Pemuda Kalsel Berupaya Meningkatkan Partisipasi Pendidikan
Data menunjukkan bahwa angka partisipasi pendidikan di daerah pedalaman dan pesisir Kalimantan Selatan (Kalsel) jauh tertinggal dibanding wilayah perkotaan. Banyak anak-anak di kawasan ini menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses pendidikan, termasuk kendala geografis dan ekonomi. Dalam konteks ini, Muhammad Syafiq SHI MH, seorang dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam IAI Darussalam Martapura, mencoba memberikan solusi dengan membagikan informasi tentang peluang pendidikan yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang.
Pengalaman Berharga dari Program International Volunteer
Melalui pengalaman di Program International Volunteer di Singapura, Malaysia, dan Thailand, Syafiq ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada generasi muda di pelosok Kalsel. “Saya ingin berbagi informasi tentang beasiswa, program pengembangan diri, dan peluang internasional yang selama ini mungkin tidak mereka ketahui,” ujarnya. Dengan memanfaatkan media digital dan jaringan yang dimiliki, ia yakin dapat menjangkau lebih banyak pemuda di Kalsel.
Awal mula Syafiq mengenal program Youth ID ini bermula melalui media sosial. Organisasi ini menawarkan kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk terlibat dalam kegiatan pengabdian internasional. Sebagai dosen, ia merasa ini adalah peluang emas untuk memperluas wawasan di kawasan ASEAN. “Yang membuat saya tertarik adalah fokus program ini pada isu pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia di luar negeri,” tambahnya.
Tantangan dan Pelajaran Berharga
Setelah melalui proses seleksi, Syafiq terpilih bersama 69 orang lainnya untuk mengikuti program volunteer di tiga negara tersebut. Di lapangan, tantangannya adalah mengelola tim volunteer yang berasal dari berbagai daerah dengan karakter dan latar belakang yang berbeda-beda. Mereka harus bekerja cepat, berpindah dari satu negara ke negara lain, serta berinteraksi dengan berbagai pihak seperti anak-anak migran, pihak kedutaan, hingga universitas internasional.
Salah satu pengalaman yang paling membuka wawasan adalah kunjungan ke sejumlah universitas internasional. Di Prince of Songkla University (PSU) Thailand, mereka disambut dengan hangat oleh jajaran profesor dan staf universitas. Mereka mempresentasikan berbagai program unggulan seperti Creative Media and Digital Technologies, Business Administration, dan Innovation Engineering Management.
Sementara di International Islamic University Malaysia (IIUM), Syafiq mendapatkan informasi yang sangat lengkap tentang peluang pendidikan, fasilitas unggulan, hingga berbagai program beasiswa untuk pelajar Indonesia. “Membuat saya terkesan adalah IIUM memiliki sistem pendidikan Islam modern yang memadukan ilmu agama dan sains dengan sangat baik,” katanya.
Kolaborasi dan Target Masa Depan
Kunjungan ke KBRI Kuala Lumpur juga menjadi momen yang sangat membanggakan sekaligus membuka wawasan. Syafiq dan tim langsung turun ke Sanggar Bimbingan dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), tempat anak-anak pekerja migran Indonesia belajar. Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Friny Napasti SPd MPd, menyambut baik kegiatan tersebut dan mengatakan program ini sangat penting untuk membuka wawasan para pemuda dan menumbuhkan empati terhadap realitas pendidikan anak-anak migran.
Dalam perjalanan, Syafiq sangat terkejut dan tidak menyangka akan menerima penghargaan Best Leader. Penghargaan ini bukan semata-mata pencapaian pribadi, tetapi hasil kerja keras tim 4 Petronas (Gumilang Dewantoro & Feby Nurazizah Al Zaharah) dan dukungan dari kampus serta LP3M IAI Darussalam Martapura yang selalu mendorong untuk memberikan yang terbaik.
Untuk keberangkatan selanjutnya di awal Januari 2026, Syafiq memiliki beberapa target yang ingin dicapai. Pertama, ia ingin membawa lebih banyak volunteer dari Kalsel. Ia akan melakukan sosialisasi di kampus-kampus dan sekolah-sekolah agar lebih banyak pemuda yang tahu dan tertarik mengikuti program serupa.












