Presiden Afrika Selatan Mengungkap Keterlibatan Israel dalam Pemindahan Pengungsi Palestina
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, pada Jumat, 14 November 2025, mengumumkan bahwa pihak berwenang sedang menyelidiki bagaimana sebuah pesawat carteran yang membawa 153 pengungsi Palestina asal Gaza dapat memasuki negara itu tanpa dokumen yang diperlukan. Ia bahkan menyebut keadaan tersebut sebagai “misterius”.
“Mereka adalah orang-orang dari Gaza yang entah bagaimana secara misterius ditempatkan di pesawat yang melewati Nairobi dan tiba di sini,” ujar Ramaphosa kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa badan intelijen dan Kementerian Dalam Negeri sedang melakukan penyelidikan terkait insiden ini.
Proses Keberangkatan Pengungsi Palestina
Menurut laporan Anadolu, para pengungsi tiba dari Kenya dengan tujuan mencari suaka setelah sebelumnya ditolak masuk karena tidak lolos wawancara dan tidak memiliki cap keberangkatan resmi di paspor. Mereka berangkat dari Bandara Ramon di Israel, transit di Nairobi, lalu melanjutkan perjalanan ke Johannesburg. Setelah lebih dari 10 jam di landasan, petugas memberikan pembebasan visa selama 90 hari kepada para penumpang, meskipun 23 orang telah melanjutkan penerbangan sebelum izin dikeluarkan.
Episode ini memicu kemarahan publik di Afrika Selatan, yang telah lama dikenal karena dukungannya yang kuat terhadap hak-hak Palestina. Kementerian Luar Negeri Palestina menyampaikan apresiasi atas langkah Afrika Selatan itu. Dalam pernyataannya, kementerian itu menyebutkan, “Kami menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas keputusan berdaulat untuk memberikan visa masuk kepada sejumlah warga kami.”
Peringatan Terhadap Perdagangan Manusia
Palestina juga menyatakan bahwa mereka telah memerintahkan kedutaannya di Afrika Selatan untuk berkoordinasi dekat dengan otoritas setempat. Sementara itu, Afrika Selatan selama ini menjadi pendukung kuat hak-hak Palestina. Negara itu mengajukan gugatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) pada 29 Desember 2023, menuduh Tel Aviv gagal memenuhi kewajibannya di bawah Konvensi Genosida 1948.
Kemenlu Palestina juga memperingatkan perusahaan atau pihak mana pun yang menipu warga Gaza agar berpindah negara atau memanfaatkan kondisi krisis untuk perdagangan manusia. Mereka menyatakan bahwa, “Yang melakukan praktik semacam itu akan menanggung konsekuensi hukum dari tindakan melawan hukum mereka dan akan dituntut serta dimintai pertanggungjawaban.” Kementerian tersebut juga menyerukan kepada keluarga Palestina, khususnya yang berada di Gaza, agar waspada terhadap jaringan perdagangan manusia dan pihak tidak resmi yang menawarkan perpindahan.
Israel Memfasilitasi Pengusiran Warga Gaza
Imtiaz Sooliman, Kepala Organisasi Kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan kepada SABC bahwa situasinya tampak “mengerikan”. Ia menuduh Israel mengkoordinasikan penerbangan semacam itu sebagai bagian dari upaya untuk mengusir warga Palestina dari Gaza. Sooliman mengatakan para pengungsi membayar biaya tinggi kepada perantara dan dipindahkan ke pangkalan militer Ramon sebelum diterbangkan ke luar negeri.
Menurut BBC, badan penghubung militer Israel, Cogat, menyatakan para pengungsi meninggalkan Gaza setelah menerima “persetujuan dari negara ketiga”, tanpa menyebutkan nama negara tersebut. Seorang penumpang, Loay Abu Saif, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Israel memfasilitasi pemindahan tersebut dan ia serta keluarganya tidak tahu tujuan mereka. Ia menggambarkan perjalanan lebih dari 24 jam itu sebagai “perjalanan penuh penderitaan”.
Ia mengatakan penyelenggara mewajibkan dokumen Palestina yang sah, izin keamanan Israel, dan pembayaran sebesar US$1.400-2.000 per orang, serta menginstruksikan keluarga untuk tidak membawa barang bawaan apa pun selain dokumen. Rombongan tersebut diangkut dengan bus melalui Rafah ke Karem Abu Salem sebelum dibawa ke Bandara Ramon, tempat paspor tidak dicap.
Situasi Pengungsian yang Memburuk
Kedatangan warga Palestina dengan pesawat pada Kamis, 13 November 2025, adalah penerbangan kedua mereka yang melarikan diri dari perang di Gaza untuk mencapai Afrika Selatan. Adapun penerbangan pertama membawa 176 orang pada bulan lalu. Menurut laporan Al Jazeera, detail mengenai skema transit Gaza-Afrika Selatan dijalankan oleh sebuah organisasi nirlaba. Para aktivis menilai Israel mendorong perpindahan warga Gaza dengan membantu mereka menetap di negara lain.
Situasi ini mencuat di tengah kondisi pengungsian yang kian memburuk. Data terakhir menunjukkan perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 69.187 warga Palestina dan melukai 170.703 orang sejak Oktober 2023. Sekitar 20 ribu korban tewas adalah anak-anak. Sebanyak 1.139 warga Israel tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan sekitar 200 orang disandera.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











