Sekolah Rakyat Ponorogo: Membentuk Karakter dengan Pendekatan Tanpa Kekerasan
Sekolah Rakyat di Kabupaten Ponorogo telah hadir selama enam bulan terakhir. Terletak di eks Sentra Industri, Jalan Trunojoyo, Kelurahan Tambakbayan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sekolah ini menjadi rumah bagi ratusan siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial kompleks.
Adalah Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 di Ponorogo yang hadir sebagai tempat kedua bagi anak-anak dengan berbagai tantangan, mulai dari kurangnya perhatian orang tua hingga pengalaman kenakalan remaja. Melalui pendekatan pendidikan tanpa kekerasan, sekolah ini tidak hanya fokus pada pembelajaran formal, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan harapan masa depan bagi para siswanya.
Pendekatan Tanpa Kekerasan
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 di Ponorogo, Devit Tri Candrawati, menjelaskan bahwa selama enam bulan pengalamannya menghadapi berbagai karakter siswa. Ada sebanyak 113 siswa yang saat ini terdaftar di sekolah ini.
“Ada anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Setiap kali saya datang, mereka langsung peluk dan memanggil Bu Devit,” ujarnya. Hal ini membuat dirinya dekat dengan siswa dan sebaliknya. Menurut Devit, perhatian yang diberikan bukan hanya materi, tetapi juga melalui komunikasi dan kepedulian.
Devit juga menyebutkan bahwa dalam proses belajar mengajar, kurikulum Sekolah Rakyat hampir sama dengan sekolah umum lainnya. Namun, sekolah ini menggunakan sistem learning management, di mana semua pembelajaran dikelola melalui satu aplikasi. Siswa menerima materi, mengerjakan tugas, dan melakukan absen hanya melalui aplikasi tersebut.
Fasilitas dan Kurikulum Digital
Saat ini, ratusan siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 di Ponorogo sudah mendapatkan laptop dari pemerintah pusat. Laptop tersebut tiba di Bumi Reog pada minggu kedua Desember. Untuk mencegah penggunaan yang tidak sesuai, aplikasi yang digunakan hanya dibuat oleh guru dan wali asuh. Bahkan, YouTube yang digunakan adalah YouTube Kids.
Sekolah Rakyat juga memberikan akses belajar khusus kepada pelajar dari kelompok rumah tangga desil 1 dan 2, yakni 10 persen terendah secara kesejahteraan di daerah ini. Angka ini penting mengingat rata-rata lama sekolah penduduk Ponorogo baru mencapai sekitar 7,8 tahun, yang berarti secara umum warga hanya mengenyam pendidikan hingga SMP kelas awal.
Proses Rekrutmen Siswa
Devit mengaku bahwa untuk rekrutmen siswa tahun ajaran baru, penerimaan siswa baru, atau penambahan kuota belum bisa dilakukan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan daya tampung. Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 masih menumpang di lokasi sementara. Sedangkan bangunan permanen masih dalam proses pembangunan.
“Proses penambahan siswa baru akan dilakukan pada 2027. Saat ini, kami masih fokus pada pemenuhan kuota dari siswa yang mengundurkan diri,” jelasnya. Dari 125 siswa baru, saat ini hanya ada 113 siswa. 12 siswa lainnya sedang menunggu giliran sebagai pengganti.
Kehidupan Siswa di Sekolah Rakyat
Dari total 113 siswa, 55 di antaranya adalah siswi perempuan, dan sisanya adalah siswa laki-laki. Mereka diasrama, dan untuk kegiatan belajar mengajar Senin sampai Selasa, siswa menggunakan seragam nasional. Rabu sampai Kamis, mereka menggunakan baju batik. Jumat, mereka menggunakan baju pramuka. Sabtu, mereka berkegiatan di asrama, dan Minggu ada kunjungan orang tua.
Dari jumlah tersebut, 15 persen adalah siswa putus sekolah. Sekolah Rakyat diharapkan dapat membantu meningkatkan angka partisipasi pendidikan, memberikan peluang lebih luas bagi anak-anak dari kelompok kurang beruntung untuk belajar lebih tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik.












