Penemuan Jenazah di Tugu Makam Tua yang Menyimpan Rahasia
Di Desa Aek Nauli, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, pintu besi makam tua masih dipasang garis kuning polisi saat disambangi oleh Tribun Medan pada Minggu (08/03/2026) petang. Garis tersebut terpasang tepat di gerbang besi sebuah tugu makam kosong yang dikelilingi ladang jagung. Tempat itu tampak sunyi dan terkesan angker. Di sekelilingnya tumbuh semak belukar, membuat bangunan makam tua tersebut terlihat seperti tugu yang lama terbengkalai.
Dari lokasi inilah penelusuran dimulai. Jejak sebuah peristiwa keji dan menyayat, yang berujung pada terbongkarnya dugaan pembunuhan terhadap Nuriati Sinurat (32). Polisi menetapkan Mardin Sinurat sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
Dugaan pembunuhan itu diperkirakan terjadi sekitar tiga bulan sebelum jasad Nuriati akhirnya ditemukan di dalam tugu makam tua tersebut. Jarak antara rumah korban dengan makam itu diperkirakan sekitar dua kilometer. Dari lokasi makam sendiri, terdapat satu rumah warga yang berjarak tak lebih dari 100 meter dan dikelilingi ladang jagung.
Saat menyambangi rumah korban, wawancara tidak mudah dilakukan. Ayah korban, Pandar Sinurat (60), ternyata seorang penyandang bisu. Ia hanya menyambut kedatangan Tribun Medan dengan senyuman dan bahasa isyarat. Pandar tinggal di sebuah rumah papan tua berwarna kecoklatan dan mulai melapuk yang terlihat usang dimakan usia. Di dinding rumah itu tertulis sebuah papan bertuliskan “Keluarga Penerima BLT Desa Kemiskinan Ekstrim 2023 Desa Aek Nauli.” Di rumah sederhana itulah Pandar kini menjalani hari-harinya, merenungi kepergian putrinya yang belakangan terkungkap diduga kuat dibunuh yang masih semarga dan berasal dari kampung yang sama, yakni Mardin Sinurat.
Mardin Sinurat sendiri diketahui ayah dari 4 anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Tak jauh dari rumah tersebut, Nuriati Sinurat kini dimakamkan setelah jasadnya ditemukan. Pandar hanya menunjuk ke arah belakang rumah yang ditumbuhi jagung nyaris layu karena kemarau di Samosir, lalu memberi isyarat. “Di belakang itulah Nuriati sekarang dimakamkan,” ujarnya melalui bahasa isyarat.
Karena kesulitan memahami bahasa isyarat, Tribun Medan kemudian bergeser ke rumah tetangganya yang ternyata adalah adik kandung Pandar. Lalu berbincang dengan keluarga terdekat korban. Salah satunya Silvia Sinurat (20), keponakan Pandar, yang merupakan putri dari adik kandung Pandar Sinurat.
Bagi keluarga, kasus ini bukan sekadar pembunuhan biasa. Mereka merasa ada sisi kejam yang menyisakan luka mendalam. Silvia bercerita, sejak tamat SMA kondisi mental Nurhayati mulai menurun. Ia sering mengalami perubahan perilaku, bahkan kerap mengamuk ketika bulan purnama. “Kalau bulan purnama, kakak kami sering beringas meski sehari-hari baik kepada saya. Kadang memukul dinding rumah dengan tangan sampai luka. Dia juga sering bernyanyi dan berteriak-teriak. Orang kampung bilang mungkin seperti diguna-guna,” ujar Silvia dengan wajah prihatin.
Kondisi itu kata Silvia membuat keluarga semakin terpukul. Mereka tidak menyangka Nuriati, yang belakangan mengalami gangguan mental, justru menjadi korban pembunuhan. Apalagi kondisi keluarga mereka juga tidak mudah. Ayah korban merupakan seorang penyandang bisu dan sejak istrinya meninggal pada 2021 lalu, kondisinya disebut mulai sering linglung. Di rumah itu mereka tinggal bertiga bersama seorang saudara laki-laki. Nuriati sendiri merupakan anak kedua dari empat bersaudara.
Silvia mengatakan, keluarga tidak memiliki hubungan khusus dengan pelaku selain hanya memiliki marga yang sama. Karena itu mereka sempat tidak percaya ketika mengetahui pelakunya diduga Mardin Sinurat, yang masih sekampung. “Apalagi dia seperti orang yang pertama menemukan jenazah itu di dalam tugu. Padahal ternyata dia sendiri pelakunya,” kata Silvia mengisahkan gelagat Mardin.
Menurut Silvia, Nuriati sebenarnya lebih sering berada di rumah. Namun sebelum menghilang, ia memiliki seorang teman perempuan berinisial LS yang rumahnya berada dekat dengan rumah pelaku. LS kerap mengajak Nuriati bermain ke rumahnya, bahkan kadang sampai dua hingga tiga hari. Namun keluarga mengaku akan kesulitan jika Tribun Medan mencoba meminta keterangan dari LS. Sebab perempuan tersebut juga disebut mengalami keterbelakangan mental dan bahkan pernah mengalami kehamilan di luar nikah secara terpaksa oleh seseorang.
Saat Nurhayati dinyatakan hilang, keluarga sempat mencarinya ke berbagai tempat. Mereka bahkan mendatangi dukun di Kecamatan Ronggur ni Huta untuk meminta petunjuk agar Nurhayati bisa ditemukan. Kata Silvia lagi, logis dan fiksi pun mereka jadikan satu untuk mendapat petunjuk terbaik demi menemukan fakta di balik kematian Nurhayati, kakaknya.
Ada cerita yang paling menyentuh menurut Nurhayati, ketika jasad Nuriati akhirnya ditemukan setelah dinyatakan 3 bulan hilang, Pandar ayah korban menangis sejadi-jadinya. Awalnya ia tidak mengetahui bahwa jasad yang dibawa pulang adalah putrinya. “Kami hanya menyuruh bapak tua saya itu berpakaian rapi dan duduk di rumah. Dia heran. Setelah diberitahu bahwa yang dibawa pulang itu anak perempuannya, dia langsung menangis sejadi-jadinya,” Silvia berujar dengan diiringi setetes air mata.
Hingga kini, menurut Silvia, ayah korban bahkan belum diberitahu siapa pelaku yang telah ditangkap polisi. Keluarga khawatir kondisi mentalnya akan semakin terguncang, dan menimbulkan masalah baru seperti ledakan emosi. “Amang tua saya juga sudah sering linglung. Kasihan sekali kami,” ujarnya.
Setelah jasad Nuriati ditemukan pada Juli lalu, keluarga juga sempat melakukan ritual adat Batak di lokasi makam tua tersebut. Mereka melakukan ritual “manjou dan mengelek tondi” yakni memanggil jiwa dan arwah korban agar kembali ke kampungnya, karena tugu makam itu diyakini bukan tempat peristirahatan yang semestinya bagi Nurhayati, karena milik orang lain. “Mungkin setelah ritual itu dilakukan, kebenaran akhirnya mulai terbuka,” kata Silvia dengan nada sedih.
Pada awalnya keluarga sama sekali tidak mencurigai Mardin Sinurat. Namun seiring berjalannya waktu, ayah Silvia yang merupakan adik kandung Pandar Sinurat mulai merasakan kejanggalan. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin selama tiga bulan pelaku tidak mencium bau mayat dari dalam tugu tersebut, padahal ia beraktivitas di ladang jagung di sekeliling lokasi itu. “Seolah-olah dia yang pertama menemukan mayat itu, lalu menghubungi kepala desa dan memberi tahu keluarga. Padahal dialah pelakunya,” ujarnya.
Kecurigaan itu semakin kuat ketika keterangan pelaku berubah-ubah saat dimintai keterangan oleh polisi. Bahkan saat tim Laboratorium Forensik Polda Sumut turun ke lokasi dan menanyakan bagaimana ia pertama kali menemukan mayat tersebut, pelaku disebut tidak mampu menjelaskan secara jelas dan kadang lupa dan kadang keterangan berubah.
Keluarga berharap kasus ini dapat dibuka seterang-terangnya. Mereka bahkan menduga kemungkinan ada lebih dari satu pelaku dalam peristiwa tersebut.












