Tidak Ingin Anggaran MBG Dipotong, Prabowo: Saya Pertaruhkan Kepemimpinan Saya

Presiden Prabowo Subianto Pertahankan Program Makan Bergizi Gratis

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan dipotong, meskipun pemerintah sedang melakukan efisiensi anggaran akibat dampak krisis energi global yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Prabowo menjelaskan alasan utamanya adalah kekhawatiran terhadap potensi korupsi jika anggaran MBG direlokasi. Ia mengatakan bahwa lebih baik uang tersebut digunakan untuk memastikan rakyat bisa makan daripada disalahgunakan.

Dalam diskusi bersama sejumlah pengamat dan jurnalis di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Prabowo menyampaikan pendirian tersebut. Ia mengatakan bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan program MBG.

“Saya akan bertahan sedapat mungkin (untuk menjalankan program MBG). Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan,” katanya dalam diskusi tersebut.

Alasan Prabowo Tetap Lanjutkan Program MBG

Prabowo juga menyampaikan bahwa ia tidak ingin melihat anak-anak Indonesia mengalami stunting akibat kurang gizi. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bahwa selama kampanye pilpres, ia melihat banyak anak usia 11 tahun dengan tubuh seperti anak empat tahun.

Ia merasa bahwa keputusannya ini adalah pilihan yang benar. Prabowo menegaskan bahwa tidak perlu adanya pemotongan anggaran MBG.

“Saya yakin di jalan yang benar. Uang kita ada. Saya pertaruhkan kepemimpinan saya,” tegasnya.

Efisiensi Anggaran Dilakukan pada Bidang Lain

Meski program MBG tetap dipertahankan, Prabowo mengatakan bahwa masih banyak pos anggaran lain yang bisa dipangkas di tengah krisis Timur Tengah. Ia menilai bahwa program MBG adalah investasi bagi sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

“Masih banyak penghematan lain yang bisa kita lakukan. Kita sudah exercise dan kita sudah lakukan penghematan di berbagai bidang,” tegasnya.

Program MBG dan Kopdes Merah Putih Tetap Terlindungi

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan bahwa program MBG tidak masuk dalam program yang terkena efisiensi anggaran. Selain MBG, ada pula program Prabowo lainnya yang tidak terkena pemangkasan anggaran, yakni Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

“Tidak (anggaran MBG dan Kopdes tidak akan dikurangi). Kita kan justru lebih memilih untuk mengurangi belanja-belanja yang menurut kita kurang produktif atau kurang berdampak,” tegas dia.

Prasetyo menjelaskan bahwa efisiensi dilakukan dalam rangka agar defisit APBN tidak melambung di atas tiga persen serta buntut adanya konflik di Timur Tengah.

Langkah Efisiensi di Berbagai Sektor

Dia mengungkapkan pemangkasan anggaran akan dilakukan terhadap belanja negara yang dinilai tidak mendesak. Contohnya, perjalanan dinas, terutama perjalanan dinas luar negeri, akan terus diperketat.

“Contoh perjalanan dinas, perjalanan dinas luar negeri. Itu terus kami perketat,” ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawalan Program Strategis Presiden Prabowo Subianto di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta, Rabu (18/3/2026).

Prasetyo menjelaskan pertimbangan relokasi anggaran tidak hanya terkait konflik Iran dengan AS dan Israel. “Itu (konflik Iran dengan AS dan Israel), kebetulan ya, kita tadinya tidak menduga akan ada perang atau ada eskalasi,” tegasnya.

Penjelasan dari Menteri Koordinator Perekonomian

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dia mengatakan efisiensi anggaran tidak menyentuh program prioritas yang sudah ditetapkan.

“Program unggulan tidak ada yang diubah. Semua tetap berjalan karena itu investasi jangka panjang,” ujar Airlangga di kantornya, Senin (16/3/2026).

Menurutnya, langkah efisiensi yang sedang dihitung pemerintah bisa beragam dari berbagai pos belanja kementerian dan lembaga.

“Sedangkan efisiensi itu bisa macam-macam bisa dari belanja jasa, belanja perjalanan dinas, belanja aparatur, belanja peralatan,” tuturnya.

Work From Home sebagai Langkah Efisiensi

Kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai swasta akan dimulai setelah Lebaran sebagai langkah efisiensi yang diambil pemerintah.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan WFH ini dibahas dalam rapat dengan Presiden di Istana Negara, Kamis (19/3/2026). WFH rencananya diterapkan satu hari dalam lima hari kerja.

Kepastian waktunya akan diputuskan lebih lanjut setelah konsep teknis rampung.

“Pasca-Lebaran, tapi nanti kita akan tentukan kapan waktunya,” ucap Airlangga usai rapat dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Airlangga mengatakan kebijakan WFH bagi ASN hingga pekerja swasta ini digodok demi penghematan akibat tingginya harga minyak dunia.

“Dengan tingginya harga minyak, maka perlu efisiensi daripada waktu kerja di mana akan dibuka fleksibilitas untuk work from home. Dalam satu hari dalam 5 hari kerja,” ucapnya.

Dia memastikan teknis kebijakan WFH ASN dan pegawai swasta ini akan diumumkan ke publik usai semua persiapan dimatangkan.

“Nah itu teknisnya sedang akan disiapkan, karena ini diharapkan juga tidak hanya ASN tetapi juga swasta dan juga pemda-pemda,” tuturnya.

Dari perkiraannya, kebijakan ini setidaknya dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan.

“Karena itu ada penghematan dari segi, penggunaan mobilitas dari bensin, penghematannya cukup signifikan seperlima, seperlima dari apa yang biasa kita keluarkan,” kata dia.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *