Daerah  

Ratusan jiwa di Blitar tinggal di daerah longsor, ini lokasinya

Wilayah Blitar Terancam Bencana Tanah Longsor

Banyak warga di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tinggal di daerah yang berisiko tinggi terkena bencana tanah longsor. Mereka tinggal di desa-desa yang berada di lereng Gunung Kelud dan Gunung Kawi serta wilayah timur dan selatan Kabupaten Blitar.

Berikut beberapa desa yang masuk dalam zona merah:

Desa di Lereng Gunung Kelud

  • Desa Sumberasri di Kecamatan Nglegok
  • Desa Gadungan di Kecamatan Gandusari
  • Desa Ngaringan di Kecamatan Gandusari
  • Desa Soso di Kecamatan Gandusari
  • Desa Tulungrejo di Kecamatan Gandusari

Desa di Lereng Gunung Kawi

  • Desa Krisik di Kecamatan Gandusari
  • Desa Ngadirenggo di Kecamatan Wlingi
  • Desa Balerejo di Kecamatan Wlingi
  • Desa Sumberurip di Kecamatan Doko
  • Desa Resapombo di Kecamatan Doko
  • Desa Kalimanis di Kecamatan Doko

Desa di Wilayah Timur Kabupaten Blitar

  • Desa Pagergunung di Kecamatan Kesamben
  • Desa Pohgajih di Kecamatan Selorejo

Desa di Wilayah Selatan Kabupaten Blitar

  • Desa Panggungrejo di Kecamatan Panggungrejo
  • Desa Kaligrenjeng di Kecamatan Wonotirto
  • Desa Tulungrejo di Kecamatan Wates
  • Desa Ringinrejo di Kecamatan Wates
  • Desa Tugurejo di Kecamatan Wates
  • Desa Sukorejo di Kecamatan Wates
  • Desa Purworejo di Kecamatan Wates

Masalah Mitigasi Bencana

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar, Wahyudi, menyebutkan bahwa ada 14 kecamatan dari total 22 kecamatan yang masuk dalam zona rawan tanah longsor.

Namun, sistem kesiapsiagaan bencana masih kurang memadai. Menurutnya, tidak semua desa memiliki jalur evakuasi atau rambu petunjuk arah evakuasi. Selain itu, shelter pengungsian juga belum tersedia di area rawan.

Pemangkasan dana transfer ke daerah membuat pengadaan infrastruktur kesiapsiagaan semakin sulit. Saat ini, BPBD hanya melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga di daerah rawan bencana. Mereka juga mengirimkan press release dari BMKG tentang kewaspadaan datangnya curah hujan tinggi.

Pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi baru hanya dilakukan untuk ancaman letusan Gunung Kelud dan tsunami di pesisir selatan Blitar. Padahal, tanah longsor tetap menjadi ancaman nyata, terutama selama musim hujan.

Bencana Tanah Longsor di Bulan Desember 2025

Selama bulan Desember 2025, terjadi tanah longsor di delapan titik lokasi. Dua titik di wilayah selatan dan enam titik di wilayah utara.

Di wilayah selatan:
– Pada 8 Desember 2025, terjadi tanah longsor di Dusun Sumberasri, Desa Purworejo, Kecamatan Wates dan Dusun Kaligambir, Desa Kaligambir, Kecamatan Panggungrejo.
– Akibatnya, dua bangunan rumah warga rusak serta jalan dan jembatan terganggu.

Di wilayah utara:
– Pada 9 Desember 2025, enam titik tanah longsor terjadi di Dusun Desa Krisik, Kecamatan Gandusari.
– Empat rumah warga dan empat ruas jalan desa tertimbun longsor.

Selama September hingga November 2025, terjadi tanah longsor di 23 titik lokasi, terutama di wilayah utara. Saat bencana terjadi, BPBD memberikan bantuan terpal dan makanan kepada warga.

Penyebab Tanah Longsor

Wahyudi menjelaskan bahwa penyebab tanah longsor adalah kombinasi antara hujan deras yang berlangsung lama dan alih fungsi lahan dari tanaman keras ke perkebunan. Hal ini menyebabkan ekosistem rusak.

Pemulihan ekosistem sebagai upaya pencegahan bencana tanah longsor memerlukan kerja sama dari banyak pihak. Meski BPBD hanya memberikan masukan, instansi lain lebih berwenang dalam hal ini.

Di wilayah utara, banyak area dengan kemiringan curam telah berubah fungsi menjadi kebun kopi, nanas, tebu, dan lainnya. Di wilayah selatan, alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan tebu lebih masif.

“Harus ada sinergi dari berbagai instansi ketika kita bicara pencegahan bencana tanah longsor dan banjir,” ujar Wahyudi.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *