Direktur RSUD Nunukan Akui Utang Rp26 Miliar, Target Lunas Tahun Depan

RSUD Nunukan Hadapi Utang Besar, Tapi Optimis Bisa Selesaikan

RSUD Nunukan, sebuah rumah sakit umum daerah di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), kini sedang menghadapi tantangan keuangan yang cukup berat. Total utang yang dimiliki oleh rumah sakit tersebut mencapai sekitar Rp26,04 miliar. Angka ini berasal dari berbagai kebutuhan operasional seperti obat-obatan, bahan medis habis pakai, dan kebutuhan lainnya.

Direktur RSUD Nunukan, dr Andi Bau Tune Mangkau, menjelaskan bahwa pihaknya telah berhasil membayarkan sebagian besar utang tersebut. Hingga saat ini, sekitar Rp9,05 miliar sudah dibayarkan, sehingga sisa utang yang masih harus dibayar sebesar sekitar Rp16,98 miliar. Dengan peningkatan kunjungan pasien hingga sekitar 6.500 orang per bulan, manajemen rumah sakit optimistis bisa menyelesaikan sisa utang tersebut pada tahun depan.

Perbaikan Kondisi Keuangan RSUD Nunukan

Menurut dr Andi Bau Tune Mangkau, tren keuangan RSUD Nunukan saat ini menunjukkan perbaikan. Hal ini didorong oleh meningkatnya jumlah kunjungan pasien dalam beberapa waktu terakhir. Ia menjelaskan bahwa peningkatan kunjungan pasien menjadi salah satu cara utama untuk meningkatkan pendapatan rumah sakit.

“Tahun lalu kami berdiskusi dengan Bupati, salah satu cara menghasilkan pemasukan adalah meningkatkan pelayanan agar jumlah pasien meningkat,” ujar dr Andi Bau Tune Mangkau. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, dan RSUD Nunukan bahkan mampu menembus angka sekitar 6.500 kunjungan pasien per bulan.

Dengan meningkatnya pemasukan, rumah sakit mulai mencatatkan surplus anggaran yang kemudian digunakan untuk membayar utang kepada vendor dan rekanan. Utang tersebut diketahui telah menumpuk sejak tahun 2021 hingga 2024.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Nunukan

Perbaikan kondisi keuangan RSUD Nunukan juga tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Pemkab memberikan bantuan anggaran untuk membayar sejumlah kebutuhan rutin rumah sakit, seperti gaji pegawai, honorer tenaga non ASN, serta biaya listrik dan air bersih.

Menurut dr Andi Bau Tune Mangkau, keputusan memprioritaskan pembayaran kebutuhan rutin sangat membantu kondisi keuangan rumah sakit. “Waktu itu Bupati bertanya, apakah mau dibayarkan utangnya atau kebutuhan rutin. Kami pilih yang rutin dulu, karena itu yang paling membebani setiap bulan,” jelasnya.

Peningkatan Layanan Medis

Selain pembenahan keuangan, RSUD Nunukan juga bersiap meningkatkan layanan medis. Salah satunya dengan segera mengoperasikan layanan Catheterization Laboratory, yang dapat menangani pasien stroke, dan serangan jantung, melalui tindakan intervensi pembuluh darah. Saat ini peralatan sudah tersedia, dan dokter neurologi serta radiologi, telah memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan tersebut.

Pihak rumah sakit hanya menunggu dokter jantung, yang dijadwalkan mengikuti pelatihan khusus pada Juni mendatang. “Nantinya sudah bisa melakukan pemeriksaan pembuluh darah jantung hingga pemasangan ring,” katanya.

Persiapan Pembangunan Gedung Cytotoxic dan Paviliun

Tak hanya itu, RSUD Nunukan juga tengah mempersiapkan pembangunan gedung Cytotoxic untuk layanan kemoterapi bagi pasien kanker. Gedung tersebut direncanakan dibangun dengan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Ke depan, manajemen rumah sakit juga merencanakan pembangunan paviliun khusus bagi pasien non-BPJS dengan fasilitas yang lebih eksklusif. Langkah ini diharapkan dapat menjadi sumber pemasukan tambahan bagi rumah sakit. “Biasanya pasien datang bersama keluarga, jadi kami siapkan ruangan yang lebih nyaman dan fasilitas yang lebih baik,” pungkas dr Andi Bau Tune Mangkau.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *