strategis dari perspektif berbagai tokoh sarasehan ini menghadirkan tiga narasumber utama yang memberikan pandangan mendalam mengenai pentingnya kerukunan berbasis pemberdayaan. Paulus menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu langkah dalam merespons dinamika sosial saat ini.

“Merawat kerukunan di masa sekarang bukanlah perkara mudah. Kehidupan masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh arus informasi media sosial yang tanpa batas, yang seringkali menjadi tantangan bagi harmoni sosial,” ujar Paulus.

Komitmen PKB dalam Merawat Kebhinekaan disampaikan oleh Ketua DPW PKB DIY, Agus Sulistiyono, dalam sambutannya menegaskan bahwa agenda ini merupakan bentuk nyata kehadiran PKB di tengah kemajemukan di tanah air kita. Dia menyampaikan bahwa sarasehan lintas iman ini adalah agenda rutin yang selalu diadakan oleh DPW PKB DIY setiap akhir tahun.

“Kegiatan sarasehan ini merupakan bagian dari upaya kami untuk terus merawat kebhinekaan yang ada di Indonesia. Partai Kebangkitan Bangsa ingin selalu hadir di tengah masyarakat yang beragam. Kami tidak pernah membeda-bedakan keyakinan satu dengan lainnya. Sebagai contoh, di NTT dan Papua anggota dewan kami mayoritas dari sahabat-sahabat non-muslim,” tegas Agus Sulistiyono.

Jalannya diskusi dipandu oleh Umaruddin Masdar, selaku Sekretaris DPW PKB DIY sekaligus Wakil Ketua DPRD DIY. Sebagai moderator, Umaruddin memberikan pengantar yang mendalam mengenai hakikat persaudaraan antar-manusia.

“Kerukunan, harmoni, dan toleransi bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir atau diwariskan secara genetis. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut harus terus kita tanamkan, kita rawat dan upayakan, salah satunya melalui kegiatan sarasehan seperti ini,” ujar Umaruddin.

Dia menekankan bahwa sifat dasar manusia adalah lupa, sehingga penguatan nilai-nilai kebangsaan harus dilakukan secara konsisten. “Jika tidak sering dipupuk, kita akan lupa betapa pentingnya kerukunan. Maka, forum-forum seperti ini adalah cara kita untuk terus menyiram benih persaudaraan agar tidak layu.”

Lebih lanjut, Umaruddin mengingatkan bahwa kerukunan yang kokoh memerlukan pondasi ketulusan. “Kerukunan yang tidak dibangun dengan kesabaran untuk saling memberi dan menerima adalah kerukunan yang palsu. Tanpa rasa saling memahami, masyarakat akan rawan terpecah belah. Itulah esensi acara hari ini: membangun kerukunan yang sejati melalui sikap saling memberi dan menerima antar-iman dan antar-agama.”

Dr Muh Ikhwan Ahada, Ketua PW Muhammadiyah DIY, yang hadir sebagai salah satu narasumber menyampaikan bahwa ini merupakan komitmen politik nyata PKB untuk Kebhinekaan. “Ini merupakan hal baru bagi Muhammadiyah yang diundang dalam forum ini. Kami sangat mengapresiasi langkah luar biasa dari PKB. Ini adalah politik nyata dan langkah konkret agar ke depan kerukunan yang kita harapkan menjadi nyata, bukan sekadar maya,” ujar Dr Ikhwan Ahada.

Ketua BKSADK DIY, Pdt. Agus Haryanto, memberikan catatan penting mengenai peta kerukunan saat ini. Ia menilai bahwa meskipun ada kemajuan luar biasa dalam dialog antar-umat, tantangan polarisasi masih membayangi realitas sosial masyarakat. “Dalam memetakan realitas sosial saat ini, saya masih menemukan adanya polarisasi yang mengklasifikasi agama. Padahal, umat beragama diharapkan dapat berperan aktif dalam forum-forum kebangsaan yang melahirkan kelompok peduli lintas iman. Saat kita bicara soal kepedulian, kita tidak harus melihat siapa mereka atau apa latar belakangnya,” tegas Pdt. Agus Haryanto.

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) DIY yang diwakili Tao Cin Eka Putra, memperkaya diskusi dengan perspektif ajaran luhur Khonghucu yang sangat relevan dengan tema pemberdayaan. Dia memperkenalkan prinsip “Ji Li Er Li Ren” sebagai fondasi moral dalam merawat kerukunan bangsa.


Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *