Kesehatan Personel Pertahanan Sipil Gaza Terancam Akibat Pekerjaan Evakuasi Jenazah
Personel pertahanan sipil Gaza menghadapi ancaman kesehatan serius akibat pekerjaan mereka dalam proses pencarian dan evakuasi jenazah di bawah reruntuhan. Banyak dari mereka dilaporkan menderita penyakit pernapasan dan gangguan pencernaan dalam beberapa minggu terakhir.
Mohammad Al Midna, direktur hubungan masyarakat pertahanan sipil, mengungkapkan bahwa awalnya mereka mengira gejala tersebut hanya penyakit musim dingin biasa. Namun, setelah melakukan tes dan konsultasi, ditemukan adanya kaitan antara penyakit tersebut dengan pekerjaan pengangkatan jenazah yang telah membusuk.
“Kami terpapar bakteri dan zat pencemar berbahaya karena tidak memiliki peralatan keselamatan yang memadai,” ujarnya.
Gejala yang Dialami oleh Para Pekerja
Para pekerja mencatat sejumlah gejala yang muncul, seperti demam tinggi, kelelahan, dan sakit kepala. Mahmoud Bassal, juru bicara pertahanan sipil, menjelaskan bahwa timnya dan para relawan lokal sering bersentuhan langsung dengan jasad korban selama proses evakuasi. Mereka telah mendokumentasikan banyak kasus pekerja yang jatuh sakit setelah operasi tersebut.
“Mereka mengalami demam tinggi, kelelahan, sakit kepala, dan gejala lainnya. Meski kami tidak memiliki kapasitas untuk melakukan studi medis secara menyeluruh, para ahli memastikan bahwa paparan bakteri dan gas beracun tanpa perlindungan dapat menyebabkan penyakit serius,” ujarnya.
Tidak Ada Peralatan Pelindung yang Cukup
Mohammed Al Mughayir, direktur dukungan kemanusiaan di pertahanan sipil, melaporkan bahwa sedikitnya satu anggota badan tersebut, yang paling aktif dalam proses evakuasi jenazah, meninggal dunia akibat operasi tersebut. “Para dokter sepakat bahwa penyakit darah yang dideritanya disebabkan oleh paparan kontaminan biologis secara terus-menerus. Kami tidak memiliki pendeteksi gas, masker khusus, helm yang layak, maupun alas kaki pelindung. Peralatan yang kami miliki berkualitas rendah dan tidak memenuhi standar keselamatan,” jelasnya.

Israel Menghalangi Masuknya Peralatan Pelindung
Sementara itu, petugas pertahanan sipil lainnya, Qusay Sarsour, menderita penyakit ginjal selama tiga bulan terakhir, yang menurut dokter disebabkan oleh paparan gas beracun. “Sejak perang dimulai, kami bekerja tanpa perlengkapan pelindung, dalam kondisi yang sangat keras. Saya sering merasakan tekanan di dada, seolah-olah saya kehabisan napas,” ujar Sarsour.
Ayman Abu Rahma, Direktur Kesehatan Preventif di Kementerian Kesehatan Gaza, menjelaskan bahwa penanganan jenazah yang telah membusuk tanpa tindakan pencegahan dan peralatan yang memadai dapat menimbulkan dampak kesehatan serius, termasuk penyakit berbahaya yang menular melalui darah. “Dengan prosedur dan peralatan yang tepat, risiko-risiko ini dapat dikurangi. Namun Gaza kekurangan sarung tangan, masker, kacamata pelindung, pakaian tahan cairan, dan disinfektan. Selama 2 tahun, blokade (Israel) telah mencegah masuknya peralatan ini, sehingga menyebabkan kekurangan yang parah,” jelasnya.
Jumlah Jenazah yang Masih Tertimbun Reruntuhan
Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan dan Pertahanan Sipil Gaza, diperkirakan sekitar 10 ribu jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan. Beberapa ahli bahkan meyakini jumlahnya bisa mencapai 14 ribu. Operasi evakuasi jenazah berlangsung di tengah keterbatasan logistik dan teknis, dengan kesulitan besar akibat struktur bangunan yang rapuh, reruntuhan padat, dan minimnya alat berat.
Menurut data PBB, hingga akhir September 2025, militer Israel telah merusak atau menghancurkan sekitar 83 persen bangunan di Gaza. Wilayah Palestina yang padat penduduk itu kini tertutup sekitar 61,5 juta ton puing, hampir 170 kali lipat berat Empire State Building di New York, AS.













