Analisis Perang AS-Israel vs Iran
Pengamat hubungan internasional menyampaikan bahwa serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran kini memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk mengganti rezim Ayatollah Ali Khamenei dari rezim Islam Iran menjadi pemerintahan yang berbeda. Kedua, memaksa pemerintah Iran untuk duduk di meja perundingan terkait tuduhan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Kishino Bawono, pengamat hubungan internasional dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), menjelaskan bahwa tujuan pertama adalah untuk mengubah struktur pemerintahan Iran. Tujuan kedua adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir, seperti yang dituduhkan oleh AS dan Israel.
Tanggapan Iran
Sementara itu, Iran kemungkinan akan melakukan balasan simbolis terhadap serangan tersebut. Alasannya, jika perang besar terjadi, Iran tidak akan bisa menyaingi kekuatan militer AS dan Israel. Namun, Iran tetap perlu menunjukkan kepada publiknya bahwa mereka tidak diam saja ketika diserang.
Kishino juga menyebutkan bahwa kekuasaan ayatollah akan berubah setelah kematian pimpinan tertinggi Iran. Dalam konstitusi Iran, setelah seorang supreme leader meninggal, maka harus ditentukan siapa supreme leader selanjutnya. Sayangnya, hingga saat ini belum ada informasi tentang kapan dan siapa penggantinya.
Kelebihan dan Kekuatan Iran
Meskipun Iran tidak akan mudah dikalahkan dalam konflik darat, karena wilayahnya terdiri dari bukit, gurun, dan gunung, Kishino menilai Iran tidak akan mudah mendapatkan dukungan penuh dari negara sekutu seperti Cina dan Rusia. Berbeda dengan AS yang langsung didukung oleh Israel ketika menghadapi ancaman.
Dalam hal ini, Cina dan Rusia lebih bersikap strategis dan menjaga jarak. Jika mereka memberikan dukungan, maka akan dilakukan secara taktis agar tidak terjadi retaliasi lebih lanjut dari AS.
Dampak pada Indonesia
Perang antara Iran, AS, dan Israel tentu akan berdampak pada negara-negara lain, termasuk Indonesia. Meski dampak politik Indonesia tidak signifikan, namun kekhawatiran utama adalah masalah ekonomi. Misalnya, perdagangan internasional dan jalur minyak bisa terganggu.
Namun, Kishino memastikan bahwa perang ini tidak terkait dengan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP). Tujuan BOP adalah membawa perdamaian di Palestina, khususnya di Gaza. Indonesia, meskipun membela Palestina, tidak terkait langsung dengan isu Iran.
Solusi untuk Menghentikan Perang
Menurut Kishino, satu-satunya cara untuk menghentikan perang antara Iran, AS, dan Israel adalah melalui keputusan Presiden AS, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Kedua pemimpin ini akan bertemu dan bernegosiasi untuk menentukan akhir dari konflik ini.
Rekomendasi dan Tindakan
Untuk menghindari eskalasi konflik, diperlukan dialog dan diplomasi yang lebih intensif antara para pihak terkait. Selain itu, penting bagi dunia internasional untuk menciptakan ruang aman bagi negara-negara yang terlibat dalam konflik agar dapat menyelesaikan masalah secara damai.











