Opini  

#BERHENTIDIKAMU: Allah Mengajarkan Kita Melepaskan dan Menerima yang Lebih Baik



Makassar, 31 Desember 2025

Saya tidak mengenal dr. Gia Pratama, penulis novel atau mungkin bisa disebut juga memoar berjudul #BERHENTIDIKAMU yang baru saja saya tutup. Maksudnya, saya tidak mengikuti dr. Gia di media sosial manapun. Namun, satu hal yang pasti: saya cukup terkesan dengan cerita beliau yang satu ini. Dibandingkan dengan novel-novel lain yang biasanya saya baca dalam waktu kurang lebih 4–7 hari, buku #BERHENTIDIKAMU ini dapat saya selesaikan hanya dalam tiga hari, itupun di sela-sela aktivitas mengajar saya di pondok tahfidz yang ada di Makassar.

Bulan itu adalah akhir November. Saat menulis ulasan ini, saya baru saja menyelesaikan buku tersebut. Buku itu bukanlah milik saya, melainkan milik teman seasrama saya bernama Kak Rifki Haekhal (calon dokter juga) sama seperti dr. Gia, si penulis buku ini. Awalnya, tentu saja, saya tidak berekspektasi terlalu tinggi terhadap buku ini. Bahkan sebelumnya, saya tidak menyangka bahwa buku tersebut merupakan kisah hidup dr. Gia yang difiksikan dan dijadikan sumber inspirasi, baik bagi para dokter, calon dokter, maupun pembaca non-dokter di luar sana (termasuk saya) dalam melihat satu sisi kehidupan.

Buku #BERHENTIDIKAMU merupakan terbitan Mizania, salah satu lini penerbitan di bawah PT Mizan Pustaka, yang pertama kali terbit pada tahun 2018. Namun, edisi yang saya baca adalah cetakan kelima yang dicetak pada tahun 2020. Saya sendiri baru membacanya lima tahun kemudian, padahal buku tersebut dibeli Kak Rifki pada tahun 2024. Spekulasi itu saya dasarkan pada coretan tangannya terhadap titimangsa pembelian yang terdapat di dalam buku. Artinya, saya membaca buku dr. Gia ini sekitar tujuh tahun setelah pertama kali diterbitkan. Waw, cukup lama juga.

Secara terperinci, buku ini menjelaskan perjalanan hidup Gia, terutama pada perjalanan asmaranya sebagai seorang dokter UGD yang sehari-hari berkutat dengan pertolongan pertama bagi banyak orang. Saya menerka-nerka bahwa Kak Rifki membeli buku ini karena ia juga seorang calon dokter—mirip dengan dr. Gia. Aamiin. Semoga Allah Swt. melancarkan segala urusannya.

Buku ini dimulai dari pertemuan Gia dengan sosok perempuan asing di dalam pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umroh bersama keluarga. Keluarga Gia terdiri atas ayah (seorang pilot), ibu, Gia—seseorang yang bercita-cita menjadi astronot tetapi ditakdirkan menjadi seorang dokter—serta adiknya yang bernama Gianne.

Namun, sebelum bercerita lebih jauh, saya ingin menyampaikan alasan mengapa buku setebal kurang lebih 280 halaman ini dapat saya baca dalam waktu singkat. Kemungkinan besar—selain karena ceritanya cukup inspiratif dan sedikit banyak membantu saya improve my English vocabularies—gaya penceritaannya terasa ringan dan sederhana. Istilah-istilah yang digunakan pun tidak terlalu rumit, kecuali nama-nama tempat, bangunan di Eropa, atau lirik lagu berbahasa Inggris penuh yang terkadang membuat saya hanya bisa menerka-neraka maknanya: seperti ini atau seperti itulah kira-kira.

Sejujurnya, membaca tulisan dr. Gia ini membawa ingatan saya pada trilogi Dilan karya Pidi Baiq yang saya baca bertahun-tahun lalu. Meski demikian, terdapat perbedaan mencolok antara gaya penyampaian dr. Gia dan Pidi Baiq. Dr. Gia, meskipun subjektif dan sedikit meromantisasi, ia menghadirkan humor dalam intensitas yang cukup minim. Ia lebih banyak explain-telling daripada showing. Berbeda dengan Pidi Baiq yang subjektivitasnya nyaris berlebihan, gaya gaulnya kental, romantismenya melayang-layang, dan humornya—tak perlu ditanyakan lagi. Namun, satu kesamaan yang pasti dari keduanya adalah kesederhanaan dalam bercerita dan kedekatan kisahnya dengan kehidupan pembaca, sehingga alurnya terasa mengalir saat dibaca.

Selanjutnya, buku ini berkisah tentang Gia yang melaksanakan ibadah umroh dengan harapan ingin menikah. Ia berharap, melalui umroh keduanya, Allah Swt. mempertemukannya dengan jodoh. Oleh sebab itu, pertemuannya dengan sosok perempuan asing yang kemudian dikenal bernama Elsa membuat Gia berpikir bahwa inilah jawaban dari doa-doanya.

Pertemuan Gia dengan Elsa di Tanah Suci perlahan menumbuhkan keyakinan dalam diri Gia bahwa Elsa-lah yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Hubungan pun terjalin. Kedua keluarga saling mengenal, bahkan kerap menghabiskan waktu makan malam bersama. Jika ditilik lebih jauh, kehidupan Elsa tergolong sangat mapan, bahkan melebihi kondisi ekonomi Gia sendiri. Pada awalnya, Gia mengira semua ini adalah cinta. Namun, perlahan ia menyadari bahwa yang ia lakukan bukan semata mencintai, melainkan terlalu bernafsu untuk terlihat layak, baik, dan pantas dibanggakan di mata Elsa. Ia melakukan banyak hal, sering kali dengan mengabaikan dirinya sendiri.

Di awal hubungan, kehangatan begitu terasa. Gia dan Elsa dekat. Namun, seiring waktu, hubungan itu perlahan mendingin. Hingga akhirnya, kisah mereka benar-benar pupus saat Gia dan Elsa berlibur ke Eropa. Liburan yang dipersiapkan Gia dengan sungguh-sungguh, bahkan diniatkan sebagai momen melamar sang kekasih di dekat Menara Eiffel, justru berakhir dengan putusnya hubungan mereka di Gunung Titlis. Sebuah ironi yang pahit. Di sanalah Gia merasakan kesedihan yang campur aduk: momen yang disiapkan untuk melamar, justru berubah menjadi peristiwa perpisahan. Sehingga ia memilih menenangkan diri di Amsterdam sebelum pulang ke Indonesia.

Sebagaimana judul tulisan ini, saya menangkap bahwa buku #BERHENTIDIKAMU menjadi semacam prasasti yang sengaja dihadirkan dr. Gia untuk menegaskan satu hal, bahwa, apa pun yang telah kita usahakan dengan segenap tenaga, jika memang bukan milik kita, tidak akan pernah menjadi milik kita. Dan melepaskan seseorang yang begitu dicintai bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari pemahaman bahwa di luar sana terdapat hal-hal yang jauh lebih baik dan lebih indah dari apa yang sempat kita genggam.

Sebagai pembaca, saya turut terbawa pada rasa syukur ketika dr. Gia memilih merelakan Elsa. Sebab, di balik perpisahan itu, Allah ternyata menyimpan hikmah yang hendak diberikan dengan cara-Nya sendiri. Putusnya hubungan Gia dan Elsa di Eropa justru menjadi awal pertemuan Gia dengan sosok yang telah dipilihkan Allah untuknya, yaitu Rima.

Kehadiran sosok Rima menyadarkan dr. Gia—dan mungkin juga kita sebagai pembaca buku ini—bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini sejatinya adalah ujian dari Allah. Ketika kita ikhlas melepaskan apa yang bukan milik kita, sesungguhnya kitalah orang yang paling beruntung. Sebab Allah Maha Mengetahui, cinta yang datang dari-Nya tidak akan membuat kita menuntut atau berpura-pura. Seperti cinta dr. Gia kepada Rima, istrinya kini, yaitu: cinta yang penuh kasih sayang, kesederhanaan, dan penerimaan tanpa harus menjadi orang lain agar merasa layak dimiliki.

Akhir kata, tulisan ini saya akhiri dengan kesadaran bahwa apa yang saya sampaikan di sini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak hikmah yang dapat dipetik dari buku #BERHENTIDIKAMU. Tulisan ini hanya mengulik satu sisi perjalanan dr. Gia. Bagi teman-teman yang penasaran dengan kisah utuhnya, mulai dari pertemuan Gia dan Elsa, dinamika keluarga, perjalanan di Eropa, hingga pertemuan Gia dengan Rima, teman-teman dapat membeli langsung buku #BERHENTIDIKAMU yang tersedia di toko buku terdekat. Bye-bye, salam literasi.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *