Tamparan Keras Sejarawan Prof Anhar Gonggong pada Dwi Sasetyaningtyas, Orang Pintar yang Bodoh

Kritik terhadap Dwi Sasetyaningtyas: Pintar tapi Bodoh

Sejarawan senior Anhar Gonggong menilai sikap Dwi Sasetyaningtyas sebagai bentuk penghinaan simbolik terhadap Republik Indonesia. Pernyataannya yang menyatakan bahwa anaknya tidak perlu menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dianggap mencerminkan anggapan bahwa Indonesia tidak memiliki masa depan. Anhar menyoroti ironi bahwa posisi elit yang diraih oleh Tyas justru berasal dari dana negara, namun negaranya justru diremehkan.

Kasus ini menjadi refleksi keras bahwa kecerdasan tanpa loyalitas bangsa adalah kegagalan karakter intelektual. Sejarawan senior itu akhirnya meluapkan kemarahan yang lama tertahan. Polemik yang menyeret nama Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dinilainya bukan sekadar kegaduhan media sosial.

Di mata Anhar, aksi memamerkan paspor Inggris anak dan pernyataan bahwa anak-anaknya tak perlu menjadi WNI adalah bentuk penghinaan terhadap Republik. Dari sinilah kritik telak itu meluncur, Tyas adalah potret nyata “orang pintar yang bodoh”.

Penghinaan Negara yang Tak Terucap

Bagi Anhar Gonggong, persoalan ini jauh melampaui preferensi kewarganegaraan. Pernyataan “cukup saya saja WNI, anak-anak jangan” dibaca sebagai simbol ketidakpercayaan terhadap masa depan bangsa sendiri. Ia menilai sikap tersebut menyiratkan anggapan bahwa Indonesia adalah negeri tanpa harapan, kalah segalanya dibanding Inggris. Kekecewaan itu ia ungkapkan secara terbuka dalam video di kanal YouTube pribadinya.

“Tapi yang betul-betul saya tersinggung sebagai warga negara, semacam penghinaan seakan-akan negara ini tidak punya apa-apa dibanding dengan Inggris. Karena negara ini, negara yang tidak memberikan masa depan, biar saya sendiri saja yang warga negara.” ujar Anhar, dikutip dari Tribun Jakarta.

Logika Terbalik Kaum Terpelajar

Yang membuat kritik Anhar semakin tajam adalah ironi di balik status Tyas. Posisi akademik dan akses global yang kini dinikmati justru lahir dari pembiayaan negara, dari uang pajak rakyat Indonesia. Di titik inilah Anhar menyebut telah terjadi pembalikan nalar yang fatal.

“Padahal, dia mendapatkan posisi dengan itu dengan biaya dari Republik Indonesia. Jadi terbalik pikirannya gitu sebagai dia orang pintar tapi yang bodoh. Orang pintar yang bodoh,” katanya seperti dikutip dari YouTubenya yang tayang pada Rabu (25/2/2026).

Kontradiksi Logika Alumni “Pintar tapi Bodoh”

Istilah “pintar tapi bodoh” bukan sekadar umpatan emosional. Ia mencerminkan kritik karakter. Kepintaran akademik yang tinggi ternyata tidak otomatis melahirkan kesadaran kebangsaan. Gelar luar negeri, dalam kacamata Anhar, menjadi hampa ketika tidak disertai rasa tanggung jawab moral terhadap negeri yang membiayainya.

Anhar menilai perilaku tersebut menunjukkan kegagalan memahami makna menjadi warga negara. “Dia tidak sadar bahwa memperoleh kesempatan tinggal di Inggris sekarang itu karena Republik Indonesia yang memberikan biaya pada dia. Artinya apa? saya meminta pemerintah pecat aja dia sebagai warga negara. Orang seperti ini kita tidak butuhkan.”

Mengapa “Pecat WNI” Menjadi Pilihan Terakhir?

Usulan pemecatan kewarganegaraan bukan sekadar luapan emosi. Dalam perspektif Anhar Gonggong, ini adalah sikap etik, bahkan bentuk social cleansing simbolik. Indonesia, tegasnya, tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan orang pintar yang memiliki hati dan loyalitas pada bangsanya.

“Orang yang sok pintar, yang bahkan pintarnya tapi bodoh sebagai warga negara republik indonesia lebih baik dipecat aja lah. Memalukan malah. Betul, dalam arti kata mempermalukan kepada negara bangsa Indonesia seakan bangsa Indonesia ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan Inggris,” jelasnya.

Ia bahkan menegaskan bahwa kepintaran tanpa keberpihakan justru menjadi beban moral bagi bangsa. Refleksi untuk Awardee LPDP Lain

Kritik ini tidak berhenti pada satu nama. Anhar Gonggong mengirim pesan keras kepada seluruh penerima beasiswa negara: setiap awardee membawa beban sejarah dan harapan jutaan rakyat di pundaknya. Beasiswa bukan tiket untuk meninggalkan jati diri, melainkan amanah untuk kembali dan berbuat.

“Saya meminta sebagai warga negara yang mencintai republik ini, minta agar supaya orang ini dipecat saja sebagai warga negara. Artinya, kewarganegaraannya sekalian dibuang aja dua-duanya suami istri. Kami tidak butuh orang ini kok sepintar apapun kami tidak butuh. Kami butuh orang-orang pintar yang pintar dan mau berbuat baik bagi bangsa dan negara apalagi kalau dia, mendapatkan posisinya itu dengan biaya negara Republik Indonesia,” tegas Anhar.

Kasus Dwi Sasetyaningtyas menjadi pelajaran pahit bagi dunia pendidikan dan kaum intelektual. Pendidikan tinggi (bahkan dari luar negeri) seharusnya memperluas wawasan dan empati kebangsaan, bukan mempersempit rasa cinta tanah air. Dalam pandangan Anhar Gonggong, kepintaran tanpa loyalitas hanyalah kesia-siaan intelektual yang berujung pada rasa malu kolektif bangsa.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *