Paket MBG Liburan Sekolah Dianggap Tidak Sehat, Makanan UPF Jadi Sorotan

Kritik terhadap Paket Makan Bergizi Gratis (MBG) Selama Libur Sekolah

Badan Gizi Nasional (BGN) disarankan untuk menghentikan pemberian paket makan bergizi gratis (MBG) selama libur sekolah, karena beberapa jenis makanan yang termasuk dalam paket tersebut dianggap tidak sehat bagi anak-anak. Beberapa makanan ultra-proses seperti roti tawar, susu kemasan, biskuit, dan wafer dinilai memiliki kadar gula tinggi dan kurang bergizi.

Beberapa orang tua siswa mengaku menerima paket MBG yang berisi roti tawar, susu kemasan, kacang polong, wafer, biskuit, telur rebus, dan buah. Para orang tua menilai makanan kering atau minuman kemasan yang diberikan itu mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Ahli gizi menyebut pangan olahan dalam paket MBG yang diberikan kepada anak-anak sekolah dalam masa libur panjang ini “tidak menyehatkan”.

Juru bicara BGN, Dian Fatwa, memahami kekhawatiran orang tua murid dan para pakar gizi terkait penggunaan pangan ultra-proses dalam paket MBG selama libur sekolah. Ke depan, klaimnya, ketergantungan pada produk kemasan akan ditekan dengan memperkuat penggunaan bahan pangan yang lebih padat gizi.

Contoh Isi Paket MBG yang Diterima Orang Tua

Menjelang libur sekolah akhir tahun 2025, Yuyun, seorang orang tua dari Jakarta Timur, mendapatkan sekantong paket MBG. Di dalamnya terdapat susu tawar kemasan satu liter, apel satu kilogram dengan jumlah tujuh buah, dan bolen pisang satu dus. Yuyun merasa kecewa dengan isi paket tersebut, karena menurutnya bolen pisang tidak bergizi dan cepat basi. Ia juga mengeluhkan bahwa makanan dalam paket tersebut sering kali dibuang karena tidak habis dimakan oleh anaknya.

Di Kota Bandung, Popi Desmaini Zulfida mendapatkan paket MBG yang berisi satu kaleng wafer, lima buah jeruk, 500 gram anggur, satu pak roti tawar, dan dua kotak susu coklat kemasan 125 mililiter. Popi mengaku puas dengan variasi paket MBG tersebut, karena aneka makanan itu cukup bergizi dan disukai anak-anaknya.

Di Cirebon, Fitria Lia, orang tua siswa taman kanak-kanak, menerima sekantong paket MBG berisi: susu kemasan, roti tawar, buah, telur rebus, dan biskuit. Meskipun dinilai aman dari kontaminasi yang menyebabkan keracunan, para orang tua tetap cemas dengan paket MBG kering tersebut, karena ada beberapa di antaranya adalah produk makanan ultra-proses.

Masalah dengan Menu MBG dan Kebijakan BGN

Ahli gizi, Tan Shot Yen, menyebut pangan olahan dalam paket MBG yang diberikan kepada anak-anak sekolah dalam masa libur panjang ini bisa dibilang tidak menyehatkan. Alasannya, sederhana: “Karena pada prinsipnya makanan sehat itu kuncinya adalah makanan yang semakin mendekati bentuk aslinya.”

Dalam pedoman BGN, menu MBG hanya menyebutkan “roti, telur, susu, dan buah yang tetap memenuhi kaidah gizi seimbang sesuai Angka Kecukupan Gizi menurut umur penerima manfaat”. Menurut dokter Tan, rujukan menu tersebut tidak jelas dan tidak sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia.

Selain itu, kecenderungan produk-produk kemasan ini dinilai tidak ada untungnya, karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada anak-anak, seperti meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga penurunan daya belajar.

Permintaan Orang Tua Siswa dan Jawaban BGN

Sejumlah orang tua siswa meminta agar program MBG dievaluasi. Yuyun mengatakan sebaiknya pengelolaan makan bergizi gratis diserahkan kepada sekolah supaya sesuai selera anak-anak dan kebutuhan gizinya tercukupi. Popi juga setuju, inginnya uangnya saja diberikan agar dimasak sama ibunya yang tahu kesukaan anak apa.

Juru bicara BGN, Dian Fatwa, mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran orang tua murid dan para pakar gizi terkait penggunaan pangan ultra-proses dalam paket MBG selama libur sekolah. BGN mengakui proporsi pangan ultra-proses dalam paket libur sekolah perlu dikurangi dan ditinjau kembali. Ke depan, ketergantungan pada produk kemasan akan ditekan, dengan memperkuat penggunaan bahan pangan yang lebih padat gizi.

Pengalaman Orang Tua Lainnya

Di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Anggita Ayu menerima paket MBG berisi: roti, susu, dan aneka jajanan. Ada roti tawar isinya banyak, abon, telur asin, buah apel-anggur-kelengkeng. Namun, ia merasa khawatir dengan kacang polong dan kacang koro yang rasanya asin banget. Selain itu, ada juga minuman kemasan yang mengandung kadar gula cukup tinggi.

Hasan, orang tua siswa sekolah dasar di Kecamatan Gatak, Sukoharjo, agak jengkel dengan paket MBG yang diterima anaknya. Makanan kering itu dirapel selama tiga hari. Isinya: susu UHT, telur rebus, roti, dan buah. Hasan menilai makanan kering yang kurang bergizi karena cuma roti, terus dikasih snack kering.

Aturan dan Distribusi MBG Selama Libur Sekolah

BGN membuat aturan khusus penyaluran makan bergizi gratis selama hari libur sekolah. Penyesuaian paket makan bergizi gratis selama hari libur tetap mempertimbangkan aspek pemenuhan gizi, higienis, keamanan pangan dan kepraktisan serta kerapihan dalam pengemasan makanan. Program MBG tetap memperhatikan kaidah menu gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan Angka Kecukupan Gizi harian seluruh penerima manfaat sesuai kelompok umurnya.

Sasaran program MBG selama liburan terdiri dari siswa dan santri seluruh jenjang pendidikan, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita yang dalam pedoman ini disebut sebagai kelompok 3B. Jenis paket MBG libur sekolah berupa kombinasi, terdiri dari satu paket MBG siap santap yang dimasak di SPPG dan dua paket MBG kemasan yang aman, praktis, dan relatif tahan lama maksimal untuk dua hari ke depan.

Dampak Negatif dari Makanan Ultra-Proses

Dokter Tan juga mengatakan dampak dari mengonsumsi makanan UPF dalam waktu panjang bisa membuat anak-anak terganggu kesehatannya. Mulai dari meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga penurunan daya belajar. Anak-anak bisa kena diabetes, obesitas, daya belajar menurun.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *