Yogyakarta: Ruang Emosional yang Selalu Mengundang Kembali
Yogyakarta bukan sekadar kota penuh romansa, melainkan sebuah ruang emosional ketika waktu seolah melambat dan membuat setiap momen mengendap secara permanen. Yogyakarta atau Jogja, bagi saya adalah salah satu tempat untuk pulang, menengok kembali kenangan bertahun-tahun lalu.
Ya, saya adalah anak kos di masa itu, masa-masa sebagai mahasiswa dan pengangguran. Melompat tahunan kemudian, saya adalah wisatawan di kota ini. Wisatawan lokal dengan modal cekak. Sekarang, dan beberapa tahun terakhir, saya adalah pengunjung Kota Jogja dengan label urusan pekerjaan. Tentu saja sambil merangkap jadi wisatawan tipis-tipis.
Musim liburan natal dan tahun baru ini Jogja kembali menjadi buah bibir dan perbincangan di dunia maya. Warganet seolah mengamini bahwa libur nataru ini Yogyakarta tengah diserbu orang dari seluruh Indonesia, mengalahkan destinasi wisata utama lainnya seperti Bali. Dan, entah bisa disebut kebetulan atau tidak, mendadak saja saya mendapat tugas ke Jogja sejak Senin, 22 Desember lalu.
“Enak banget Yah, bisa jalan-jalan ke Jogja,” cetus anak saya. Namun, menjadi satu di antara ribuan orang yang berkunjung ke Jogja, membuat saya berpikir tentang apa yang sebenarnya mereka cari di Jogja. Terlebih tentunya banyak di antara mereka sudah pernah ke Jogja sebelumnya.
Apakah tidak bosan dengan suasana Jalan Malioboro yang selalu ramai dan macet di musim liburan seperti ini? Apa tidak merasa “lu lagi lu lagi” ketika lewat atau memandang Tugu Jogja yang tersohor itu?
Satu hal yang mengusik pikiran saya adalah begitu banyaknya orang rela jauh-jauh untuk datang dan antre mengular di destinasi-destinasi yang viral di media sosial. Di satu sisi menjadi sebuah kewajaran, namanya juga musim liburan.
Pasar Ngasem misalnya. Pasar ini telah bertransformasi dari tempat jual beli burung dan unggas menjadi destinasi wisata kuliner yang viral. Beberapa hari ini muncul video yang menggambarkan antrean luar biasa wisatawan yang berkunjung ke Pasar Ngasem demi antre membeli makanan viral seperti sate koyor, apem, wingko babat dan sebagainya.
Belum lagi jika menyebut kuliner bakmi Jogja atau gudeg yang tersohor di Jogja. Terus terang, dulu saya pernah di posisi itu, ngantre pesan bakmi Jogja di sebuah warung yang terkenal dan baru bisa makan sekitar 1,5 jam berikutnya karena pesanannya baru jadi. Tentu saja, selama menunggu itu beberapa bungkus plastik kerupuk telah ludes untuk sekedar mengganjal perut (tapi gagal), dan segelas teh panas pun sudah hampir tandas dengan kondisi sudah dingin pula.
Untuk kali ini, berhubung saya sendirian ke Jogja, maka transportasi andalan agar saya lincah berpindah tempat adalah menggunakan ojek online. Dan, dari beberapa kesempatan ngobrol dengan mas-mas ojol di Jogja, keluhannya hampir sama, soal macet.
“Ini masih pagi Mas, nanti siang sedikit apalagi sore dan malam di jalan ini pasti macetnya panjang,” ujar seorang mas ojol yang membawa saya. Kawasan Malioboro, hingga jalanan menuju pantai-pantai di selatan Jogja, maupun yang ke arah utara dengan destinasi wisata sekitar Kaliurang dan Gunung Merapi kerap identik dengan kemacetan saat musim liburan.
Sudah macet di jalanan menuju lokasi, eh masih ditambah antrean masuk atau membeli sesuatu tiap kali berada di destinasi tujuan.
Mencari Jogja yang Sederhana dan Sebenarnya
Barangkali ini opini pribadi saya. Tapi saya sudah mencoba menepikan rasa penasaran dengan hal-hal yang ramai dan viral ketika berkunjung ke Jogja. Memang benar, saya selalu ingin menikmati sarapan soto ayam, gudeg, bakmi hingga jajanan khas Jogja yang jarang bisa ditemui di Jabodetabek. Tapi saya tak lagi mencari tempat penuh keramaian yang mengurangi keotentikan Jogja sebagaimana dulu saat saya pernah bermukim di kota ini.
Ingin rasanya mengajak mereka menyusuri ke bagian lain di Jogja ketika ada yang berkomentar di media sosial bahwa makanan di Jogja mahal-mahal. Ingin rasanya berbisik ke telinga mereka dan mengatakan:
“Makanya kalau beli makanan jangan di Malioboro.”
Setidaknya, bergeserlah ke daerah-daerah yang dekat kampus UGM, UNY, atau UIN untuk menikmati makanan nikmat, bahkan ada yang sudah legend, tapi tidak terlalu bergumul dengan riuh penasaran para wisatawan.
Tentang soto misalnya, orang-orang mungkin lebih penasaran untuk datang ke Soto Kadipiro atau Soto Pak Sholeh yang memang sudah masuk kategori legendaris. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka, di Jogja sangat mudah menemukan warung soto nikmat dengan harga yang lebih bisa diterima wisatawan modal cekak seperti saya.
Sebut saja soto ayam Pak Man di daerah Sagan yang tak jauh dari kampus UGM dan UNY. Warung ini bukanlah warung permanen ala rumah makan, melainkan warung tenda yang menggelar dagangannya di trotoar depan makam. Berada di pinggir jalan besar, maka pengunjungnya rata-rata adalah pekerja yang hendak berangkat mencari nafkah, atau mahasiswa yang bangun kesiangan.
Sotonya jenis soto lenthok atau sejenis perkedel dari ketela yang dibiarkan mengapung di kuah soto bersama irisan daging ayam serta irisan kecil tempe bacem. Saya juga menganut teori jika soto yang enak itu pasti menjual tempe yang lezat pula. Maka ketika warung ini menyediakan gorengan tempe tepung panas yang menggoda, sudah pasti warung soto ini memang termasuk juaranya soto dari sekian banyak juara soto di Jogja.
Harganya? Seporsi soto ayam, dua tempe goreng yang ukurannya gede, satu tusuk sate ampela, teh panas manis, dan kerupuk, hanya ditagih dua puluh ribu rupiah saya. Harga yang tak mungkin didapatkan di warung soto terkenal yang kerap diserbu wisatawan.
Gudeg di Pasar Demangan
Sehari setelahnya, menu sarapan saya adalah gudeg di Pasar Demangan, lagi-lagi tak jauh dari kampus UNY. Pasar yang ketika saya berkeliling, tak terlihat gerak-gerik wisatawan atau pendatang dari luar kota. Melainkan mereka warga lokal yang benar-benar datang untuk belanja.
Tak sulit menemukan gudeg Mbak Yuli, walaupun termasuk telah lama berjualan, tapi belumlah masuk kategori dikenal wisatawan pada umumnya. Ia berjualan di deretan ibu penjual bakulan gudeg lainnya. Bagi yang pernah membeli gudeg terkenal di Jogja, pasti tahu harganya pasti lumayan seperti layaknya makan di mal. Tapi sarapan gudeg krecek dengan lauk telur dan hanya merogoh uang sepuluh ribu rupiah bukan hal yang mustahil di Pasar Demangan ini.
Gudeg murah meriah bukanlah hal yang sulit ditemukan di Jogja, hanya saja media sosial telah membuat brand-brand gudeg tertentu tampak menjadi pilihan yang wajib, meskipun harganya mahal.
Selain di pasar seperti Pasar Demangan ini, penjual gudeg di pagi hari dapat dengan mudah ditemukan berjualan di trotoar depan pertokoan yang belum buka. Sebut saja di deretan pertokoan tekstile di sepanjang Jalan Urip Sumoharjo. Di sinilah suasana Jogja yang sebenarnya bakal terasa. Makan gudeg di pinggir jalan bersama mas-mas kantoran atau penjaga toko yang bersiap kerja.
Sungguh terasa lebih membumi ketimbang sebagian besar wisatawan yang sepagi itu masih berkutat di hotel, belum mandi, dan bersiap sarapan di resto hotel saja dengan menu omelet dan nasi goreng.
Ah, tapi sebenarnya kembali lagi ke kepuasan masing-masing orang. Mungkin lebih banyak orang lebih mementingkan mendapatkan foto dengan latar belakang tempat wisata ikonik di Jogja, ketimbang hal-hal otentik di Jogja yang saya tuliskan di sini. Sah-sah saja sih. Seperti halnya tentang oleh-oleh khas Jogja yang seolah harus dibeli di pusat oleh-oleh di sekitar Malioboro.
Namun, untuk kali ini oleh-oleh yang saya bawa adalah keripik tempe gembus yang saya beli di Pasa Demangan dengan harga sepuluh ribu rupiah per bungkusnya.










