
Presiden Prabowo Subianto melakukan sejumlah kunjungan dan rapat koordinasi terbatas (ratas) di Aceh Tamiang, pada awal tahun 2026. Ini merupakan komitmen Presiden dan pemerintah untuk mempercepat pemulihan pasca-banjir dan longsor yang terjadi di wilayah tersebut.
Pada kesempatan ini, Presiden Prabowo meninjau hunian sementara yang dibangun untuk warga terdampak bencana, merespons kritik penanganan bencana, serta menyampaikan pernyataan terkait peran TNI dan dukungan berbagai pihak termasuk diaspora. Kunjungan Presiden menjadi sorotan utama menjelang akhir tahun dan awal tahun baru, menunjukkan fokus pemerintah pada rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-banjir-longsor di beberapa provinsi di pulau ini.
Reaksi Prabowo Saat Tinjau Hunian Danantara di Aceh Tamiang: “Luar Biasa”
Presiden Prabowo Subianto meninjau pembangunan hunian sementara yang dibangun oleh Badan Pengelola Investasi Danantara di Aceh Tamiang, yang ditujukan untuk warga terdampak banjir dan longsor. Peninjauan ini menjadi agenda awal kunjungan Presiden di tahun 2026 dan melibatkan sejumlah pejabat tinggi serta mitra BUMN.
Prabowo didampingi oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf, CEO Danantara Rosan Roeslani, COO Danantara Dony Oskaria, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono. Selain itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Luar Negeri Sugiono, Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, Wakil Panglima TNI Tandyo Budi, dan Kepala BNPB Suharyanto juga turut hadir dalam acara tersebut.
Dony memberikan paparan mengenai fasilitas hunian kepada Presiden Prabowo. Ia sempat mendengar penjelasan tentang kelengkapan tempat tidur hingga akses Wi-Fi gratis.
Prabowo mengaku puas dengan progres hunian tersebut, menggambarkan dalam satu kata: “Luar biasa.”
Prabowo Soroti Pengkritik Penanganan Bencana: “Kita Terima Sebagai Koreksi”
Dalam rapat koordinasi terbatas di Aceh Tamiang, Prabowo membalas kritik yang diarahkan kepada pemerintah terkait penanganan pascabanjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menyatakan bahwa kritik yang terus mencari kesalahan justru bisa menjadi bahan evaluasi.
Menurut Prabowo, kehadirannya ke lokasi bencana bukan hanya untuk melihat kondisi, tetapi untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan. Ia juga menyoroti kecenderungan beberapa komentator yang selalu memandang kegiatan pemerintah secara negatif.
“Kita datang bukan untuk sekadar melihat, tapi untuk mengetahui masalah,” tegas Prabowo.
“Kadang-kadang sayang monitor ada suatu kecenderungan yang menurut saya kurang sehat dari beberapa pribadi-pribadi, komentator, dan sebagainya yang selalu melihat kegiatan Bangsa Indonesia, kegiatan pemerintah, dari sudut yang negatif,” tambah dia.
Ia lalu mengajak para pemimpin untuk menerima pandangan-pandangan itu sebagai sebuah koreksi yang penting.
“Saya sampaikan ke saudara para pimpinan kepala badan, gubernur, salah satu kewajiban seorang pemimpin siap untuk dihujat, difitnah, tapi tidak boleh kita terpengaruh dan pantang semangat,” kata Prabowo.
“Semua kita terima sebagai koreksi juga enggak apa walaupun itu fitnah, kalau kita tahu di hati kita itu tidak bener, itu jadi waspada bagi kita,” tutur dia.
Prabowo: Menteri Datang ke Lokasi Bencana Bukan ‘Macul’ Tapi Kerja Nyata
Prabowo membantah pandangan negatif soal pejabat yang datang ke lokasi bencana semata untuk melihat. Dalam rapat di Aceh Tamiang, ia menegaskan tugas pejabat adalah mencatat kebutuhan korban agar bantuan bisa cepat disalurkan.
“Jadi saya pernah dengar ada kritik, untuk apa menteri datang ke tempat bencana, hanya datang melihat. Serba susah, menteri datang dibilang enggak peduli, menteri datang, masa menteri ikut macul, bukan itu,” kata Prabowo dalam rapat yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden.
Ia bercerita pengalaman berdiskusi dengan gubernur setempat dalam rangka penyelesaian kebutuhan daerah terdampak.
“Saya datang ke gubernur, Pak saya butuh ini, butuh ini, kan begitu ceritanya. Tapi mudah-mudahan saya percaya dengan bukti. Jadi saya sampaikan ke saudara, para pimpinan, para menteri, kepala, badan, gubernur semua,” beber dia.
Prabowo: Jangan ‘Uang Lelah’, Tapi ‘Uang Semangat’; TNI Tak Kenal Lelah
Dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang, Prabowo menanggapi istilah “uang lelah” yang digunakan terkait tunjangan untuk prajurit TNI yang membantu pemulihan bencana. Mulanya ia mendapat paparan bahwa prajurit mendapat uang lelah, dari Kepala BNPB Letjen Suharyanto.
Ia mengoreksi penyebutan tersebut menjadi “uang semangat”, menekankan bahwa prajurit TNI dikenal sebagai pihak yang tidak mengenal lelah dalam bertugas.
“Kalau tentara jangan uang lelah, ya, karena tentara enggak boleh lelah,” ujar Prabowo.
Suharyanto lalu mengoreksi pernyataannya dan menyebut uang yang diberikan merupakan uang saku.
“Uang saku, Bapak. Siap,” kata Suharyanto.
Prabowo Terbuka Terima Bantuan Diaspora untuk Korban Bencana
Presiden Prabowo memastikan pemerintah terbuka terhadap bantuan dari diaspora nasional yang ingin membantu pemulihan pasca-banjir dan longsor. Ia menyatakan tidak akan menolak bantuan yang tulus dan ikhlas, asalkan disalurkan melalui mekanisme pemerintah yang jelas dan transparan.
Prabowo juga menyebutkan potensi keterlibatan diaspora dari berbagai daerah seperti Aceh, Minang, dan Sumatera Utara untuk membantu daerah asal mereka.
“Kalau ada pihak yang tulus ikhlas mau membantu, ya kita tidak akan menolak bantuan, asal mekanismenya jelas,” kata Prabowo dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang.
Ia menyebutkan secara khusus kemungkinan keterlibatan diaspora dari berbagai daerah. Prabowo mencontohkan diaspora Aceh yang ingin membantu di Aceh, diaspora Minang yang terpanggil membantu Sumatera Barat, maupun komunitas masyarakat Sumatera Utara di luar daerah, termasuk dari luar negeri.
“Kalau ada diaspora Aceh merasa terpanggil membantu di Aceh, ya monggo. Diaspora Minang membantu Ranah Minang, silakan. Mungkin ada juga di Sumatera Utara, ada komunitas orang Batak di Jawa juga besar dan banyak, silakan, dari luar negeri,” ujarnya.
Prabowo Minta Sekolah & Puskesmas di Lokasi Bencana Difungsikan Lagi
Prabowo meminta agar fasilitas publik seperti sekolah dan puskesmas di wilayah terdampak bencana di Sumatera segera difungsikan kembali untuk melayani masyarakat. Tindakan ini ia nilai penting untuk mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi setelah bencana.
Ia menilai kembalinya layanan pendidikan dan kesehatan adalah bagian dari langkah rehabilitasi yang harus dipercepat. Upaya ini dilakukan bersama jajaran kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terkait.
Prabowo Setuju Operasi Besar Normalisasi Sungai Berlumpur di Sumatera
Dalam ratas masalah penanganan bencana, Prabowo menyetujui operasi besar-besaran untuk normalisasi sungai yang berlumpur akibat banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera. Normalisasi sungai ini diharapkan dapat mengurangi risiko banjir susulan dan memperlancar alur air.
Prabowo menekankan pentingnya operasi terkoordinasi antara kementerian/lembaga, BNPB, dan pemda untuk implementasi program normalisasi sungai ini. Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi pemulihan dan mitigasi bencana di level daerah terdampak.











