Belajar adalah sumber kehidupan yang tak pernah sia-sia

Perjalanan Menuju Profesi yang Sesuai

Saya ingat, beberapa tahun lalu ketika seorang sahabat mengatakan, “Jadi dosen aja seperti aku.” Saya tersenyum dan menghargai saran itu. Itu adalah satu bentuk penghargaan bagi saya. Namun, saran tersebut tidak bisa saya penuhi. Jalan untuk menjadi dosen di Jerman terasa sangat panjang.

Untuk menjadi guru, yang tugasnya mengajar ilmu pengetahuan di depan kelas, seseorang harus melewati proses kuliah atau memiliki ijazah pendidikan yang setara dan diakui di sini. Kami, tiga perempuan asal Indonesia yang masing-masing memiliki anak tunggal dengan usia yang sebaya. Saat itu salah seorang dari kami, sebut saja A, yang tinggal di Indonesia mengunjungi kami di Jerman.

Kami bertiga menghabiskan waktu selama beberapa hari, menginap di rumah B yang tinggal di Jerman, tetapi beda negara bagian dengan saya. Waktu berjalan sangat cepat. Anak yang dulu kami dampingi ke mana-mana, kini menjelma menjadi remaja yang siap melangkah ke dunia dewasa. Selama bertahun-tahun, kami bertiga menjalankan peran sebagai ibu secara penuh, mendampingi proses tumbuh kembang anak sambil mengikuti suami yang berkewajiban berpindah tugas ke luar kota dan luar negeri.

Seiring bertambahnya usia anak, rutinitas pengasuhan kami juga bertransformasi. Kebutuhan untuk mendampingi secara intensif makin berkurang. Sekarang kami lebih banyak mendampingi dari jauh, mengamati dan mendukung proses anak menuju kemandirian.

Pengalaman Mengajar dan Pekerjaan

“Ternyata, ilmu yang aku pelajari 20 tahun lalu di bangku kuliah, menjadi modalku mengajar,” ujar A waktu itu. Dia memutuskan untuk mengajar di salah satu universitas swasta di Jakarta. B dan saya masih dalam proses pencarian pekerjaan yang tepat. Kami bertiga seakan sepakat tanpa perlu berdiskusi, untuk mencari pekerjaan yang selaras passion dan latar pendidikan, tanpa memaksa diri demi penghasilan. Tentu saja ada imbalan dari bekerja, tetapi bukan itu prioritas utama.

Pengaruh Ayah dalam Masa Kecil

Ayah saya adalah orang terpenting dan pertama yang mengenalkan kami, anak-anaknya, dengan dunia komputer. Beliau juga yang membuktikan “belajar sampai akhir hayat”. Rasa ingin tahunya besar dan waktunya dimanfaatkan untuk belajar, terus-menerus. Ayah gemar membaca dan belajar. Dunia komputer adalah salah satu yang dia gemari. Lemari buku di rumah kami penuh dengan buku-buku komputer.

Saya boleh bangga akan hal ini. Di sekitar tempat tinggal kami, ketika itu, hanya kami yang memiliki seperangkat komputer (bentuknya tebal seperti tv jadul), lengkap dengan meja dan printer dot matrix. Saat ada tugas menulis makalah dari sekolah, kami sudah bisa bangga mengumpulkan tugas yang rapi dari hasil cetakan komputer, bukan lagi mesin tik manual atau listrik.

Belajar Komputer dan Manfaatnya

Dulu, Ayah pasti kesal melihat kami yang ogah-ogahan saat disuruh belajar menggunakan komputer. Namun, beliau seperti pura-pura tidak tahu. “Mau jadi apa kau nanti!” Begitu kira-kira ucapannya. Pemaksaan belajar itu memang ada. Setiap akhir minggu, ada waktunya giliran salah satu dari kami untuk duduk di depan komputer. Kami tidak bisa menolak. Instruksi ayah harus diikuti. Cara ampuh untuk mengelak, pura-pura punya acara dengan teman di luar rumah.

Ternyata, dengan menguasai beberapa aplikasi perkantoran yang dipelajari dari alm. Ayah, saya bisa menyesuaikan diri dengan mudah saat mengawali kerja di Jakarta. Dari pengetahuan dasar ini, saya selanjutnya belajar sendiri. Tidak ada target yang ingin dikejar kecuali meningkatkan kemampuan diri.

Keterlibatan dengan Anak

Kecakapan menggunakan beberapa aplikasi komputer juga berguna kemudian, saat menjelaskan dan membantu tugas-tugas sekolah putri saya. Saya tidak ingin mengatakan pada anak, bahwa saya tidak mengerti tugas yang diberikan guru di sekolahnya, atau mengatakan: “Tunggu papa pulang kerja!”

Bisa dikatakan, saya lebih banyak terlibat langsung dengan tugas-tugas yang dihadapi anak, saat dia sangat butuh pendampingan.

Belajar Tidak Pernah Sia-Sia

Long story short. B dan saya mendapat pekerjaan yang menyenangkan. Dia memilih pekerjaan yang selaras dengan hobinya dan diperkuat dengan pendidikan nonformal, dibandingkan latar pendidikan formalnya. Setelah bertahun-tahun berhenti bekerja di perusahaan orang, akhirnya saya kembali menyibukkan diri bekerja di luar rumah.

Suami saya mendukung apa pun keputusan saya. Bagi dia, kebahagiaan saya adalah prioritas. Berinteraksi dengan rekan kerja memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan berinteraksi dengan teman-teman.

Pekerjaan di Bidang IT

Seperti B, pekerjaan saya lebih pada kemampuan saya dari pendidikan nonformal, ditambah latar pendidikan formal. Saya tidak pernah menyangka akan menggeluti bidang IT. Kemampuan yang saya dapatkan dari gemblengan Ayah. Alm. Ayah pasti tersenyum bahagia dari tempatnya yang jauh di sana.

Saya bersyukur menerima beberapa tawaran. Setelah beberapa pertimbangan, saya memilih bergabung dengan perusahaan ICT yang mengembangkan solusi energi berkelanjutan.

Kesimpulan dan Pesan

Sebelum memulai kerja, saya merasakan gugup. Namun, kekhawatiran itu menghilang setelah bertemu langsung dengan kedua pimpinan dan tim yang akan saya masuki. Saya sangat bahagia. Apalagi teman-teman turu merayakan dan memberi dukungan. Beberapa bahkan berkata: “Ketika kita kembali bekerja, dunia yang hilang kembali kita dapatkan.”

Di tempat kerja, saya terus belajar hal baru dan berusaha memahami bagaimana profesionalisme perusahaan tercermin dalam budaya kerja, penilaian kinerja tahunan, serta dukungan bagi karyawan yang ingin berkembang.

Bagi saya, momen yang berharga adalah ketika kita berani mencoba dan terus belajar, karena di situlah sumber energi dan kebahagiaan ditemukan.

Untuk teman-teman, jangan berhenti berusaha dan teruslah belajar!

Salam hangat dari Jerman

Hennie Triana Oberst

Germany, 16.01.2026

Keterangan Tambahan

Di Jerman, pendidik dari SD sampai SMA umumnya lulus kuliah (Studium) dari program studi pendidikan di universitas. Berbeda dengan tenaga pendidik di taman kanak-kanak (Kindergarten), Betreuung atau pendamping dan layanan penitipan di sekolah dasar, yang memulai karier lewat Ausbildung, yaitu jalur pendidikan sambil bekerja. Studium dan Ausbildung itu berbeda. (Saya akan menuliskan dalam artikel lain.)

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *