Menteri Perhubungan Janjikan Pelabuhan Bebas Pedagang Kaki Lima seperti Bandara dan Stasiun

Fokus Pembenahan Pelabuhan di Indonesia

Pembenahan tata kelola pelabuhan di Indonesia menjadi salah satu prioritas Kementerian Perhubungan. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah keberadaan para pedagang asongan yang sering kali mengganggu ketertiban dan kenyamanan pengguna jasa pelabuhan. Langkah-langkah yang akan diambil dalam pembenahan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih tertib, aman, dan nyaman.

Pembenahan ini tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya aturan dan keselamatan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengakui bahwa kondisi pelabuhan di beberapa wilayah, terutama di Indonesia Timur, masih belum ideal. Bahkan di Pulau Jawa pun, masih banyak pelabuhan yang belum tertata dengan baik.

“Kalau pelabuhan, tidak usah lihat jauh-jauh (ke wilayah Timur) lihatnya di sini saja. Bahwa perlu pembenahan? Iya, perlu pembenahan. Perlu waktu ya, tapi memang kita harus membenahi,” ujarnya dalam sebuah Media Briefing di Jakarta.

Menurut Dudy, masalah ketertiban di pelabuhan tidak bisa dilepaskan dari proses panjang perubahan pola pikir masyarakat. Meski demikian, ia optimistis bahwa seiring meningkatnya pendidikan dan kesadaran publik, pemahaman soal keselamatan juga akan ikut tumbuh.

“Saya yakin dengan semakin majunya pendidikan dan sebagainya, pemahaman dan kesadaran akan keselamatan itu meningkat. Jadi butuh waktu, ya memang butuh waktu,” tambahnya.

Dudy juga menyampaikan bahwa petugas di lapangan sering menghadapi dilema dalam menjalankan penindakan. Di satu sisi, penertiban diperlukan demi keselamatan dan kenyamanan. Namun di sisi lain, faktor sosial masyarakat sekitar pelabuhan sering kali membuat penindakan menjadi sulit.

“Masih galakan penduduk sekitarlah. Dengan segala alasan, dengan seribu macam alasan. Teman-teman kita sering dihadapkan pada posisi sulit, dilematis. Bertindak keras salah, tidak ditindak malah mengganggu,” katanya.

Ia mengakui bahwa kesadaran masyarakat soal ketertiban memang belum merata. Ada yang sudah patuh, namun ada pula yang belum terlalu peduli terhadap aspek keselamatan.

“Jadi kita sebagai bangsa memang harus melewati proses itu. Ada kekurangan dan itu perlu dibenahi,” imbuhnya.

Sebagai contoh, Dudy mengungkapkan pengalamannya saat berkunjung ke Makassar tahun lalu. Ia menyoroti masih banyaknya pedagang asongan yang bahkan bisa naik hingga ke atas kapal penumpang.

“Waktu saya sampaikan, jawabannya, ‘Pak, memang Makassar ya seperti ini.’ Terus saya bilang, Bandara Hasanuddin ada di mana? Di Makassar. Orangnya orang Makassar juga. Kenapa di sana lebih tertib, di sini enggak,” ungkap Dudy.

Pemahaman dan Penegakan Aturan Jadi Kunci

Menurutnya, bandara dan stasiun kereta api bisa menjadi cermin bahwa ketertiban sebenarnya bisa diterapkan, asalkan ada pemahaman dan penegakan aturan yang konsisten.

“Tidak ada pedagang asongan keliaran sampai naik pesawat. Itu yang ingin saya benahi. Seluruh moda transportasi harus dilayani dengan baik, berkeselamatan, dan tertib. Sama seperti di stasiun kereta,” tegasnya.

Terakhir, Dudy meminta masyarakat memberi waktu kepada pemerintah untuk melakukan pembenahan secara bertahap. Ia menegaskan bahwa penataan pelabuhan akan terus dilakukan agar kualitas layanan transportasi laut bisa sejajar dengan moda transportasi lainnya.

“Kasih kita waktu, kita perbaiki. Karena di sektor transportasi udara sudah tertib, transportasi kereta juga di seluruh stasiunnya. Termasuk di Makassar, saya tidak melihat ada pedagang asongan,” pungkasnya.

Kondisi Pelabuhan Poumako, Mimika

Komitmen pembenahan pelabuhan ini mencuat usai terjadinya kepadatan di Pelabuhan Poumako, Mimika. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Poumako, Rachmansyah, menyebut kepadatan di dermaga terjadi karena sistem keamanan pelabuhan yang dinilai lumpuh.

Menurutnya, lemahnya sistem keamanan itu disebabkan tidak adanya dukungan fasilitas yang memadai. Akibatnya, masyarakat dapat dengan leluasa memasuki kawasan dermaga tanpa melalui pemeriksaan ketat dan tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Mau atur bagaimana kondisi pelabuhan macam begitu, tidak ada terminal penumpang, tidak ada istilah pos untuk mensterilkan penumpang, yang boleh masuk itu yang punya (tiket). Yang tidak punya tiket tidak boleh masuk. Di sini pengantar, pengunjung, penjemput, mobil, motor,” terangnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *