Agus Saputra, Guru SMK Jambi yang Dikeroyok Siswa, Siap Dipindahkan

Kasus Pengeroyokan Guru SMK di Jambi: Peristiwa yang Memicu Kontroversi

Sebuah insiden pengeroyokan terhadap seorang guru SMK di Jambi menjadi perhatian publik dalam beberapa hari terakhir. Insiden ini melibatkan Agus Saputra, seorang guru Bahasa Inggris di SMK 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Kejadian ini memicu berbagai reaksi dari siswa, orang tua, dan pihak sekolah.

Agus Saputra dikenal sebagai guru yang memiliki kepribadian yang baik dan ramah di lingkungan sekolah. Namun, kejadian yang terjadi membuat banyak orang bertanya-tanya tentang bagaimana situasi di sekolah tersebut. Menurut informasi yang diperoleh, Agus sering kali memberikan pembinaan kepada siswanya, termasuk menegur mereka jika dianggap tidak sopan atau tidak menghormati.

Penyebab Terjadinya Pengeroyokan

Menurut pengakuan Agus, pengeroyokan terjadi karena ia merasa tidak nyaman dengan cara seorang siswa menegurnya secara tidak hormat saat sedang belajar. Ia mencoba menegaskan kembali sikapnya, namun hal itu justru memicu reaksi yang tidak terduga.

“Saya tidak bermaksud menganiaya siswa, hanya membela diri,” ujar Agus. Ia menjelaskan bahwa penamparan yang dilakukannya adalah bentuk pembinaan spontan. Namun, kejadian ini justru memicu respons emosional dari siswa tersebut dan sejumlah temannya.

Pada jam istirahat, Agus kembali ditantang oleh siswa tersebut. Kejadian ini berlangsung hingga pukul 13.00 sampai 16.00. Saat mediasi berlangsung, Agus mencoba untuk tetap tenang dan menanyakan apa yang ingin siswa tersebut capai. Para siswa meminta Agus meminta maaf atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Dalam upaya mencari solusi, Agus menawarkan alternatif seperti membuat petisi jika mereka benar-benar tidak ingin dia mengajar lagi di sekolah tersebut.

Tindakan Mediasi dan Penyelesaian Masalah

Setelah insiden pengeroyokan terjadi, Agus melapor ke polisi. Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Candra, menyatakan bahwa mediasi antara guru dan siswa telah dilakukan. Mediasi ini dihadiri oleh seluruh elemen sekolah, Dinas Pendidikan, aparat penegak hukum, camat, dan orang tua.

Hasil mediasi adalah adanya sanksi berupa surat pernyataan dari para pelaku pengeroyokan. Mereka mengaku menyesal atas perbuatannya dan siap membuat surat pernyataan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Meskipun sudah ada kesepakatan, Agus akhirnya resmi melapor ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026) sore. Ia didampingi oleh kakaknya, Nasir, dan melakukan pembuatan laporan polisi selama hampir empat jam. Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan secara mental setelah kasus ini viral di media sosial.

Reaksi dari Pihak Sekolah dan Gubernur Jambi

Agus juga mengaku siap dipindahkan jika memang keberadaannya tidak diinginkan oleh siswa. Ia mengatakan bahwa anak didiknya masih membutuhkan bimbingan psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa ia masih peduli terhadap kesejahteraan siswanya.

Gubernur Jambi, Al Haris, turut menanggapi kasus ini. Ia menegaskan bahwa jika guru terbukti bersalah, maka akan diberikan sanksi. Namun, siswa juga tidak boleh melakukan kekerasan. “Masalah ini harus diselesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya.

Al Haris telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk menggelar rapat mediasi dengan melibatkan orang tua, guru, camat, dan kepolisian. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan situasi dapat kembali stabil dan aktivitas belajar mengajar dapat berjalan normal seperti biasanya.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *