Serangan Besar AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Serangan ini menargetkan berbagai fasilitas militer dan kompleks strategis di Teheran, termasuk tempat tinggal Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut, yang ia sebut sebagai langkah penting untuk menghancurkan ancaman yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Serangan ini diumumkan sebagai bagian dari upaya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Trump menegaskan bahwa negara itu “tidak boleh memiliki senjata nuklir” dan menuduh Iran kembali membangun kapasitas nuklir setelah sebelumnya dianggap telah “menghancurkannya”. Namun, laporan dari badan pengawas nuklir dunia, International Atomic Energy Agency, serta intelijen AS menunjukkan bahwa Iran telah menghentikan program senjata nuklirnya sejak 2003. Iran sendiri membantah memiliki ambisi nuklir dan menyatakan pengayaan uranium dilakukan untuk tujuan sipil sesuai haknya sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.
Selain itu, Trump juga menyoroti perkembangan program rudal Iran yang dinilai semakin mengancam. Ia menyebut Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang bisa menjangkau Eropa hingga wilayah Amerika Serikat. Meski tidak memberikan bukti rinci, media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan adanya pengembangan rudal dengan jangkauan antarbenua.
Tujuan Operasi Militer
Menurut Trump, serangan ini bertujuan melindungi warga AS dan sekutunya dengan menghilangkan ancaman langsung dari Iran dan kelompok proksinya. Ia merujuk pada sejumlah insiden historis, termasuk krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979, serangan terhadap barak Marinir AS di Beirut pada 1983 yang menewaskan 241 personel militer, serta berbagai serangan terhadap pasukan dan kepentingan AS di Timur Tengah. Trump juga menyebut dukungan Iran terhadap kelompok militan seperti Hamas, yang terlibat dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Dalam pidatonya, Trump juga menuding pemerintah Iran telah membunuh puluhan ribu demonstran dalam beberapa bulan terakhir. Angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, namun kelompok pemantau HAM berbasis di AS melaporkan lebih dari 7.000 kematian terverifikasi, dengan ribuan kasus lain masih ditinjau. Di sisi lain, pemerintah Iran menyebut angka korban jauh lebih rendah.
Mendorong Perubahan Rezim
Trump secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahnya. Ia menyampaikan pesan bahwa “waktu kebebasan Anda telah tiba,” dan menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan tercapai. Pernyataan ini menegaskan bahwa selain tujuan militer, serangan ini juga memiliki dimensi politik berupa dorongan perubahan rezim di Iran.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei menimbulkan gelombang gejolak politik di Iran, karena perannya sangat sentral dalam kebijakan dan pengaruh regional negara itu. Sebagai respons, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari hari libur nasional.
Kondisi Pasca-Serangan
Beberapa gambar satelit dari Airbus Defence and Space menunjukkan bangunan utama di kompleks Beit-e Rahbari dalam kondisi hancur total usai serangan. Kompleks ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.
Serangan ini memicu kekhawatiran internasional akan eskalasi konflik dan potensi menyebarnya ketegangan ke seluruh kawasan Timur Tengah. Langkah ini menjadi salah satu perjudian kebijakan luar negeri terbesar dalam masa kepemimpinan Trump, yang sebelumnya berkampanye sebagai “presiden perdamaian” dan mengaku lebih memilih jalur diplomasi dalam menghadapi Iran.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











