Daerah  

Pedagang Nasi Tak Pernah Berhenti Meski Banjir Melanda Losari Cirebon

Banjir Tiba-Tiba Menggenangi Rumah dan Warung di Cirebon

Air cokelat setinggi betis menggenangi lantai rumah Istina. Kasur tenggelam, perabot basah, dan jalanan di depan warung berubah seperti sungai kecil. Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, Istina (43) tetap berdiri di balik meja dagangannya, melayani pembeli sarapan.

Istina, yang akrab disapa dengan nama panggilan tersebut, tidak menyangka bahwa pagi buta hari Kamis (12/2/2026) akan menjadi salah satu hari paling berat dalam hidupnya sebagai pedagang nasi di Blok Pon RT 17 RW 06, Desa Barisan, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Ia mengatakan banjir datang tanpa hujan deras. Air tiba-tiba mengalir cepat dan terus meninggi.

“Enggak deras, ini langsung air kiriman. Air kiriman dari Sungai Cisanggarung,” ujar Istina saat ditemui di rumahnya. Menurutnya, air naik begitu cepat hingga warga tak sempat bersiap.

“Ia mengaku, air naik begitu cepat hingga warga tak sempat bersiap. ‘Tahu-tahu enggak ada sejam, langsung kayak gini airnya,’ jelas dia. Di dalam rumah, genangan mencapai betis orang dewasa. Sementara di jalanan lebih tinggi lagi. ‘Sebetis orang dewasa di dalam itu. Kalau di jalanan mah sampai sedengkul. Enggak nyampe semeter, paling setengah meter,’ katanya.

Yang paling membuatnya terpukul, kasur di rumahnya terendam seluruhnya. “Tapi yang parah di dalam rumah, kasurnya sampai tenggelam semua,” ujarnya. Ia tak sempat menyelamatkan barang-barang karena air datang begitu cepat. “Enggak sempat diangkat. Mau angkat gimana Mas, kan mentok. Airnya cepat, tiba-tiba sudah segini aja jam 5-an,” ucap Istina.

Padahal sejak pukul 02.00 WIB, ia sudah bangun untuk memasak dagangan seperti biasa. “Dari jam 2 kan saya sudah bangun siap-siap begini, jadi jam 4 itu sudah selesai,” jelas dia. Saat hendak membungkus nasi untuk dijual, air justru datang. “Lagi mau bungkus-bungkusin nasi, tahu-tahu ada kiriman air kayak gini. Jadinya ya enggak bisa ditunda, Mas, sudah keburu matang,” katanya.

Daripada merugi total, ia memilih tetap berjualan meski rumah dan warungnya tergenang. “Daripada rugi banget, ya tetap dijualin. Alhamdulillah sih ada saja yang beli,” ujarnya. Istina sehari-hari menjual nasi putih, nasi kuning, lontong, hingga bubur untuk menu sarapan warga. “Nasi putih, nasi kuning, lontong, bubur. Buat sarapan lah,” ucap Istina.

Biasanya, omzetnya bisa mencapai Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu per hari. Namun akibat banjir, pendapatannya menurun. “Biasanya Rp 600-700 ribu per hari, sekarang baru dapat Rp 500 ribu,” jelas dia. Ia menyebut banjir kali ini merupakan yang paling parah selama ia tinggal di lokasi tersebut. “Enggak, ini paling parah, Mas. Biasanya banjir hujan itu semata kaki. Ini yang parah nih, soalnya kiriman. Biasanya enggak kayak gini,” katanya.

Pantauan Tribun di lokasi, air cokelat keruh tampak menggenangi rumah-rumah warga. Di dalam salah satu rumah, televisi tabung diletakkan di atas meja kayu, kipas angin dan lemari plastik dipindahkan ke tempat lebih tinggi untuk menghindari air. Kursi kayu dan perabot lain terendam hingga bagian bawahnya. Di depan warung bercat biru muda milik Istina, air masih menggenang cukup tinggi.

Meski bagian bawah warung terendam, aktivitas jual beli tetap berlangsung. Ia terlihat mengenakan celemek hijau, berdiri di balik meja dengan panci besar, wadah nasi, piring, dan gelas tersusun rapi di atasnya. Suara warga terdengar riuh di sekitar lokasi, sebagian mengecek kondisi rumah, sebagian lagi tetap membeli sarapan seperti biasa.

Sebelumnya, Banjir Datang Saat Warga Terlelap

Seperti diketahui, banjir datang saat sebagian warga masih terlelap. Tanpa hujan dan tanpa tanda mendung, air tiba-tiba masuk ke rumah-rumah warga Blok Pon RT 17 RW 06 sekitar pukul 04.00 WIB. Dalam waktu singkat, ketinggian air di jalanan bahkan mencapai paha orang dewasa.

Andi (48), warga setempat, mengatakan air mulai masuk ke rumahnya sejak pukul 04.00 WIB. “Air mulai masuk ke rumah itu dari jam 4 pagi tadi,” ujar Andi. Ia menegaskan cuaca saat itu justru cerah. “Kondisi di sini terang dari sore, enggak hujan. Ini air kiriman,” ucapnya. Menurut Andi, air diduga berasal dari luapan Sungai Cisanggarung. “Dari kiriman Sanggarung,” katanya.

Di dalam rumahnya, genangan mencapai sekitar 20 sentimeter, sementara di luar rumah jauh lebih tinggi. “Kalau di luar rumah sampai 1 meter itu,” ujarnya. Akibat banjir tersebut, aktivitas warga lumpuh. Anak-anak tidak berangkat sekolah, dan sebagian warga tak bisa bekerja. “Anak-anak sekolah akhirnya enggak pada berangkat. Saya kerja sopir, jadi enggak bisa keluar karena banjir ini,” kata Andi.

Warga berharap ada penanganan serius terkait luapan Sungai Cisanggarung agar banjir kiriman tidak kembali datang tiba-tiba saat dini hari.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *