Rahma Hidayati Mengajak Generasi Z dengan Inovasi Jamu Seduh

Inovasi Jamu Seduh Sehat yang Menggabungkan Tradisi dan Modernitas

Di tengam derasnya arus gaya hidup modern, Rahma Hidayati memilih untuk mengambil jalur yang jarang diikuti oleh generasi seusianya, yaitu jamu. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan ini, justru melihat peluang besar dari satu kebiasaan lama yang nyaris ditinggalkan, minum jamu lalu membawanya ke ruang hidup anak muda masa kini.

Ide jamu seduh sehat yang ia kembangkan berangkat dari pengamatannya terhadap tren healthy lifestyle di kalangan Generasi Z. Dari riset kecil yang dilakukan bersama timnya, Rahma melihat semakin banyak remaja yang mulai memperhatikan apa yang mereka konsumsi. Di lingkungan kampus, jamu bukan lagi hal asing. Ia bahkan mengaku sering membeli jamu giling bersama teman-temannya. “Kami bilangnya biar merawat diri dari dalam,” ujarnya.

Namun, dari kebiasaan itu pula muncul kegelisahan. Rahma menyadari, jamu giling tradisional kerap meninggalkan endapan yang membuat peminumnya harus mengimbangi dengan banyak air putih. Kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang seperti risiko batu ginjal membuatnya berpikir lebih jauh. Dari situlah lahir gagasan jamu seduh sehat, jamu dalam kemasan kantung, menyerupai teh celup, yang praktis, aman, dan tetap menjaga khasiat alami rempah.

Produk ini dibuat dari rempah-rempah alami yang telah melalui proses pengeringan atau dehydrate menggunakan oven khusus milik Laboratorium Gizi Unimed. Proses tersebut memastikan kandungan tetap terjaga tanpa tambahan pengawet. “Kami ingin minuman yang sehat tapi tetap enak dan mudah dinikmati siapa saja,” kata Rahma.

Cara penyajiannya pun sederhana cukup mencelupkan satu kantung jamu ke dalam air panas sesuai takaran. Kepraktisan menjadi pembeda utama jamu seduh sehat dibanding jamu tradisional. Dengan proses pengeringan yang baik, produk ini dapat bertahan berbulan-bulan selama disimpan di tempat kering dan tidak terpapar sinar matahari langsung. Tak ada ampas yang ikut terminum, tak ada endapan yang dikhawatirkan. Aman, simpel, dan bisa dinikmati kapan saja.

Mewujudkan Ide dengan Tantangan

Lebih dari sekadar produk, Rahma membawa nilai besar di balik inovasinya keberlanjutan tradisi lewat modernisasi. Menurutnya, jamu adalah warisan budaya yang sederhana namun efektif. Hanya saja, cara penyajiannya yang rumit membuat banyak anak muda enggan mencoba. “Tradisi yang baik itu bukan untuk ditinggalkan, tapi dimodernisasi supaya tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” tuturnya.

Perjalanan mewujudkan jamu seduh sehat tentu tak mudah. Tantangan terberat justru datang dari proses produksi. Bersama tim yang sama-sama masih belajar, Rahma harus memastikan setiap tahap dilakukan dengan teliti mulai dari pemotongan rempah dengan ukuran seragam hingga proses pengeringan yang memakan waktu panjang. Satu kali pengeringan membutuhkan hingga 10 jam dan hanya menghasilkan dua sampai tiga kantung jamu. Melelahkan, namun sarat pelajaran.

Dalam tim, tak ada peran yang kaku. Semua terlibat sejak perencanaan, penyusunan proposal, produksi, hingga pemasaran. Kolaborasi lintas jurusan dari pendidikan bahasa, ekonomi, hingga gizi membuat proses berjalan dinamis dan menyenangkan. “Kami bekerja maksimal, tapi tetap asik,” ujar Rahma.

Kesuksesan di Kompetisi

Produk ini mengantarkan Rahma dan timnya lolos pendanaan Business Plan Competition (BPC) melalui skema Student Grant 2025. Meski tak mengetahui secara pasti indikator penilaian, Rahma meyakini keberhasilan mereka terletak pada kelayakan produk, realisme proses produksi, serta manfaat jangka panjang yang jelas. Bahkan, setelah kompetisi berakhir, ia berencana melanjutkan pemasaran karena respons pasar termasuk dari kalangan remaja terbilang positif.

Ke depan, Rahma berharap jamu seduh sehat bisa melangkah lebih jauh hingga tingkat nasional melalui kompetisi lanjutan seperti P2MW. Jika berhasil, produk ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan serta memperkuat kerja sama dengan petani lokal di wilayah Sidamanik dan Danau Toba untuk pasokan rempah segar dan terjangkau. Nilai tradisional tetap dijaga: rempah alami tanpa bahan tambahan, dengan takaran yang terukur dan proses sesuai standar.

Belajar Kepemimpinan dan Manajemen Waktu

Di balik semua pencapaiannya, Rahma menemukan pelajaran kepemimpinan yang berharga tentang kerja tim, manajemen waktu, dan keberanian mencoba. Dengan jadwal padat kuliah, organisasi, penelitian, dan kompetisi, ia mengandalkan to do list harian agar semua berjalan seimbang. Lelah tentu ada, namun baginya kesibukan justru menjadi ruang belajar. “Belajar itu menyenangkan, memberi manfaat itu membanggakan,” katanya.

Rahma percaya peran mahasiswa sangat besar dalam mendorong inovasi, khususnya di bidang kewirausahaan. Nilai akademik penting, namun tak cukup. Pengalaman, keterampilan, dan kepekaan terhadap lingkungan menjadi bekal utama menghadapi dunia kerja. Pesannya sederhana namun kuat, jangan menyesal karena tak pernah mencoba hal baru selama kuliah. “Cobalah dulu. Berhasil atau tidak, prosesnya akan membuat kita belajar jauh lebih banyak,” pungkasnya.




Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *