Pemantauan Alat Medis oleh Hasto Kristiyanto di Kantor Megawati Institute
Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), tampak sibuk mengecek sejumlah alat medis dan obat-obatan yang berada di dalam mobil Bus yang terparkir di Kantor Megawati Institute. Dia mengenakan rompi krem bertuliskan ‘Baguna’ dan memegang sejumlah alat medis serta obat-obatan. Tampaknya dia sangat detail dalam memeriksa satu persatu alat-alat yang telah disiapkan.
Bus tersebut telah dimodifikasi menjadi Mobil Pelayanan Kesehatan PDIP. Bersama Ketua DPP PDIP bidang Kesehatan dr. Ribka Tjiptaning, Hasto berkeliling ke dua bus yang telah disulap menjadi Mobil Pelayanan Kesehatan serta satu bus yang menjadi kendaraan mobilisasi para tim relawan kesehatan. Dia tampak serius mengangkat beberapa obat yang akan dibawa menuju ke sejumlah lokasi. Tujuannya adalah memastikan tidak ada yang tertinggal dan semua perlengkapan medis yang telah disiapkan terbawa.
Fasilitas di dalam bus mencakup poli umum, poli gigi, poli mata, layanan USG untuk ibu hamil, laboratorium, hingga apotek dengan ketersediaan obat-obatan standar klinik berkualitas. Rangkaian pengecekan ini dilakukan bersama Ribka serta Deddy Sitorus sebagai bagian dari kegiatan peluncuran Bus Pelayanan Kesehatan untuk para korban bencana alam banjir dan longsor di wilayah Jawa Barat.
Ribka Tjiptaning menyatakan bahwa penerjunan tim medis dan armada canggih ini merupakan bentuk nyata komitmen gotong royong partai. Menurutnya, aksi kemanusiaan ini adalah instruksi langsung dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang selalu menekankan pentingnya kehadiran kader di tengah kesulitan masyarakat. “Ini berkat gotong royong kader partai dan perintah Ibu Mega yang selalu menekankan agar kader partai hadir, menangis dan tertawa bersama rakyat. Pada siang hari ini kita bergembira, walaupun penuh tanggung jawab, karena masih bisa berbagi untuk rakyat banyak,” ujar Ribka.
Ribka menjelaskan bahwa pihaknya melibatkan sekitar 150 personel profesional yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, hingga relawan kesehatan lainnya yang sudah terlatih menghadapi situasi darurat. Jumlah ini melengkapi gerak cepat partai yang sebelumnya juga telah memberangkatkan 30 unit ambulans ke berbagai provinsi pada akhir Desember lalu.
Armada Bus Klinik Berjalan yang dikerahkan pun telah melalui proses kalibrasi alat medis yang ketat guna menjamin akurasi pelayanan. Dia memastikan bahwa tim medisnya siap melakukan tindakan darurat di lapangan jika diperlukan. Mengenai sasaran lokasi, Ribka menyebut Jawa Barat menjadi fokus utama mengingat skala dampak bencana yang cukup luas. Prioritas awal pelayanan akan diarahkan ke wilayah Kabupaten Karawang, Bekasi, serta Subang yang dilaporkan mengalami banjir cukup parah.
Meski demikian, dia memastikan tim akan terus bersiaga karena hampir seluruh wilayah Jawa Barat melaporkan adanya dampak cuaca ekstrem. Selain gerak di darat, Ribka juga memaparkan keberlanjutan misi Kapal Rumah Sakit Apung Malahayati yang hingga kini masih konsisten melayani warga di Mentawai. “Dalam waktu dekat, kapal dijadwalkan melanjutkan pelayanan ke Bengkulu, Lampung, dan wilayah pesisir lainnya,” ujarnya.
Pelepasan tim medis Jawa Barat ini turut dihadiri dan didukung oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto serta jajaran pengurus pusat lainnya, termasuk Deddy Yevri Sitorus, Charles Honoris, Yuke Yurike, dan anggota DPR RI Fraksi PDIP Dony Maryadi Oekon.
Kronologi Bencana Tanah Longsor di Bandung Barat
Tanah longsor besar melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada 24 Januari 2026 sekitar pukul 02.30 WIB. Peristiwa ini menewaskan lebih dari 52 orang, puluhan lainnya masih hilang, dan sekitar 30 rumah rusak berat tertimbun material longsor.
Kronologi Kejadian
– Tanggal/Waktu: 24 Januari 2026, pukul 02.30 WIB.
– Lokasi: Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat.
– Pemicu: Hujan deras selama dua hari berturut-turut disertai angin kencang.
– Proses: Longsor terjadi dalam dua gelombang; pertama sekitar pukul 03.00 WIB, lalu gelombang kedua lebih besar tak lama setelahnya.
Dampak Bencana
– Korban jiwa:
– 52 orang meninggal dunia (data per 28 Januari 2026).
– 30 orang masih dalam pencarian.
– Total terdampak: 158 jiwa dari 52 kepala keluarga.
– Kerusakan:
– Sekitar 30 rumah rusak berat dan tertimbun material.
– Luas area terdampak mencapai ±26 hektare.
– Material longsor: Batu, lumpur, tanah lempung-pasir, membentuk aliran debris flow sepanjang ±3 km dari lereng atas hingga permukiman.











