Apa Perbedaan Presiden Iran dan Pemimpin Tertingginya? Ini Jawabannya

Peran Pemimpin Tertinggi dan Presiden dalam Sistem Politik Iran

Iran adalah negara yang terletak di kawasan Timur Tengah dengan sistem pemerintahan unik yang menggabungkan elemen teokrasi Islam modern dengan demokrasi. Dalam sistem ini, peran pemimpin tertinggi tidak dipegang oleh presiden, melainkan oleh Pemimpin Tertinggi atau Pemimpin Agung. Hal ini berbeda dengan sistem politik di negara lain, di mana presiden biasanya menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan.

Pada tahun 2026, terjadi peristiwa besar ketika Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dilaporkan tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Khamenei meninggal pada usia 86 tahun setelah menjabat hampir 37 tahun sebagai Pemimpin Tertinggi. Kematian ini memberikan guncangan besar bagi politik Republik Islam Iran.

Presiden Iran: Pejabat Negara Tertinggi Kedua

Menurut konstitusi Republik Islam Iran, Presiden Iran merupakan pejabat negara tertinggi kedua yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Sebagai kepala eksekutif, Presiden memiliki masa jabatan selama empat tahun dan dapat diperpanjang sebanyak satu kali. Presiden bertanggung jawab atas pelaksanaan konstitusi serta menjalankan kekuasaan eksekutif, kecuali untuk hal-hal yang berkaitan langsung dengan Pemimpin Tertinggi.

Presiden Iran juga memiliki tanggung jawab langsung atas urusan administrasi, pelayanan sipil negara, dan rencana anggaran negara. Selain itu, Presiden memiliki wewenang untuk mengangkat menteri, duta besar, dan gubernur dengan persetujuan dari parlemen.

Untuk menjadi calon Presiden Iran, seseorang harus memenuhi beberapa kualifikasi, seperti berasal dari kalangan tokoh agama dan politik terkemuka, memiliki kependudukan di Iran, memiliki rekam jejak reputasi yang baik, kemampuan administrasi yang mumpuni, serta taat pada prinsip-prinsip pokok Republik Islam dan agama resmi negara. Calon presiden juga harus mendapatkan persetujuan dari 12 Dewan Wali, dengan enam di antaranya ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi.

Pemimpin Tertinggi Iran: Kepala Pemerintahan dan Agama Tertinggi

Pemimpin Tertinggi Iran merupakan kepala pemerintahan dan agama tertinggi di Republik Islam Iran. Berbeda dengan Presiden yang hanya memiliki masa jabatan selama empat tahun, Pemimpin Tertinggi Iran memiliki masa jabatan seumur hidup atau dapat mengundurkan diri secara sukarela.

Berdasarkan pasal 110 Konstitusi, Pemimpin Tertinggi Iran memiliki 11 tugas dan wewenang, termasuk:

  • Menjelaskan secara rinci kebijakan umum Republik Islam Iran.
  • Mengawasi pelaksanaan kebijakan umum sistem dengan benar.
  • Menerbitkan dekrit untuk referendum nasional.
  • Mengambil alih komando tertinggi angkatan bersenjata.
  • Menyatakan perang dan damai serta memobilisasi angkatan bersenjata.
  • Mengangkat, memberhentikan, dan menerima pengunduran diri berbagai pejabat.
  • Menyelesaikan perbedaan antara tiga cabang pemerintahan dan mengatur hubungan di antara mereka.
  • Menyelesaikan masalah sistem yang tidak dapat diatasi dengan metode konvensional.
  • Menandatangani dekrit yang meresmikan pemilihan Presiden Republik oleh rakyat.
  • Memberhentikan Presiden Republik, dengan mempertimbangkan kepentingan negara, setelah Mahkamah Agung menyatakan beliau bersalah karena melanggar kewajiban konstitusionalnya, atau setelah pemungutan suara oleh Majelis Permusyawaratan Islam.
  • Memberikan pengampunan atau pengurangan hukuman kepada terpidana dalam kerangka kriteria Islam.

Pemimpin Tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Pakar, yang memiliki kekuasaan untuk memberhentikan Pemimpin Tertinggi.

Sejarah Pemimpin Tertinggi Iran

Sejak berdirinya Republik Islam Iran pada tahun 1979, hanya ada dua Pemimpin Tertinggi, yakni Ayatullah Khomeini yang menjadi pemimpin dalam Revolusi Iran 1979, serta Ayatollah Ali Khamenei yang menjabat sejak tahun 1989 hingga 2026 sebelum akhirnya wafat. Kehadiran Khamenei selama hampir 37 tahun memberikan stabilitas politik yang signifikan bagi Iran. Kematian beliau membuka era baru dalam sejarah politik negara tersebut.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *